Surabaya (beritajatim.com) – Sesajen atau sajen merupakan salah satu ritual kebudayaan yang telah lama hidup di masyarakat Indonesia. Bukan hanya di Bali yang mayoritas penduduknya beragama Hindu tetapi, juga di seantero jawa bahkan di hampir seluruh penjuru Indonesia.
Di beberapa daerah sesajen identik dengan ritual persembahan yang diberikan untuk dewa, leluhur, atau mahluk gaib lainnya. Namun, ada juga ritual sesajen yang sudah mengalami akulturasi nilai dengan agama islam, misalnya dan nilainya diubah menjadi sedekah.
Meski begitu, filosifi dari isian sesajen masih banyak yang bertahan dan dijaga sebagaimana di masa leluhur. Menurut Mbah Ji yang merupakan orang Kejawen, adanya cok bakal di dalam sesajen dimaksudkan untuk menghormati sanak danyang. Sedangkan tikar lempit digambarkan sebagai alas manusia hidup di dunia.
Beberapa makanan yang dihidangkan dalam sajen, seperti buah pisang juga memiliki makna sebagai pengharapan pada Tuhan untuk senantiasa memberikan keberkahan. Selain itu ada pula kelapa yang merupakan pengingat cikal bakal atau yang mendahului sebelum seseorang hidup di dunia, yakni leluhur.
Janur atau daun muda pada pohon kelapa dimaksudkan agar masyarakat dapat hidup hidup bahagia di dunia maupun di akhirat. Telur sebagai simbol bibit atau asal usul. Begitupun dengan bunga-bungaan, seperti bunga kantil, kenanga, dan mawar yang masing-masing memiliki makna, yakni setiap orang yang hidup harus punya ‘kumantile ati’ atau kemantapan hati.
Adapun kenanga, maksudnya hidup tentu akan ‘kenek ngene, kenek ngono’ atau terkena ini terkena itu. Namun, meskipun begitu setiap orang harus tetap memiliki pegangan prinsip agar tidak mudah goyah. Sedangkan mawar, diartikan bahwa semua ini akan selalu ‘mawarno-warno’ atau berwarna.
Hal lain yang biasanya tak boleh ketinggalan dalam sesajen ialah daun sirih. Dalam bahasa jawa biasa disebut suruh atau disimbolkan sebagai kaweruh (pengetahuan). Maka jika hidup tidak memiliki pengetahuan tentu akan menemui jalan buntu dalam hidupnya.
Dalam penjelasannya Mbah Ji juga mengungkapkan bahwa jika ada orang yang menyebutnya sebagai penyembah makhluk ghaib maka itu sudah menjadi ranah pribadi setiap orang yang menilainya. Hal ini dianggap wajar karena jika seseorang tidak suka tentu akan mencari-cari kesalahan.
Maka tak heran jika dalam sesaji biasanya juga terdapat daun jati atau daun pisan kering yang dijadikan alasnya. Hal ini dimaksudkan agar sebelum menilai sesuatu atau bertindak harusnya dipikirkan terlebih dahulu dampaknya.
Dalam sebuah acara, Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun yang dikenal sebagai tokoh intelektual muslim Indonesia juga pernah mengatakan bahwa ada seseorang menyebut sesajen merupakan suatu bentuk menentang syariat. Menanggapi hal tersebut, ia pun mengungkapkan bahwa tidak ada yang bilang bahwa adanya sesajen itu sebagai upaya menyembah hal-hal selain Allah, melainkan hanya menghormati ciptaan-Nya saja. [fyi/tur]






