Jember (beritajatim.com) – Ardi Pujo Prabowo, legislator Komisi D DPRD Jember, Jawa Timur, minta agar Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) menegur keras pengurus lima cabang olahraga, yakni cabor muay thai, kick boxing, anggar, futsal, dan aeromodeling.
Pengurus lima cabang olahraga itu belum menyetorkan nama atlet dan jumlah target medali untuk dipetakan KONI dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur. “Atlet ini betul-betul harus kita manusiakan, harus kita prioritaskan, karena membawa marwah kabupaten kita. Mohon kiranya lima cabor ini diberi teguran keras. Mereka harus segera mengirimkan nama atlet,” kata Ardi.
Menurut Ardi, Jember akan menjadi tuan rumah cabor kick boxing dalam Porprov Jatim. “Seharusnya kalau tuan rumah, harus jadi atlet (cabor) unggulan, tapi malah belum memasukkan data atlet. Mohon ini diwarning, diberi surat tegas,” katanya.
Jember menjadi tuan rumah bagi penyelenggaraan pertandingan 18 cabor. “Kami ingin 18 cabor itu menjadi cabor unggulan, karena kita tuan rumah. Apalagi pemerintah memperbolehkan penonton (menyaksikan even olahraga). Ini berarti suporter bisa mendukung atlet,” kata Ardi.
Ketua KONI Jember Sutikno mengatakan, akan menegur pengurus lima cabor tersebut. “Sebetulnya kemarin sudah ada yang disusulkan. Cuma mungkin belum masuk di data terbaru. Tapi yang belum melaporkan, kami akan panggil dan kasih peringatan keras,” katanya.
KONI Jember sendiri sudah menetapkan sepuluh cabor unggulan peraih medali dalam porprov mendatang. Tenis lapangan diunggulkan karena pada Porprov 2019 meraih tiga medali emas, perak, perunggu dan didasarkan pada hasil berbagai pertandingan yang diikuti atlet tenis Jember hingga saat ini.
Catur menjadi cabor unggulan berikutnya. Bola voli diunggulkan berdasarkan hasil turnamen dan sejumlah uji coba di wilayah barat Jawa Timur. “Itu jadi salah satu ukuran KONI,” kata Soetriono, Wakil Ketua Bidang Pembinaan Prestasi KONI Jember.
Tenis meja dan sepak bola menjadi cabor unggulan juga. Soetriono mengatakan, sepak bola wajib menjadi cabor unggulan. “Walaupun prestasinya tidak seberapa, tapi wajib jadi cabor unggulan, karena medali emasnya hanya satu dan pemainnya banyak. Itu pun (sepak bola) menjadi ikon di mana-mana,” kata Soetriono.
Cabor unggulan lainnya adalah drum band. “Ini luar biasa. Walau jarang berlomba, tapi Pak Tri Basuki (sebagai pembina drum band di Jember) adalah ‘ikon internasional’. Insya Allah (target) bisa tercapai 6-7 medali,” kata Soetriono.
“Kemudian karate. Di situ ada Pak Sudjatmiko, tokoh FORKI (Federasi Olahraga Karate Indonesia). Kemudian bridge, wushu yang sampai dengan level internasional, dan pencak silat,” kata Soetriono.
[berita-terkait number=”4″ tag=”dprd-jember”]
Menurut Soetriono, sepuluh cabor itu memiliki latar belakang kuat untuk memperoleh medali. “Bulu tangkis kami belum bisa menentukan dia unggulan, walau ada pemain yang diambil (untuk level) nasional. Tarung derajat masih pada posisi non unggulan. Perkembangan dua tahun terakhir jarang pertandingan. Olahraga full body contact jarang dilakukan, sehingga prestasi dan atletnya agak menurun,” katanya.
KONI Jember mendapat hibah Rp 3 miliar dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Jember 2022. Sebanyak kurang lebih Rp 2,1 miliar di antaranya diperuntukkan 410 atlet. Anggaran diperuntukkan antara lain untuk sewa lapangan, honor pelatih, uang transpor atlet, uang saku, extra fooding (makanan tambahan), pengiriman pemain ke kejuaraan, dan perangkat sarana.
“Karena anggaran itu disusun sebelum adanya pemetaan cabor unggulan, sehingga dengan dana seperti itu, kami akan breakdown lagi. Tapi Rp 2,1 miliar kami cukup-cukupkan untuk rekan-rekan (melakukan) training center (pemusatan latihan),” kata Soetriono.
KONI Jember memberikan kesempatan kepada cabang olahraga untuk mengirimkan atlet dalam dua kejuaraan. Soetriono mengatakan, tujuannya untuk melihat hasil pemusatan latihan atlet-atlet yang dipersiapkan menghadapi porprov. “Kami anggarkan untuk dua kali turnamen,” katanya.
KONI Jember juga mengalokasikan penghargaan. “Kalau adik-adik menang dalam kejuaraan akan diberi bonus. Tidak banyak, misalkan untuk makan enak. Boleh dikatakan cabor bisa tersenyum atau tertawa. Namun dengan catatan kalau kita masukkan 410 atlet, lalu setelah melihat THB (Technical Hand Book), jumlahnya menjadi 500-700 atlet, pasti kami akan sesuaikan anggaran masing-masing cabor. Menurut kami dibandingkan tahun-tahun kemarin, insya Allah (anggaran) mencukupi,” kata Soetriono. [wir/ted]






