Sidoarjo (beritajatim.com) – Tepatnya Hari Sabtu Tanggal 19 Maret 2022 pukul 12.30 Wib di SDN Kebonagung 1 Porong Sidoarjo diadakan kegiatan ekstrakurikuler seni karawitan Jawa. Kegiatan tersebut rutin diadakan setiap minggu sekali pada hari Sabtu.
Sudah hampir 8 tahun berjalan sampai sekarang yaitu mulai pada tahun 2014 sampai dengan tahun 2022. Saat itu kepala sekolah masih dijabat oleh Ibu Rudi Harti. Sekarang dia sudah pensiun dan digantikan oleh Ibu Nuning (Kepala SDN Kebonagung 1 sekarang, dan sebelumnya menjabat kepala SDN Kebonagung 2 Porong Sidoarjo).

Setiap berganti tahun, generasi penerus karawitan tidak pernah habis, malah bertambah pesertanya. Pelatih karawitan yang sekaligus menjabat Ketua Komite Seni Tradisi Dewan Kesenian Sidoarjo Murlan berpandangan bahwa seni karawitan di Jawa Timur khususnya Sidoarjo tidak akan pernah mati meskipun jaman semakin canggih.
“Sejak dikukuhkan Gamelan sebagai warisan tak benda oleh UNESCO, Gamelan di Jawa Timur semakin menggila keberadaanya. Hampir di setiap instansi pendidikan di Sidoarjo sudah memiliki gamelan sendiri baik SD,SMP maupun SMA. Semakin hari gamelan sudah dikenal baik oleh masyarakat Sidoarjo,” kata Murlan.
Kecintaan terhadap gamelan ini ditunjukan oleh Salsabila, Naysilla, Vania, Friska, Fitri, Sofi, Laura, Chalista dan beberapa siswa lain. Mereka adalah siswa-siswi dari SDN Kebonagung 1 Porong Sidoarjo yang tergabung dalam paguyuban Laras Sekar Agung.
[berita-terkait number=”4″ tag=”karawitan”]
Setiap hari Sabtu tidak akan pernah luput dari pikirannya. Selalu datang untuk mengikuti latian. Bu Nuning selaku kepala sekolah selalu mendukung kegiatan tersebut, Bapak Adi sebagai pembina juga memberikan layanan terbaik demi siswa-siswinya. Begitu juga dengan guru-guru juga terkadang mengikuti latian karawitan, bergantian dengan siswa-siswinya.
”Thuk nong thuk pul thuk gong”, suara gamelan nan lembut menghiasi langit sekolah. Suara itu bagaikan suara hembusan angin yang sangat pelan sekali seakan tidak menggoyang dedaunan yang ada di sekitarnya.
“Siapapun yang mendengarkan alunan gending gamelan, dia akan hanyut menikmatinya. Setiap gamelan memiliki roh, roh ini adalah jiwa,” kata Murlan. [but]







