Surabaya (beritajatim.com) – Dalam sepak bola melingkupi banyak komponen yang hadir guna melengkapi jalannya pertandingan. Mulai dari hal teknis maupun non teknis. Selain itu, juga ada istilah-istilah yang cukup asing dan unik.
Misalnya ada istilah salary cup yang mengacu pada batasan pengeluaran gaji agar tidak berdampak buruk untuk keuangan tim. Ada juga akhir-akhir istilah moneyball. Lalu apa arti dari moneyball, apakah ‘bola uang’ atau bola berbentuk uang sebagaimana arti per kata, atau bagaimana?
Istilah moneyball sebenarnya terinspirasi dari Buku dan film. Moneyball muncul dari sebuah buku yang berjudul ‘Moneyball: The Art of Winning an Unfair Game’ karangan dari Michael Lewis pada 2003.
Kemudian, buku tersebut memunculkan inspirasi dalam film yang berjudul ‘moneyball’ dengan pemeran utamanya Brad Pitt. Dalam buku dan film itu, sebuah tim bisbol yang punya dana kecil, tetapi ingin ikut mendominasi.
Hingga akhirnya, muncul ide bagaimana cara agar mampu dominan meski dana kurang dan menghasilkan keuntungan besar. Jawaban dari itulah yang mengilhami konsep dari moneyball dalam sepakbola.
Konsep moneyball diterapkan dalam olahraga dengan cara hitung-hitungan matematika seperti halnya penjudi. Dalam sepakbola konsep ini biasa dijalankan dengan membeli pemain murah, tetapi berpotensi.
Kemudian, kemampuan sang pemain ditingkatkan dalam beberapa tahun, lalu dijual ke klub lain dengan harga berkali lipat dari harga pembeliannya dahulu.
Ibaratnya dalam konsep moneyball, kepintaran memilah pemain berpotensi sangat diperlukan. Hal ini biasanya akan didukung dengan data dan statistik karena nama besar pemain bukanlah masuk dalam konsep inti.
Ada beberapa klub yang menerapkan konsep moneyball. Diantaranya klub Brentford di Liga Premier Inggris dan Midtjylland di Denmark. Kedua klub itu pun banyak jadi contoh dalam penerapan konsep ini.
Benham selaku pemilik Brentford yang juga seorang penjudi sangat tergantung dengan data statistik xG, XA, dan PSxG.
Saat ditawarkan dua pilihan antara pemain yang cetak 3 gol dan 3 peluang dengan yang tidak cetak gol dan 10 peluang dari 4 pertandingan, Benham memilih opsi kedua.
Alasan dari Benham karena opsi kedua lebih konsisten. Sehingga dianggap memungkinkan mencetak gol lebih banyak karena peluangnya lebih banyak juga. Jadi sisanya, tinggal penyelesaian akhir pemain saja yang perlu ditingkatkan. (dan/ian)





