Gresik (beritajatim.com) – Anak berkebutuhan khusus di wilayah Kabupaten Gresik mendapat prioritas pendidikan. Untuk mewujudkan hal itu, salah satu upaya yang dilakukan menyeimbangkan relasi, dan mengurangi kesenjangan serta memastikan persamaan hak hingga aksesbilitas terutama dalam hal pendidikan bagi penyandang disabilitas.
Melalui Dinas Pendidikan (Dispendik), Bappeda serta Dinas Sosial (Dinsos) maupun Dinas Kesehatan (Dinkes) memfasilitasi keberlangsungan pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Dengan adanya fasilitas berupa sanggar dan sekolah terapi anak-anak disabilitas di Desa Madumulyorejo, Kecamatan Dukun, Gresik diharapkan menjadi wadah bagi anak berkebutuhan khusus di desa.
[berita-terkait number=”5″ tag=”disabilitas”]
Dukungan keberadaan sanggar tersebut, tidak hanya dari Pemkab Gresik. Tapi juga Pemprov Jawa Timur. “Sesuai Peraturan Gubernur Jawa Timur nomor 30 tahun 2018 tentang penyelenggaraan Pendidikan Inklusi Provinsi Jawa Timur. Bahwa seluruh sekolah di Jawa Timur telah mengarah ke sekolah inklusi yang juga mengatur tentang penyediaan tenaga pendidik khusus untuk sekolah yang menerima siswa berkebutuhan khusus,” ujar Asisten 1 Pemprov Jatim, Benny Sampirwanto, Kamis (6/01/2022).
Ia menjelaskan adanya program yang dijalankan Pemkab Gresik, pihaknya sangat mensupport dan memberikan apresiasi. “Pemkab Gresik yang fokus memberikan perhatian bagi penyandang disabilitas harus didukung penuh,” paparnya.
Sementara itu, Wabup Gresik Aminatun Habibah (Bu Min) menuturkan, dibidang pendidikan disabilitas, pemkab juga telah memfasilitasi melalui resource centre yang dikhususkan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. “Kami juga berencana untuk menambah resource centre di wilayah Gresik Utara, Selatan dan Pulau Bawean,” tuturnya.
Wabup perempuan pertama di Gresik itu mengatakan, keberadaan sanggar Al-Ikhlas ini juga dinilai membantu pemkab memfasilitasi anak disabilitas untuk tetap bisa memperoleh pendidikan yang layak. “Ada inovasi pembelajaran Al-Qur’an bagi disabilitas dengan metode amakasa yang berhasil dikembangkan salah satu guru di Gresik dan diakui oleh Kementerian Agama untuk dapat diterapkan di seluruh Indonesia,” pungkasnya. [dny/kun]






