Mojokerto (beritajatim.com) – Pendidikan karakter bagi anak-anak menjadi perhatian besar Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari. Seiring dengan pembangunan Kota Mojokerto sebagai Kota Pariwisata yang berbasis sejarah dan budaya, Elingpiade (Eling Permainan Dewe) menjadi Program Kearifan Lokal Kota Mojokerto.
Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari mengatakan, adanya permainan tradisional di sekolah selain melestarikan budaya, juga untuk mengurangi dampak pemakaian gadget pada anak-anak. “Permainan tradisional memang tidak masuk di dalam kurikulum pendidikan,” ungkapnya, Selasa (29/3/2022).
Namun untuk masalah pendidikan, lanjut Ning Ita (sapaan akrab, red), harus bersinergi dengan melakukan upaya yang berkelanjutan. Salah satunya adalah melalui Elingpiade. Penerapan Pendidikan Kearifan Lokal dilaksanakan sejak Senin, (28/3/2022) mulai PAUD/TK, SD dan SMP Negeri maupun swasta se-Kota Mojokerto.
Secara terpisah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Kota Mojokerto, Amin Wachid menjelaskan, program tersebut merupakan gagasan Wali Kota untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila sebagai penguatan pendidikan karakter ini dilaksanakan setiap jam istirahat. Yakni, pukul 08.40 WIB sampai pukul 09.10 WIB.
“Yakni dengan diselingi pemutaran sound Gending Jawa atau lagu Dolanan. Pendidikan berbasis budaya lokal ini sudah dituangkan dalam surat nomor:420/1146/417.501/ 2022 Dinas P dan K Kota Mojokerto bersama empat implementasi program lainnya pada Jumat, 25 Maret kemarin,” ucapnya.
Amin menambahkan, implementasi pendidikan karakter tidak hanya ditujukan kepada para siswa tetapi juga ada pada kewajiban kepala sekolah dan para guru dalam menyambut peserta didik ketika di berada di gerbang sekolah. Mulai dengan melakukan senyum, sapa, salam, maaf, dan terima kasih.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pemkot-mojokerto”]
“Untuk pendidikan karakter juga diterapkan literasi rohani setiap agama selama 15 menit sebelum memulai pembelajaran pada pukul 06.45 WIB. Tak hanya itu, program Peningkatan Iman dan Takwa di Sekolah (NING ITA Di Sekolah) akan dilaksanakan dua kali dalam sepekan,” tuturnya.
Yakni, tegas Amin, di hari Kamis dan Jumat pada jam terakhir pembelajaran baik sekolah negeri maupun swasta. Menurutnya, hal tersebut akan menjadi penguatan kemampuan dasar keagamaan peserta didik sesuai agamanya masing-masing. [tin/but]






