Bojonegoro (beritajatim.com) – Ratusan hektare sawah yang ditanami padi terendam akibat dampak luapan air dari jebolnya tanggul Kali Ingas di Desa Kedungprimpen Kecamatan Kanor Kabupaten Bojonegoro. Tanggul yang jebl pada Jum’at, 21 Januari 2022 sekitar pukul 22.00 WIB itu kini masih ditangani secara darurat. Tanggul sungai yang jebol tersebut sepanjang 10 meter, dengan lebar 3 meter dan tinggi 1,5 meter.
Sedikitnya luapan air dari jebolnya tanggul dari anak sungai Bengawan Solo itu merendam 580 hektar sawah yang sedang ditanami padi. Padi yang terendam tersebut rerata usia 90 hari dan sudah memasuki musim panen. Sawah yang lokasinya berdekatan dengan tanggul kondisinya rusak dan sudah tidak bisa dipanen. Sedangkan yang lebih jauh harus dipanen lebih awal.
“Seharusnya belum waktunya panen. Tapi karena kalau tidak segera dipanen ya busuk karena terendam air (bulir padi),” ujar salah seorang warga yang sedang memanen tanaman padi milik Wahidin, warga Desa Temu, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, Minggu (23/1/2022).

Dengan adanya bencana tanggul jebol tersebut, pemilik sawah terancam gagal panen. Menurut warga tidak semua petani terdampak banjir akibat tanggul jebol tersebut memiliki asuransi pertanian. Hal itu salah satu kendalanya karena tidak semua pemilik sawah yang terdampak tersebut berasal dari desa setempat. “Seperti pak Wahidin ini warga Temu tapi sawahnya di Kedungprimpen, juga tidak boleh,” terangnya.
Camat Kanor Agus Saiful Aris mengatakan, tanggul sungai Kali Ingas tersebut kondisinya memang sudah banyak yang rusak. Kerusakan disebabkan banyak faktor, diantaranya adanya pendangkalan sungai akibat sedimen, serta banyak lahan tanggul yang dimanfaatkan untuk menanam tanaman semusim. “Kami akan mengumpulkan sejumlah kepala desa untuk koordinasi terkait penertiban penanaman di tanggul agar steril,” ungkapnya.
Akibat kondisi tanggul yang rusak, sehingga rawan jebol. Seperti yang terjadi di Desa Kedungprimpen, yang berdampak seluas kurang lebih 580 hektare tanaman padi di Desa Pucangarum, Kedungrejo, Karangdayu, Pomahan, Kauman, Kecamatan Baureno dan Desa Kedungprimpen dan Temu Kecamatan Kanor terendam. Padahal lahan pertanian di daerah-daerah yang terdampak tersebut termasuk lahan produktif.
[berita-terkait number=”4″ tag=”bojonegoro”]
Sementara Bupati Bojonegoro Anna Mu’awanah juga telah melakukan kunjungan ke lokasi tanggul sungai yang jebol. Setelah mengetahui kondisi sungai, pihaknya meminta kepada Dinas PU SDA segera melakukan penanganan secara permanen. “Ini sudah tiga tahun tapi masih saja banjir, tolong segera lakukan langkah riil dengan penanganan secara permanen,” ujar Bupati.
Tidak hanya penanganan banjir di Desa Kadungrejo, tahun 2022 ini, lanjut Bupati Anna, Pemkab Bojonegoro akan melakukan pengadaan pompa di Desa Lebaksari, Kecamatan Baureno. “Oleh sebab itu, saya meminta agar Dinas PU SDA segera melakukan perencanaan agar ada penanganan yang permanen sehingga tidak terjadi tambal sulam dalam penanganan banjir,” imbuhnya.
Bupati Anna juga meminta kepada warga setempat untuk ikut merawat lingkungan sehingga sungai tidak tertutup lumpur. “Untuk penanganan jangka pendeknya, kita lakukan normalisasi sungai dulu dan jangka panjangnya kita buat tanggul,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas PU SDA, Erik Firdaus mengungkapkan, setelah luapan air di sungai berkurang, pihaknya akan segera melakukan normalisasi. “Kedepannya, kita akan buat peninggian tanggul dan jalur inspeksi,” pungkasnya. [lus/but]






