Surabaya (beritajatim.com) – Hari Bipolar sedunia diperingati pada setiap tanggal 30 Maret. Hari tersebut merupakan inisiatif dari International Society for Bipolar Disorders (ISBD) yang berkolaborasi dengan International Bipolar Foundation (IBPF) dan Asian Network of Bipolar Disorders (ANBD).
Tujuannya adalah untuk mengedukasi dan menyebarkan informasi tentang gangguan bipolar ini terhadap masyarakat awam. Tak hanya melalui komunitas, namun banyak pula artis yang ikut mengkampanyekan awareness tentang gangguan ini, bahkan mereka sendiri merupakan salah satu penderitanya. Seperti Mariah Carey, Demi Lovato, Lady Gaga, atau Angelina Jolie.
Lalu sebenarnya apa sih gangguan bipolar itu? Mari kita kupas tuntas dengan pembahasan berikut.
Bisa disebut juga dengan manik depresif, gangguan bipolar adalah gangguan mental yang menyebabkan perubahan suasana hati, energi, konsentrasi, atau bahkan kemampuan untuk berkegiatan sehari-hari.
Para penderita biasanya akan memiliki periode waktu yang berbeda, yakni saat sedang gembira dan bersemangat hingga menjadi sedih dan putus asa. Eits, bipolar ini tidak sama dengan mood swing loh ya!
Bagi kalian yang biasanya merasa senang lalu tiba-tiba, jangan langsung mendiagnosa diri sendiri dengan gangguan bipolar. Gangguan ini bukanlah penyakit yang sederhana sehingga butuh para ahli untuk bisa mendeteksinya.
Gejala
Seperit yang disebutkan sebelumnya, para penderita bipolar ini memiliki dua fase, yakni fase mania (naik) dan fase depresi (turun). Dua fase ini seolah menunjukkan kepribadian yang berbanding terbalik dari penderita.
Umumnya pengidap gangguan ini akan terlihat bersemangat, enerjik, senang berbicara pada fase mania. Namun suasana hatinya bisa berubah dengan drastis saat memasuki fase depresi, di mana ia merasa putus asa dan sedih berlarut-larut.
Kompleksnya lagi, ada pengidap yang mengalami keadaan normal ketika dalam masa transisi dari mania ke depresi. Namun ada juga tetap penuh energi dan di saat bersamaan mengalami depresi.
Selain itu, pada fase mania, pengidap juga menunjukkan beberapa gejala seperti gelisah, tak bisa tidur, kehilangan nafsu makan, merasa pikirannya terus berpacu dengan cepat, ingin melakukan banyak hal dalam satu waktu, atau melakukan hal-hal yang berisiko.
Begitupula dengan fase depresi, pengidap akan menunjukkan gejala yang berbeda, bisa mengalami insomnia atau mungkin malah terlalu banyak tidur, khawatir, tidak berminat untuk melakukan aktivitas, sulit berkonsentrasi, hingga muncul pikiran tentang bunuh diri.
Pengobatan
Biasanya, setelah benar didagnosa mengidap gangguan bipolar, dokter akan melakukan penanganan psikoterapi serta pemberian obat-obatan. Meski tidak akan menghilangkan secara seluruhnya, namun penanganan ini akan mengurangi munculnya frekuensi munculnya gejala. Sehingga penderita bisa menjalankan aktivitas seperti biasa dan mencegah timbulnya gangguan kesehatan lainnya.
Itulah mengapa gangguan mental bipolar atau gangguan mental apapun tak boleh diremehkan. Tak ada salahnya untuk memeriksakan diri jika merasa ada yang salah pada diri kalian. Hapuskan stigma masyarakat bahwa pergi ke psikolog, psikiater, atau spesialis kejiawaan berarti kalian adalah orang gila.
Jika kalian memang mengalami gangguan mental, terima hal tersebut, pergi mencari pertolongan yang tepat, dan lalui semua seperti orang normal pada umumnya. (mnd/ian)






