Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak percaya bahwa sebuah kebijakan haruslah dibuat dengan berlandaskan ilmu pengetahuan teknologi dan empati. Itu sudah dilakukannya sejak menjadi bupati Trenggalek.
“Saya percaya Science Based Policy atau kebijakan yang berbasis pada ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menjadi landasan untuk membuat sebuah kebijakan,” kata Emil, sebagaimana dilansir Humas Universitas Jember, di Kabupaten Jember, Jumat (28/1/2022).
Saat menjadi bupati di Trenggalek, Emil meminta bantuan para ahli geologi untuk meneliti, memetakan areal yang tergolong berbahaya, dan menentukan metode pembersihan timbunan tanah pasca bencana longsor. Dia ingin agar pembersihan berjalan lancar tanpa menimbulkan korban lagi.
Emil mendengarkan saran-saran dari para ahli. Hasilnya, dalam jangka waktu kurang dari sebulan, wilayah yang semula tertutup longsoran pun berhasil dibersihkan. “Padahal sebelumnya ada pihak yang memperkirakan pembersihan akan memakan waktu tiga hingga empat bulan,” katanya, dalam sarasehan “Tujuh Mimpi Agromedis Fakultas Kedokteran Universitas Jember, Melangkah Bersama Wakil Gubernur Jawa Timur” di auditorium FK Universitas Jember, Selasa (25/1/2022).
Pelajaran berikutnya adalah soal empati yang diperoleh Emil saat mendapatkan undangan mengikuti pelatihan di Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika Serikat. Di sana ia sudah membayangkan akan menerima penjelasan mengenai banyak hal terkait teknologi informasi dan komunikasi.
“Eh ternyata di MIT kami diminta memakai kruk, penyangga kaki bagi orang yang mengalami masalah kesehatan di kaki atau difabel. Kami diminta memakai kruk ke fasilitas umum seperti kereta bawah tanah,” kata Emil.
Emil diminta merasakan pengalaman jika berada pada posisi orang yang tengah memiliki masalah kesehatan atau difabel. “Intinya bagaimana menumbuhkan empati sehingga kebijakan yang kita susun benar-benar sudah memperhatikan kebutuhan semua pihak,” katanya. Pengalaman berjalan kaki dengan mengenakan alat bantu difabel ini memberikan pelajaran tentang bagaimana komunikasi pembangunan seharusnya dilakukan.
[berita-terkait number=”4″ tag=”emil-dardak”]
Menurut Emil, ada empat level komunikasi. Pertama adalah level downloading (mengunduh). “Orang masih sebatas mencari dan menerima informasi. Kedua, level debating, saat pihak-pihak yang terlibat membahas sebuah permasalahan. Di level ini masih ada nuansa kalah menang,” katanya.
Level ketiga adalah reflecting. Dalam level ini semua pihak yang terlibat membahas apa yang sudah terjadi dan berusaha menarik pelajaran berharga. “Keempat adalah level predicting saat kita diminta berkomunikasi dalam membuat kebijakan untuk sesuatu yang belum atau akan terjadi di masa depan. Di level ini empati bisa turut menyelesaikan masalah sebab empati adalah modal pembangunan manusia,” kata Emil. [wir/but]






