Bojonegoro (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro melalui Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Cipta Karya Kabupaten Bojonegoro akan membangun Taman Bengawan Solo (TBS) yang ada di utara Pasar Kota menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH).
Dampak pembangunan tersebut, sebelumnya sudah menggusur puluhan pedagang yang berjualan di sepanjang bantaran Sungai Bengawan Solo. Kini, giliran akses tambangan penyeberangan yang menghubungkan Desa Banjarsari Kecamatan Trucuk dengan Kota Bojonegoro.
Tambangan penyeberangan tersebut merupakan salah satu akse alternatif bagi warga. Setelah ditutup sehingga mengganggu mobilitas warga, termasuk para pelajar. Setelah adanya protes dari warga yang biasa menggunakan jasa penyeberangan Sungai Bengawan Solo itu, Pemerintah Desa (Pemdes) Banjarsari mencarikan solusi jangka pendek bagi warga.
[berita-terkait number=”5″ tag=”bengawan-solo”]
“Hasil audiensi dengan warga ditemukan solusi jangka pendek dengan cara pengalihan akses penyeberangan Banjarsari dengan wilayah Kota yang semula di Banjarejo bergeser ke Kelurahan Ledok Wetan yang tidak masuk wilayah yang akan dibangun RTH,” ujar Kepala Desa Banjarsari, Fatkhul Huda.
Solusi jangka pendek tersebut diharapkan bisa ditermia oleh semua pihak. Baik masyarakat maupun Pemkab Bojonegoro. “Respon perwakilan masyarakat bisa menerima, yang terpenting anak-anak sekolah tidak terhalang karena akses tambangan ini merupakan akses utama,” pungkasnya.
Salah seorang Warga Desa Banjarsari Alinda mengaku, dampak penutupan akses perahu tambangan penyeberangan Banjarsari tersebut akses ke kota lebih jauh. Karena harus menempuh perjalanan memutar dan melewati Jembatan Kalikethek.
“Sekarang muter lewat Jembatan Kalikethek dan lebih jauh. Baru ditutup tadi pagi. Sebelumnya sudah ada imbauan tetapi masyarakat tidak setuju,” ungkapnya.
Masih menurut Alinda, apabila tambangan Banjarsari ditutup resikonya warga sekitar termasuk anak sekolah harus muter jauh melewati Jalan utama Kaliketek. “Kalau ditutup resikonya juga muter jauh, apalagi anak-anak sekolah ini harus berjalan kaki ketika hendak ke sekolah. Keterbatasan akses juga,” ucapnya. [lus/kun]







