Surabaya (beritajatim.com) – Menguasai pertandingan di awal-awal babak pertama, pelan tapi pasti Chelsea semakin kehilangan kontrol. Aston Villa yang ditukangi pelatih baru dan bermain di depan publik sendiri, memang bermain dengan sangat baik.
Mereka mengandalkan permainan cepat dengan bola-bola direct. Sesekali memberikan long ball, sesekali juga melakukan kombinasi permainan satu kali sentuh.
Ditambah dengan pressing ketat dengan garis tinggi. Ramuan ini benar-benar manjur membuat Chelsea keteteran untuk bisa mengembangkan permainan.
Bahkan beberapa kali, Danny Ings atau Watkins berhasil melakukan akselerasi ke arah kotak pinalti Chelsea berkat umpan-umpan terobosan dan kombinasi bola cepat yang mereka lakukan. Sayang, penyelesaian akhirnya masih buruk.
Di sisi lain, Chelsea yang masih menggunakan formasi 3-4-2-1 dengan memasang Pulisic sebagai false nine kesulitan untuk mengembangkan permainan. Setiap kali memasuki sepertiga akhir lapangan, para pemin Chelsea kebingungan untuk menenetukan langkah selanjutanya.
Sebab, para pemain depan tidak ada yang bisa mendapatkan ruang karena dijaga dengan ketat oleh para pemain bertahan Villa. Hasilnya, bola yang mereka kuasai bisa dengan mudah diambil oleh para pemain Villa.
Ramsey, Luiz, dan Sanson benar-benar menjadi momok bagi Chelsea. Mereka kokoh menjaga lini tengah dan beberapa kali menjadi inisiator serangan dari Aston Villa.
Sanson yang berada di sisi kanan penyerangan Villa pun sering kali mampu lolos hingga kotak pinalti. Setelah mencuri bola dari Hudson-Odoi atau Alonso.
Hasilnya, di menit 28 Aston Villa berhasil mendapatkan gol. Bermula dari kemelut yang terjadi di depan gawang Chelsea, bola yang di kuasai Watkins kemudian dikirimkan ke Mat Targett. Ia kemudian mengirimkan umpan silang ke tengah kotak pinalti.
Namun, bola tersebut kemudian masuk ke dalam gawang Chelsea setelah disundul oleh Reece James. Mendy yang sudah bersiap di bawah mistar pun tak bisa berkutik meskipun sudah berusaha meloncat menghalau bola.
Aston Villa memimpin. Chelsea pun berusaha mengejar ketertinggalan. Sayang, permainan mereka sering terputus karena akurasi umpan yang buruk.
Usaha Chelsea yang spartan pun akhirnya mendapatkan hasil. Menerima umpan dari Alonso, Hudson-Odoi mencoba untuk mengejar bola yang masuk ke kotak pinalti. Di saat itulah, Matty Cash melakukan sliding tackle yang mengenai kaki Odoi.
Chelsea pun mendapatkan hadiah tendangan pinalti. Jorginho selaku eksekutor utama mampu melesakkan bola dari titik putih tanpa ada masalah. Chelsea mengejar 1-1.
Skor ini bertahan hingga turun minum. Di babak kedua, Chelsea langsung melakukan pergantian pemain. Trevoh Chalobah keluar digantikan Romelu Lukaku.
Tuchel berusaha merubah jalannya pertandiangan dengan melakukan perubahan formasi. Dengan masuknya Lukaku, Chelsea berganti ke formasi 4-2-3-1.
Pergantian ini terbukti efektif. Permainan Chelsea menjadi lebih cair. Dengan semakin banyak pemain berada di tengah lapangan, membuat jarak antar pemain jadi lebih dekat.
Mereka pun punya Lukaku yang bisa dijadikan sebagai terget man. Hasilnya, di menit 56 Chelsea berhasil memimpin melalui gol dari Lukaku. Sundulan Lukaku setelah menerima umpan silan dari Odoi menghujam keras ki sisi kiri gawang Martinez.
Di menit-menit akhir, Chelsea kembali mendapatkan hadiah pinalti. Kali ini, Lukaku yang berlari membawa bola dari tengah lapangan, dijatuhkan ketika masuk ke dalam kotak pinalti. Sliding Konsa dari belakang membuat Lukaku terjatuh.
Jorginho kembali menjadi algojo dan untuk kedua kalinya, ia membobol gawang Martinez dari titik putih. [tur]






