Bojonegoro (beritajatim.com) – Umat Islam yang hidup dalam kebudayaan Jawa menyambut bulan Ramadan dengan tradisi kupatan. Kupatan dilakukan dua minggu menjelang puasa Ramadan, atau tepatnya malam Nisfu Sya’ban, Kamis (17/3/2022).
Beberapa hari ini mulai banyak penjual janur hingga ketupat sudah jadi. Tradisi ketupat malam Nisfu Sya’ban menjadi simbol ungkapan maaf masyarakat kepada Sang Pencipta maupun sesama. Sekaligus tradisi agar bisa menjalankan ibadah puasa dengan khusyuk.
Budayawan Bojonegoro Suyanto mengatakan, ketupat atau dalam Bahasa Jawa kupat berarti ngaku lepat atau mengakui kesalahan. Tradisi kupatan menjelang Ramadan merupakan simbol ungkapan maaf. “Biasanya kupatan dilakukan dua minggu sebelum bulan puasa,” ungkapnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”ramadan-2022″]
Yanto sapaanya menjelaskan, tradisi kupatan hanya ada di masyarakat Jawa, keturunan Jawa, maupun dearah dengan pengaruh Jawa. Sedangkan, di wilayah lain tidak semua ada. “Masyarakat Jawa suka menyimbolkan sesuatu dengan bentuk,” jelasnya.
Sementara Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bojonegoro KH Alamul Huda meminta masyarakat menyambut Ramadan dengan penuh gembira. Pengasuh Pondok Pesantren Ar Rosyid itu juga berharap agar masyarakat hendaknya menjauhi maksiat. ‘’Mari bulan Ramadan diisi amal-amal saleh,’’ ujarnya. [lus/ted]






