Surabaya (beritajatim.com) – Mentok rica-rica dan Nyambik (musang) rica-rica menjadi menu andalan di Warung Rica-Rica milik Laras Saummami. Bahkan saat pandemi datang warung yang berada di Kedung Turi Desa Janti Kecamatan Tulangan Kabupaten Sidoarjo tak sepi pembeli.
Laras, sang pemilik warung menyebutkan jika dirinya sudah berjualan sejak masih lajang di warung yang sederhana. Warung ini diwarisi dari bapaknya yang dulu bantir stir menjual mentok rica-rica setelah tak lagi bekerja sebagai buruh pabrik.
“Dulu warungnya masih sederhana, lalu tahun 2019 saya dapat tawaran dari Bank BRI untuk menambah modal jualan melalui dana pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR),” kenang Laras.
Awalnya wanita 34 tahun itu mengaku ragu karena pihak BRI membutuhkan jaminan aset. Sedangkan rumah yang mereka tempati belum memiliki sertifikat SHM. Namun ternyata BRI Unit Tulangan memberikan tawaran lain, yakni cukup menjaminkan Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB).
“Alhamdullilah Kepala Unit BRI nya baik, mau memberikan solusi sehingga saya dapat KUR Rp 25 juta dengan masa cicilan 1,5 tahun. Bunganya ringan sekitar 0,2 persen per bulan tak seperti pinjam di bank titil,” ungkapnya.
Mendapat suntikan modal Rp 25 juta, membuat Laras semakin bersemangat memperbaiki layanan dan kualitas produk rica-ricanya. Dapur tempat memasak pun dibenahi agar lebih layak dan nyaman untuk memasak.
[berita-terkait number=”4″ tag=”BRI”]
“Waktu itu, saya bisa memasak rica-rica sampai 3 kali dalam sehari. Namun di tahun 2020 pandemi datang. Di puncak pandemi, omset langsung merosot,” kenang Laras.
Dirinya pun harus memutar otak sebab adek bungsunya pun baru kuliah di Universitas Brawijaya Malang. Sedangkan ibunya pun sudah tak kuat bekerja dan sebagai anak sulung, Laras harus menopang kehidupan keluarganya.
“Beruntung para karyawan BRI Unit Tulangan juga mau jadi langganan kami. Jadi saat penjualan merosot, pesanan dari beberapa pelanggan kantoran tetap ada. Dan kami pun bisa bertahan,” kenangnya.
Belum reda pandemi, Laras berhasil melunasi cicilan KUR pertamanya di BRI Unit Tulangan. Karena mampu melunasi tanpa pernah menunggak, Laras kembali ditawari pinjaman KUR senilai Rp 50 juta.
“Maunya saya buat merenovasi warung ini, tetapi ternyata adek saya butuh biaya kuliah, jadi dibagi dulu pada adek. Karena dia adek saya satu-satunya setelah saudara kedua kami meninggal dunia,” akunya.
Laras bercerita hingga kini, dirinya masih mendapat perhatian dari pihak BRI. Tak hanya akses pinjaman KUR yang mudah dan ringan tetapi warungnya juga diberi hadiah kecil seperti tempat tissu dan pernak-pernik penunjang jualan.
“Ini kata pak Adam, Kepala BRI Unit Tulangan yang baru, kami akan dikasih piring. Perhatiannya baik sekali pada nasabah kecil seperti kami,” tandas Laras.
Laras berharap dengan terbukanya akses mendapatkan KUR, dirinya bisa membuka warung di tempat lain. Sehingga usaha mentok rica-ricanya terus berkembang.[rea]






