Pasuruan (beritajatim.com) – Komoditas siwalan yang selama ini hanya popular dalam bentuk minuman legen, atau bahkan tuak, ternyata bisa dikembangkan menjadi berbagai produk olahan lain yang lebih elegan. Tangan dingin mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) di Desa Gunungsari, Kec. Beji, Pasuruan menunjukkan bahwa siwalan memiliki potensi dikembangkan menjadi berbagai macam produk kekinian nan menarik seperti selai, manisan, bahkan kecap.
“Kami sempat bereksperimen dengan beberapa produk, dan ternyata siwalan ini bisa dikembangkan menjadi produk lain, bukan hanya legen saja,” kata M Septa Sandy, koordinator desa kelompok tersebut, Rabu (2/3).
Mulanya, mahasiswa yang tergabung dalam kelompok KKN-P 72 tersebut juga tidak familiar dengan siwalan. “Kami sekadar tahu bahwa siwalan biasanya dijadikan minuman yang dikemas di botol ari mineral bekas. Dari situ, kami coba berpikir bagaimana supaya siwalan ini jadi suatu yang lebih menarik,” tambah Sandy.

Akan tetapi, setelah memutar otak dan mencari informasi kesana-kemari, akhirnya mereka menemukan ide untuk membuat produk olahan yang bernilai jual lebih dalam bentuk selai dan manisan.
Sandi menandaskan bahwa bahkan mereka sempat berhasil membuat kecap dari siwalan. “Kami sempat berhasil bereksperimen membuat kecap. Rasanya mantap, sayangnya teksturnya belum sesuai harapan, dan terbentur bahan baku yang terbatas,” tandasnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”umsida”]
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Desa Gunungsari, Niko Fediyanto, menambahkan bahwa salah satu fokus dari kegiatan tersebut adalah pengabdian masyarakat. “Tujuannya adalah untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat dalam bentuk inovasi produk. Semoga ini bisa dikembangkan menjadi produk yang bernilai tinggi untuk mendongkrak pamor siwalan dari Desa Gunungsari,” kata Niko.
Dia juga berharap bahwa produk ini mendapat support lebih dari pihak yang berwenang agar bisa menunjang kesejahteraan masyarakat. “Karena produk in ikan kreasi mahasiswa, pastinya harus dikembangkan lagi secara serius soal standardisasi kelayakan konsumsinya dan diteliti nutrisinya agar bisa menjadi produk yang benar-benar layak untuk dilempar ke pasar,” jelasnya. [but]






