Lamongan (beritajatim.com) – Saat Ramadan seperti ini, keberadaan pasar dadakan yang menjual beragam takjil atau menu buka puasa kerap kita temukan di sejumlah sudut kota. Namun, lain halnya dengan pasar dadakan yang berada di kawasan sekitar Pondok Pesantren Sunan Drajat Paciran ini.
Setiap menjelang waktu buka puasa, puluhan lapak penjual takjil yang memadati kawasan blok Masjid Jami Jelaq, Banjaranyar, Desa Banjarwati, Paciran ini selalu diserbu oleh ribuan santri dan warga setempat sejak hari pertama puasa.
[berita-terkait number=”5″ tag=”takjil”]
Puluhan penjual yang menjajakan berbagai macam minuman dan kudapan siap santap untuk buka puasa ini selalu laris manis tiap harinya. Mulai dari es, kolak, kue, lauk pauk, dan jajanan lainnya ludes diburu para pembeli.
Diketahui, ribuan santri tersebut adalah para santri dari Pondok Pesantren Sunan Drajat. Mereka memadati kawasan yang merupakan jalur utama menuju pondok ini selepas mengikuti pengajian Ramadan yang diampu oleh Dr. KH. Abdul Ghofur, setiap sorenya di Masjid Jelaq.
Menurut salah satu penjual roti bakar dan agar-agar bernama Suyanto menyampaikan, bulan suci Ramadan ini membawa keberkahan tersendiri bagi dirinya. Karena barang dagangannya selalu laris terjual diserbu pembeli.
“Alhamdulillah, setiap hari jualan saya selalu laris. Kalau jam segini memang belum terlalu padat, tapi jika pukul 17.00 WIB, tiap pengajian selesai mesti jalan ini buntu, dipenuhi santri,” ujar Suyanto, saat ditemui di lokasi, Senin (11/6/2022).
Hal senada juga disampaikan oleh Nova, salah satu penjual kudapan ringan dan kolak asal Paciran. Menurutnya, meski banyak penjual yang menawarkan berbagai jenis makanan yang beraneka ragam, namun semuanya ludes diburu para pembeli.
“Kalau dibandingkan dengan hari-hari biasa, perolehan yang saya dapatkan meningkat banyak. Semuanya ramai mas, tak hanya saya, pedagang yang lain juga sama,” ungkap perempuan yang mengaku telah 8 tahun menjual takjil.
Lebih lanjut, Nova menuturkan, para pedagang di kawasan ini sudah menempati dan mempersiapkan dagangannya sejak asar. “Setiap hari lapak penjual di sini harus membayar uang Rp 5 ribu kepada pengelola setempat sebagai ganti kebersihan lingkungan,” imbuhnya.
Di sisi lain, dengan beraneka macam makanan dan minuman yang dijajakan, masyarakat pun merasa terbantu memilih makanan yang ingin disantap bila waktu berbuka puasa. Terlebih lagi, bagi seorang pekerja yang tidak sempat memasak sendiri.
“Saya baru pulang kerja dan singgah beli buat menu buka puasa. Ya, terbantu sekali, di sini banyak macamnya, mau makan apa semuanya sudah tersedia. Enggak papa berdesakan, yang penting kita dapat apa yang diinginkan,” ucap Shofi, salah satu pembeli. [riq/suf]






