Ngawi (beritajatim.com) – Sungguh malang nasib N, remaja asal Kecamatan Ngrambe, Ngawi itu depresi usai jadi korban bullying oleh teman sekelasnya sendiri. Gadis 14 tahun itu bahkan harus menjalani perawatan di RS Moewardi Solo dan puskesmas setempat karena kondisi psikologisnya terganggu.
A, ibu N, mengaku kalau baru tahu putrinya mengalami bullying di sekolah usai empat bulan ini N menderita sakit. Berawal pada empat bulan lalu, N mengalami sakit asam lambung dan polip hingga dirujuk ke RS Moewardi Solo. Namun, setelah mendapatkan perawatan, N masih sering mengaku sakit.
Dari situ, A mulai mempertanyakan, apakah ada masalah selain kondisi kesehatan N. Dari situ, sedikit demi sedikit, anak pertamanya itu mulai bercerita kalau mendapatkan kekerasan fisik dan kekerasan verbal dari teman sekelasnya. N juga mudah marah ketika orang tua atau kerabat menanyakan soal sekolah dan teman-teman N.
Bahkan, kini kondisi N masih terguncang. Traumanya kerap terpicu usai mendengar kata sekolah dan teman. Dirinya langsung merasa sesak nafas, pusing, dan jarinya gemetar. A pun tak tega melihat kondiri putrinya.
”Awalnya memang tidak cerita. Namun, karena masih terus mengeluh sakit usai mendapatkan perawatan, saya pun mulai bertanya pelan-pelan. Apa masalah yang dihadapi, ternyata dia mendapatkan perlakuan buruk dari teman-teman di sekolahnya,” kata A pada beritajatim.com, Kamis (10/3/2022)
N mengaku pada ibunya kalau sering disuruh membelikan jajan oleh enam pelaku bullying. Pelaku Yang merupakan siswi sekolah itu bahkan meminta N membelikan jajan dengan uang saku N sendiri padahal uang sakunya pas-pasan. Jika N menolak, maka dia disekap di WC sekolah, hingga dicubit-cubit oleh pelaku. Belum lagi ancaman dan kekerasan verbal yang dia terima.
[berita-terkait number=”4″ tag=”perundungan-anak”]
Tak hanya itu, salah satu pelaku bully bahkan meminta N melakukan antar jemput. A membenarkan hal itu lantaran sebelum sakit, putrinya meminta untuk memakai motor sendiri setelah sebelumnya mengandalkan angkutan pelajar ke sekolah. Ternyata, dirinya dipaksa mengantar jemput pelaku bully yang rumahnya tak searah dengan N.
Hingga akhirnya N mulai jatuh sakit karena stress dan mulai depresi. Saat itulah, dirinya mulai jarang masuk sekolah karena harus menjalani perawatan di RS. A mengungkapkan kalau putrinya sempat mendapatkan rekom untuk memeriksakan diri ke psikiater, terakhir mereka mendatangi psikiater di RSUD dr Soeroto Ngawi.
”Setelah itu, dua hari ini asam lambung anak saya kambuh, hingga mendapatkan perawatan di puskesmas. Dia juga masih merasakan trauma jika mendengar kata sekolah dan teman. Saya hanya berharap kondisi psikologis putri saya bisa kembali normal,” katanya. (fiq/ted)






