Jombang (beritajatim.com) – BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Jombang, Jawa Timur, memasang rambu jalur evakusi di 20 desa yang ada di sepanjang DAS (Daerah Aliran Sungai) Konto. Hal itu sebagai langkah mitigasi atau pengurangan risiko bencana.
Sungai Konto merupakan jalur lahar Gunung Kelud. Sungai yang berhulu di Gunung Kelud ini melintasi 20 desa di empat kecamatan yang ada di Kabupaten Jombang. Nah, desa-desa itulah yang rawan terkena banjir jika sungai tersebut meluap. Pemasangan rambu evakuasi itu juga menyusul ditetapkannya 20 desa tersebut sebagai Destana (Desa Tangguh Bencana).
Pemasangan rambu evakuasi dilakukan selama dua hari, yakni Senin (20/12/2021) hingga Selasa (21/12/2021). Rambu jalur evakuasi sebagai petunjuk bagi warga, ketika terjadi banjir. Teknisnya, setiap desa terdapat titik kumpul. Tentu saja, lokasi tersebut letaknya jauh dari titik ancaman (bencana).
“Dari titik kumpul tersebut relawan akan mengevakuasi warga ke lokasi pengungsian yang sudah ditentukan. Nah, hari ini yang kita pasang rambu jalur evakuasi tersebut. Sehingga ketika terjadi bencana bisa meminimalisir risiko. Karena mereka bisa mengetahui kemana harus mengungsi,” kata Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Kabupaten Jombang Syamsul Bahri, Selasa (21/12/2021).
Syamsul mengungkapkan bahwa pemasangan rambu jalur evakuasi itu merupakan salah satu upaya mitigasi bencana yang dilakukan BPBD. Dengan begitu, ketika terjadi bencana bisa meminimalisir risiko. “Hari pertama kita melakukan pemasangan (rambu evakusi) di Kecamatan Gudo dan Bandarkedungmulyo,” tambah Syamsul.
[berita-terkait number=”4″ tag=”banjir-jombang”]
Selain dari BPBD, pemasangan rambu tersebut juga melibatkan relawan FPRB (Forum Pengurangan Risiko Bencana) tingkat kabupaten dan desa setempat, serta Fasdes (Fasilitator Desa) Destana. Syamsul menambahkan, dibentuknya Destana untuk meningkatkan kemampuan warganya mengenali ancaman bencana di wilayahnya dan mampu mengorganisir sumber daya masyarakat untuk mengurangi kerentanan.
Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Kabupaten Jombang ini mengakui bahwa desa yang berada di sepanjang DAS Konto rawan banjir. Data di BPBD, banjir menerjang tujuh desa di kawasan tersebut pada Februari 2021. Ini banjir terparah, karena terjadi selama satu minggu.
Syamsul merinci, 20 desa yang dikukuhkan menjadi Destana tersebut berada di empat kecamatan. Yakni, Kecamatan Ngoro, Gudo, Bandarkedungmulyo, serta Kecamatan Perak. Di Kecamatan Ngoro dibentuk enam Destana. Masing-masing Desa Ngoro, Genukwatu, Pulorejo, Banyuarang, Kauman, serta Desa Jombok. Kemudian di Kecamatan Gudo terdapat empat desa. Meliputi Desa Begasur Kedaleman, Gudo, Wangkalkepuh, serta Desa Pucangro.
Lalu di Kecamatan Perak terdapat tiga desa, yakni Jatiganggong, Kepuhkajang, dan Sumberagung. Sedangkan di Kecamatan Bandarkedungmulyo terdapat tujuh Destana. Masing-masing Desa Barongsawahan, Kayen, Gondangmanis, Bandarkedungmulyo, Mojokambang, Pucangsimo, serta Desa Brodot. “Desa-desa ini berada di sepanjang aliran Sungai Konto,” sambungnya.
Sekretaris FPRB Jombang Amik Purdinata menambahkan, masing-masing Destana tersebut sudah dibekali berbagai hal. Diantaranya, pembuatan peta bencana, pelatihan PPGD (Pertolongan Pertama Kegawatdaruratan), serta pembentukan FPRB tingkat desa.
Para relawan di tingkat desa juga melakukan susur sungai guna mendeteksi titik kritis di tanggul Sungai Konto. Juga melakukan pembersihan sungai dari sampah. “Dari susur sungai itu diketahui terdapat 20 titik kritis di tanggul Sungai Konto sepanjang 12 kilometer yang melintasi Jombang. Warga melakukan kerja bakti menutup tanggul kritis itu,” pungkas Amik.
Amik juga mengatakan bahwa masing-masing Destana juga melakukan pendataan nama warga yang rentan terhadap bencana. Yakni, kelompok difabel, lansia (lanjut usia), serta ibu hamil (bumil). Pendataan itu by nama by adress (nama dan alamatnya). “Kelompok inilah yang mendapatkan priotitas pertama ketika terjadi bencana,” pungkas Amik. [suf]







