Lamongan (beritajatim.com) – Sebuah video mengenai adanya sarung yang dianggap bermotif anjing, viral di media sosial. Video berdurasi 29 detik tersebut diunggah oleh akun twitter @ZeroDemoCRAZY dan hingga kini telah dilihat lebih dari 12 ribu dan diretweet lebih dari 160 kali.
Video unggahan itu tertulis caption : “Jelang Ramadhan, HATI-HATI jika beli Sarung Sholat ya!! Alert”. Serta dalam video itu juga terdengar suara seorang perempuan yang menarasikan video tersebut.
“Assalamuallaikum ibu-ibu, ini kan nanti ada Atlas Harmoni Idaman ya bu ya. Hati-hati ibu-ibu yang nanti mau beli sarung-sarung atau apa, untuk hadiah atau apa, ini tolong ya jangan sampai dibeli. Karena ada gambar seperti ininya, di semua sarungnya,”
“Soalnya kemarin ada orang yang ngasih ya begitu, berapa sarung, ada lima, begitu semua, ada motif anjing di bawah itu. Itu ya syukron,” ucap perempuan di video unggahan tersebut.
Lantaran viral dan ramai diperbincangkan oleh netizen di dunia maya. Hal tersebut juga menarik perhatian Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Lamongan untuk angkat bicara.
Dari hasil penggalian informasi yang didapat, ternyata motif sarung tersebut bukanlah anjing, namun motif Singo Mengkok khas Lamongan yang mepeninggalan dari Sunan Drajat, salah satu wali songo yang makamnya berada di Kecamatan Paciran.
https://twitter.com/ZeroDemoCRAZY/status/1501045244061974532
Hasil Cek Fakta
Kepala Disparbud Lamongan Rubikah mengungkapkan, bahwa motif sarung yang oleh netizen diidentikkan menjadi motif anjing tersebut sebenarnya adalah motif sarung khusus yang dipesankan kepada salah satu produsen sarung.
“Motif yang dimaksud itu adalah motif Singo Mengkok yang merupakan salah satu motif batik khas Lamongan yang diambil dari motif Singo Mengkok yang terukir pada gamelan peninggalan Sunan Drajat sebagai alat dakwahnya pada saat itu,” ungkap Rubikah saat dikonfirmasi, Rabu (9/3/2022).
Meski begitu, Rubikah menilai, jika motif yang muncul di sarung pesanan tersebut cenderung memiliki perbedaan yang mencolok dari pakem motif batik Singo Mengkok yang sudah ada.
Ditambahkan Rubikah, Batik Singo Mengkok di Lamongan lebih mengedepankan unsur flora yakni ornamen bunga tanjung yang dibentuk menyerupai fauna Singo Mengkok. Sementara di motif sarung tersebut, tidak muncul unsur flora bunga tanjungnya.
“Akan lebih baik jika unsur floranya ditonjolkan, karena untuk menghindari multitafsir menggambar makhluk ciptaan Allah SWT yang memiliki nyawa (fauna),” terang Rubikah.
Hingga kini, lanjut Rubikah, upaya pelestarian motif batik Singo Mengkok sebagai bagian dari khazanah tradisi budaya lokal Lamongan terus digalakkan. Bahkan, Pemkab Lamongan telah menetapkan Busana Khas Lamongan (BKL) yang didalamnya terdapat motif Singo Mengkok, sejak tahun 2018.
“Tahun lalu kita juga melombakan desain batik Singo Mengkok ini untuk pelajar di Lamongan. Serta tahun ini akan kita rencanakan pula festival mural desain batik Singo Mengkok untuk pegiat dan praktisi mural sebagai ajang unjuk kreatifitas sekaligus mengenalkan batik Singo Mengkok ke khalayak, khususnya generasi muda,” paparnya.

Sementara itu, Budayawan dari Desa Drajat, Lamongan, Hidayat Iksan menepis jika motif di sarung tersebut adalah motif anjing. Ia berkata, motif itu adalah motif Singo Mengkok yang menjadi ciri khas sebagai penyangga gamelan Singo Mengkok milik Sunan Drajat.
Pihaknya juga menuturkan, bahwa sarung tersebut adalah sarung yang dipesan khusus oleh PP Sunan Drajat Lamongan ke produsen. “Tidak benar mas, kalau itu dikatakan anjing. Gambar tersebut bukan anjing, tetapi Singo Mengkok,” tandasnya.
Iksan lalu menceritakan, bahwa simbol Singo Mengkok ini merupakan motif yang terukir di bagian bawah gamelan, yang dipakai oleh Sunan Drajat sebagai media atau alat dakwahnya di masa dulu.
Gamelan itu digunakan oleh Sunan Drajat untuk mengiringi tembang pangkurnya, yang berisi nilai-nilai ajaran Islam yang didakwahkan bagi masyarakat sekitar.
“Arti dari Singo Mengkok sendiri adalah singa yang sedang menahan hawa nafsu dan tunduk di hadapan Allah. Pendapat lain mengatakan bahwa makna singa yang membungkuk itu berarti manusia yang kuat adalah manusia yang dapat menundukkan hawa nafsunya,” tuturnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh pemerhati budaya Lamongan, Supriyo. Ia menyebut, jika motif yang ada di sarung tersebut adalah motif Singo Mengkok dan bukan motif anjing.
Supriyo juga menerangkan, bahwa motif Singo Mengkok tersebut selain ditemukan di gamelan Sunan Drajat, juga ditemukan di Gapura sebelah makam Sunan Sendang, Raden Noer Rohmat, yang juga berada di Desa Sendangduwur, Kecamatan Paciran, Lamongan.
“Selain di gamelan Sunan Drajat, motif Singo Mengkok ini juga ada di bagian kaki depan gapura tengah Sendang Duwur,” jelasnya.[riq/ted]





