Sidoarjo (beritajatim.com) – Pendidikan karakter, akhlak dan adab sangat penting diberikan kepada peserta didik di usia anak-anak. Pendidikan karakter itu berguna untuk membangun karakter setiap individu sehingga dapat menjadi individu yang bisa memiliki manfaat untuk dirinya sendiri dan juga lingkungan sekitarnya.
Pernyataan itu disampaikan oleh Rois Syuriah PCNU Kab Sidoarjo KHR Abdussalam Mujib Abbas. “Pendidikan karakter, akhlak dan adab itu sangat penting diberikan kepada anak-anak,” katanya di sela-sela cara haul dan haflah di Pondok Pesantren Roudlotul Ulum Al Khoziny Desa Kesambi Kec. Porong Kamis (24/3/2022).
KHR Abdussalam menambahkan, pentingnya menanamkan nilai-nilai karakter tertentu pada setiap peserta didik agar ada kemauan atau kesadaran, serta tindakan untuk melakukan nilai positif. “Pendidikan karakter tujuannya adalah untuk melatih dan membentuk kemampuan setiap individu secara terus menerus agar kearah hidup yang lebih baik,” urainya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”pondok-pesantren”]
Selain itu lanjut pengasuh Lembaga Pesantren Al Khoziny Buduran itu, pendidik akhlak juga harus diberikan kepada anak-anak didik. Bahwasannya agama Islam itu agama yang berbudi. “Sedang berakhlak itu adalah melaksanakan syariat yang ditetapkan dalam agama Islam,” sebutnya.
Selain akhlak, adab juga harus ditanamkan kepada anak-anak didik. Karena adab itu akan membawa individu manusia pada kesopanan, keramahan, dan kehalusan budi pekerti, menempatkan sesuatu pada tempatnya. “Adab itu mendisiplinkan jiwa dan fikiran,” imbuhnya.
KH. Moch Syafii Kurdi Pengasuh Ponpes Roudlotul Ulum Al Khoziny menuturkan, lembaga pendidikan yang diasuhnya, selain bidang agama juga memberikan pendidikan entrepreneur.
“Pendidikan agama di sini, mengaji kitab suci Alquran, kitab kuning, santri juga di didik dalam masalah keahlian, wirausaha dan lainnya. Jadi santri Roudlotul Ulum Al Khoziny ini selain dituntut menguasai ilmu agama, juga memiliki keahlian selepas lulus dari pondok pesantren,” sebutnya.
Gus Syafii, begitu kyai muda itu dipanggil, dirinya masih terus mengingat pesan KHR Abdusalam Mujib saat mondok di Al Khoziny Buduran, santri harus bisa menjadi seperti paku.
Rumah tak bisa berdiri secara kokoh tanpa paku, kehadirannya bisa merekatkan kayu, mulai dari yang membujur dan melintang, semua disatukan oleh paku. “Begitu juga dengan santri. Dimanapun berada, harus bisa menyatukan berbagai lapisan masyarakat,” sebutnya mengutip pesan KHR Abdussalam dari pesan gurunya, KH Abd Aziz Manshur (alm) Jombang.
Masih menurut alumni STAI Al Khoziny Buduran itu, keberadaan pesantrennya dulu ada di Desa Mindi Kec. Porong. Karena adanya luapan lumpur, pesantrennya terkena dampak dan ganti rugi yang didapatkannya dibuat untuk mendirikan pesantren lagi di Desa Kesambi Porong.
“Alhamdulillah sekarang bisa mendirikan pondok pesantren lagi di Kesambi Porong dan lengkap dengan Gedung BLK. Disini mendidik anak-anak sampai santri dewasa. Ya harus bisa tetap menjadi paku di tempat baru ini,” pungkasnya berharap. (isa/kun)







