Surabaya (beritajatim.com) – Kelompok Pengkaji Lingkungan Alam Fakultas Kedokteran UNAIR (KPLA FK UNAIR) melakukan kegiatan bakti sosial kepada masyarakat di Kecamatan Keputih, Sabtu ( 19/12).
Dalam baksos ini, organisasi mahasiswa FK UNAIR ini melakukan serangkaian pelayanan kesehatan. Antara lain pemeriksaan katarak, tes IVA hingga pengobatan gratis.
Ketua Baksos KPLA FK UNAIR Tahun 2021, Jeffrey Aldric Afaratu menuturkan, bakti sosial ini menyasar 140 orang lebih. Dengan rincian 12 orang yang menjalani tes IVA, 30 orang pemeriksaan katarak dan sisanya menjalani pengobatan gratis.
Pengobatan gratis ini meliputi pemeriksaan tensi, gula darah, kolesterol maupun hipertensi. Selain mendapatkan pengobatan gratis, peserta juga diberkan sembako gratis.
Meskipun masih mahasiswa, para anggota KPLA ini juga terjun langsung menangani pasien. Beberapa kegiatan yang tidak melakukan tindakan seperti tes IVA hingga anamnesis dilakukan oleh mahasiswa, tentu atas supervisi dari dokter berpengalaman.
Seperti Tes IVA, mereka mendapatkan supervisi langsung dari alumnus serta senior KPLA yakni Muhammad Fachry, dr., Sp.OG. Bahkan satu minggu sebelum baksos, para mahasiswa ini juga mendapatkan pelatihan intensif selama satu hari bersama Dokter
Fachry dan Tim Dokter lain dari RSIA Kendangsari.
Berbekal pengetahuan tersebut, mahasiswa pun menguasai prosedur skrining awal kanker cerviks ini kepada masyarakat. Dari 12 orang yang diperiksa, 2 diantaranya menunjukkan hasil positif.
“Kami melakukan tindak lanjut dengan melaporkan ini ke Dinkes Surabaya agar segera tertangani. Bahkan Dokter Fachry juga mengatakan bahwa pihaknya sanggup mengobati dua pasien tersebut secara gratis di tempatnya berpraktik,” terangnya.
Untuk pemeriksaan katarak, tim KPLA juga dibantu oleh Alumni sekaligus senior, Eri Dewanto, dr., Sp.M. Dokter Eri juga membawa serta timnya dari Eri Dewanto Clinic untuk melakukan pemeriksaan katarak. Masyarakat yang mengalami keluhan katarak juga didata dan nantinya jika ada operasi gratis akan diikutsertakan.
Selain sebagai bentuk bakti kepada masyarakat, kegiatan ini juga sekaligus sebagai bentuk sarana belajar bagi mahasiswa. Apalagi selama pandemi ini, kesempatan untuk mendalami skill sangat terbatas.
“Sejujurnya ini juga sebagai sarana belajar kami. Dengan mengamati, melakukan tindakan langsung dengan disupervisi dokter senior, kami belajar sangat banyak,” terangnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”fk-unair”]
Pembina KPLA, Bambang Pojo Semedi, dr., Sp.An.KIC menambahkan, Kegiatan yang dinamakan Gelar Bakti Aesculap ini merupakan kegiatan rutin tahunan dan kali ini sudah menginjak ke 32 Tahun. Selain sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, kegiatan ini juga merekatkan hubungan antara alumni KPLA dengan kepengurusan saat ini.
“Seorang dokter harus menguasai tiga hal, pengetahuan, softskill dan attitude. Knoledge bisa didapatkan di bangku kuliah, tapi dua hal yang terakhir, susah jika tidak dihadapkan dengan pasien langsung. Bagaimana sikap mereka jika dihadapkan pada pasien dengan kultur, tingkat sosial ekonomi yang berbeda, itu perlu diasah. Dan salah satunya melalui hal ini,” tambahnya.
Karena untuk menguasai soft skill, bagaimana cara mereka menghadapi pasien dari berbagai latar belakang, bagaimana kemampuan berpikir, tidak cukup hanya melalui bangku kuliah saja. Diperlukan praktik ke lapangan seperti ini,” terangya.
Ke depan, Dokter Pujo berharap hasil dari baksos ini dapat terdata dengan rapid an menjadi masukan kepada Dinkes setempat. Atau bisa disimpulkan pendataan yang objektif yang nantinya diolah menjadi publikasi. (ted)






