Surabaya (beritajatim.com) – Istilah Quarter Life Crisis sering digunakan oleh anak-anak muda dalam menggambarkan kondisi krisis yang mereka alami. Kondisi ini biasa dialami ketika seorang anak muda hampir atau sudah menginjak usia 25 tahun.
Dilansir dari situs dailylife, mereka yang sedang mengalami Quarter Life Crisis biasanya akan merasa khawatir dan bingung pada nasibnya di masa depan. Biasanya, muncul kekhawatiran itu berkaitan dengan pekerjaan, hubungan sosial dan percintaan.
Mungkin Anda juga tengah berada pada fase Quarter Life Crisis Familiar. Ciri dari seseorang yang mengalami Quarter Life Crisis bisa dikenali sebagai berikut.
Pertama, minder dengan pencapaian rekan sebaya. Kedua, takut tertinggal dari langkah orang lain. Ketiga, muncul perasaan terjebak dalam rutinitas. Keempat, ada rasa khawatir akan ketidakpastian di masa mendatang.
Kelima, sulit mengambil keputusan, apakah harus mengikuti hati atau mengutamakan ekspektasi orang lain. Keenam, Merasa hidup stagnan dan tidak ada kemajuan. Ketujuh, takut mengecewakan orang yang disayangi. Agar tidak terjebak pada fase ‘Quarter Life Crisis’, berikut cara menghadapinya.
Cintai Diri Sendiri
Hal pertama yaitu kembali ke dirimu sendiri. Cintai dirimu sendiri, terima kekurangan dan sadari kelebihan yang dimiliki. Terkadang, mengutamakan diri sendiri bukan sesuatu yang egois.
Stop Comparing
Tips yang satu ini muncul lagi karena tanpa disadari, Anda seringkali membandingkan diri dengan orang lain. Perlu diingat jika jalan hidup setiap orang itu berbeda. Mungkin, orang lain di media sosial terlihat bahagia, namun belum tentu di dunia nyata, oleh karena itu lebih baik Anda pedulikan diri sendiri.
Jangan Menutup Dirimu
Terkadang, saat sedang berjuang untuk mengatasi ‘Quarter Life Crisis’ ini, secara tidak sadar, Anda justru menghindari orang lain. Tapi, sebenarnya jika melakukan itu, kamu akan semakin frustasi. Ketimbang menutup diri, coba ceritakan apa yang dirasakan
pada orang yang Anda percaya
Terakhir Anda harus bisa hilangkan keraguan. Keraguan merupakan sesuatu yang menghambat untuk berkembang. Memang, manusiawi jika Anda merasa ragu saat hendak mengambil sebuah keputusan atau mengambil langkah untuk maju. Tapi, jika terus-menerus ada rasa ragu, bisa jadi Anda justru melewatkan kesempatan emas yang ada. (dan/ian)






