Mojokerto (beritajatim.com) – Pesanan rebana (bahasa Jawa : terbang) di Mojokerto tidak berpengaruh meski pandemi Covid-19 tengah mendera. Salah satu pengrajin rebana di Mojokerto yakni Ali Rusman (27) warga Desa Brangkal Gg 8 Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.
Generasi keempat ini mengaku, memulai bisnis turun temurun dari sang buyut, Nur Ali sejak tiga tahun lalu. “Saya generasi keempat, dari ayah, ayah dari kakek dan kakek dari buyut. Saya mulai setahun sebelum pandemi, tahun 2019. Hanya saya yang meneruskan,” ungkapnya, Rabu (6/4/2022).
Menurutnya, pandemi tidak berpengaruh pada pesanan rebana di tempatnya. Ini lantaran ia tidak menerima pesanan dalam jumlah banyak, ia membatasi jumlah pesanan lantaran belajar dari pengalaman sang ayah. Ayahnya pernah menerima pesanan dalam jumlah banyak namun tidak diambil oleh pemesan.
“Bukan fiktif, karena memang ada DP. Cuma DP nya dibawah. Pesanan banyak, saat jadi tidak diambil. Dari sini, saya membatasi jumlah pesanan sehingga pandemi tidak berpengaruh. Dalam setiap bulan, saya hanya menerima pesanan 20 lebih rebana. Kalau ramai itu bulan Rajab sampai setelah Hari Raya Idul Adha,” katanya.
Menurutnya, jumlah pesanan rebana di bulan Ramadan tahun ini sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Meski kondisi pandemi, jumlah pesanan masih sama, tidak berpengaruh. Pesanan rebana datang selain dari Mojokerto, juga Jombang, Sidoarjo dan Surabaya.
“Untuk bahan, kwalitas kayu yang bagus agak sulit makanya di sini pakai kayu nangka dan mangan. Tapi nangka lebih bagus karena menghasilkan suara yang bagus. Untuk kulit, kita ambil dari pengepul atau warung sate di sekitar Mojokerto. Kambing Jawa yang betina karena kwalitas kulitnya bagus dan kuat,” ujarnya.
Rebana buatannya bisa tahan 3 sampai 5 tahun, tergantung pemakaian. Menurutnya, bahan kayu tersebut merupakan bahan jadi yang ia terima dari pengrajin di Blitar dan Jombang. Di tempatnya untuk pengerjaan atau pemasangan kulit dan penyetelan untuk menghasilkan suara bagus.
“Di sini terima pesanan bedug dan rebana, tapi yang ramai pesanan rebana. Ramainya ya pas, Idul Adha dan ada moment. Tukang proses ada 2 orang, tukang mulai awal pengerjaan ada 2 orang. Jumlah karyawan tetap ya 2 orang, tidak ada pengurangan saat pandemi,” tuturnya.
Untuk harga, lanjut Ali, Rebana Banjari Rp250 ribu, Rebana Hadra Rp225 ribu dan Jidor Rp210 ribu. Untuk bedug terbesar di tempatnya yakni diameter 120 cm seharga Rp13 juta. Selain menerima pesanan rebana dan bedug, ia juga menerima servis rebana atau ganti kulit.
“Untuk servis rebana Rp110 ribu. Kalau untuk pemesanan rebana tergantung kebutuhan, kalau butuh satu set atau satuan juga bisa. Tapi kebanyakan yang datang ke sini, pesanan rebana yang satu-an,” pungkasnya. [tin/ted]







