Jember (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, mengedepankan slogan ‘Jember Permata Jawa’ dalam mengangkat sektor pariwisata. Bagaimana melihat slogan ini?
David K. Susilo, Direktur Event Jember Fashion Carnaval, menyebut dua slogan ini berperan penting pada tahun 2022. “Tahun 2021 adalah tahun survival. Semua pemilik usaha pariwsata pontang-panting bertahan di tengah badai krisis kesehatan dan ekonomi. Tahun 2022 adalah tahun kebangkitan, dimana vaksin sudah mulai terdistribusi dengan baik, pembatasan kegiatan mulai longgar, Kabupaten Jember sebagai barometer pariwisata even karnaval di Indonesia mulai membuka diri untuk wisatawan,” katanya, Selasa (11/1/2022).
David melihat ‘Jember Permata Jawa’ menunjukkan potensi Jember yang memiliki kesempurnan dari sisi tujuan obyek wisata dan wisata buatan, berupa even budaya dan religi. “Pada dasarnya Jember Permata Jawa sendiri sarat dan makna konsep pariwisata berkelanjutan, yang memberikan dampak terhadap lingkungan, sosial, budaya, ekonomi untuk masa kini dan masa depan, baik itu bagi masyarakat lokal maupun wisatawan domestik dan manca negara,” katanya.
David mengingatkan, Kabupaten Jember memiliki luas wilayah kurang lebih 3.293,34 kilometer persegi dengan potensi wisata pesisir selatan di pantai sepanjang lebih kurang 170 kilometer. “Titik terluarnya Pulau Nusa Barong, dan ada potensi Taman Nasional Meru Betiri yang berbatasan Kabupaten Banyuwangi, Ada potensi wisata Pegunungan Hyang, dengan puncaknya Gunung Argopuro. Bagian timur merupakan bagian dari rangkaian dataran tinggi Ijen,” katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”jember”]
“Secara administratif wilayah Kabupaten Jember terbagi menjadi 31 kecamatan. Sebanyak 28 kecamatan dengan 226 desa memiliki potensi desa wisata yang sangat luar biasa. Di dalamnya banyak sekali kearifan lokal, seperti keindahan alam, ratusan pondok pesantren, seni dan budaya. Terdapat branding Jember sebagai Kota Karnaval yang secara nasional sudah diakui dengan adanya even tahunan yang diselenggarakan oleh Yayasan Jember Fashion Carnaval (JFC),” kata David.
Dengan potensi itu, David menilai, ada harapan kebangkitan pariwisata di Jember. “Bukan waktunya kita mencari alasan, bukan masalah yang membuat kita berhenti mengejar kesuksesan. Tapi kita sendiri yang mencari alasan untuk berhenti. Masalahnya selalu sama, kendalanya selalu sama, risikonya selalu sama. Tetapi kita sendiri yang memutuskan berhenti,” katanya. [wir/but]






