Jember (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, mempersiapkan pembangunan jalan lingkar terluar (Jember Outer Ring Road atau JORR) untuk mengantisipasi pembangunan tol di pantai utara Jawa Timur yang melewati Kabupaten Lumajang hingga Situbondo.
“Kelayakan tol memang ada program dari pusat sendiri, kami harus menunggu dari (jalur) Probolinggo dan Lumajang dulu. Baru kemudian konsultan dari Jakarta menyisir lewat sebelah timur yang paling banyak, di Kecamatan Mayang, lalu di Kecamatan Sukowono terpisah jadi dua jalur, yang satu ke Kabupaten Banyuwangi, yang satu berputar ke Kecamatan Maesan, Bondowoso, ke Situbondo,” kata Bupati Hendy Siswanto.
Belum diketahui kapan pembangunan tol yang melewati Jember akan dilakukan. Tidak mau menanti, Pemkab Jember saat ini tengah melakukan kajian kelayakan untuk pembangunan JORR di kaki Gunung Argopuro. “Kami mengantisipasi. Kan (pembangunan) tol itu lama. Yang jelas prioritas pemerintah pusat itu jalan dari Probolinggo ke Lumajang dulu. Jember masih belum. Cukup lama,” kata Hendy.
“Kalau jalan tol Probolinggo-Lumajang jadi, maka trouble-nya ada di Jember. JORR kan bukan tol. Itu jalan biasa, membuka (akses) saja, harus ada (jalan) keluarnya. Jadi itu untuk daya tarik investor, karena membuka lahan baru dan paling dekat nyambung ke tol Probolinggo-Lumajang. Teorinya begitu. Maka kita bisa dapat manfaat dari situ. Jember jadi menarik untuk orang berinvestasi,” kata Hendy.
Pembukaan JORR berarti membuka area baru. “Saya punya rencana memindahkan kantor pemkab ke Bontoro, Patrang. Tanah seluas 60 hektare itu di belakangnya ada JORR. Populasi kita kan tambah banyak, sementara pengembangan tidak ada sama sekali. Pembangunan jangka diarahkan ke selatan, karena bahaya bagi lahan produktif pertanian kita. Arahkan ke utara, potensinya wisata,” kata Hendy.
[berita-terkait number=”4″ tag=”jember”]
Pembangunan JORR akan didesain dulu dan dibangun bertahap. “Pembukaan jalan pakai makadam, karena kepemilikan lahannya harus dicek dulu. Ada yang punya Perhutani, PTPN 12, ada yang punya masyarakat, dan punya kami,” kata Hendy.
“Dengan adanya JORR akan membantu (transportasi) hasil pertanian, perkebunan, kehutanan lewat situ. Panjang JORR sekitar 60 kilometer. Dibuka untuk makadam dulu. Harapannya dibantu APBN. Kalau dipikul APBD saja berat, karena ada pembangunan jembatan juga. Kami rencanakan investasi di sana Rp 75 miliar untuk membuka jalan dan membuat jembatan-jembatan kecil. Setelah jalur dibuka, baru Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat masuk,” kata Hendy. [wir/but]






