Ponorogo (beritajatim.com) – Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko pernah mengumumkan Reog menjadi urutan kedua dalam pengusulan warisan budaya tak benda ke Unesco. Sugiri juga bilang bahwa dalam situasi pandemi, Reog terancam punah, karena tidak bisa manggung.
Ternyata pernyataan tersebut bukan isapan jempol belaka. Melihat fakta di lapangan, potensi punah itu ada, jika pandemi Covid-19 ini tidak kunjung berakhir. Tidak adanya pementasan Reog Ponorogo, sangat berpotensi untuk menyumbat perekonomian. Sebab, ada turunan ekonomi dari pementasan tersebut. Mulai dari perajin gamelan dan perlengkapan Reog, senimannya, hingga pelaku UMKM ketika Reog manggung.
Perajin Reog Ponorogo adalah salah satu yang paling terpukul adanya pandemi Covid-19. Itu karena tidak adanya pementasan Reog. Omzet mereka terjun bebas. Meskipun begitu, masih ada saja perajin yang hingga kini bertahan untuk berjualan perlengkapan Reog Ponorogo.
“Penjualan sovenir, aksesoris bahkan hingga peralatan kesenian Reog, sedikit banyak dipengaruhi pada ada atau tidak pertunjukan (Reog Ponorogo),” kata Widi Wardoyo, salah satu perajin berasal dari Kelurahan Keniten Ponorogo, Minggu (10/4/2022).
Pak Widi, sapaan akrabnya, mengaku bahwa sejak pandemi Covid-19 berlangsung kurang lebih 2 tahun, Ia hanya bisa menjual satu dadak merak (topeng yang dipakai dalam tarian reog), pesanan dari Palembang. Padahal sebelum pandemi, penjualan selalu stabil. Bahkan saat di Ponorogo ada pentas seni, Festival Reog ataupun Grebeg Suro, penjualan di lapaknya selalu laris manis. “Pandemi Covid-19 bisa dikatakan petaka, Reog tidak boleh pentas, berimbas pada omzet saya juga menurun,” ungkapnya.
Widi menggeluti usaha kerajinan dan penjualan souvenir ini sejak 25 tahun lalu. Adanya pandemi 2 tahun terakhir, menyebabkan omzetnya turun hingga 70 persen. Kebanyakan yang membali ialah wisawatan domestik jika berkunjung ke Ponorogo. Mereka mulai membeli baju penadon hingga perlengkapan Reog lainnya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”reog-ponorogo”]
“Orang Ponorogo yang mau merantau itu biasanya beli, apalagi kalau saat diperantauan ikut grup Reog, bisa dipastikan kalau pulang kampung pasti membeli,” katanya.
Meski sangat berdampak sekali, Widi dan perajin lainnya menegaskan tidak akan berpaling ke pekerjaan lain. Hal itu dikarenakan saking cintanya pada kesenian Reog Ponorogo, dan supaya masih bisa lestari. Harapan Widi hanya satu, pandemi Covid-19 segera hilang. Sehingga tidak ada pembatasan-pembatasan lagi dalam pagelaran kesenian Reog Ponorogo. Dengan begitu ekosistem ekonomi dari pertunjukan Reog ini berjalan kembali.
“Inginnya pandemi Covid-19 segera hilang, pembatasan-pembatasan segera dihapus, Reog bisa manggung seperti dulu. Kalau sudah begitu ekonomi dari sumbu pertunjukan Reog akan menggeliat kembali dengan normal,” pungkas Widi. [end/suf]






