Batu (beritajatim.com) – Pencemaran Kali Kebo yang berlarut sekian tahun tanpa tindaklanjut kini perlahan mulai menampakkan titik terang. Pelaksanaan studi yang bermaksud menguji kualitas air tercemar di sepanjang aliran sungai telah dilakukan.
Program yang diinisiasi oleh Pemerintah Kelurahan Ngaglik, Kota Batu, ini berlangsung sejak bulan Oktober hingga Desember 2021. Selain melakukan uji kualitas air tercemar Kali Kebo, program ini juga menghasilkan beberapa peta yang menunjukkan bagaimana kondisi air tanah dan kerawanan bencana di daerah Ngaglik.
“Seperti yang sudah sering saya sampaikan, studi ini dilakukan dengan tujuan menyelesaikan permasalahan pencemaran Kali Kebo yang tak kunjung usai dari tahun ke tahun. Selain itu kami juga ingin tahu bagaimana ketersediaan air bersih untuk masyarakat Ngaglik di masa mendatang,” kata Lurah Ngaglik, Edwin Yogaspatra Harahap kepada beritajatim.com, Senin (20/12/2021).
Ia juga menjelaskan, hasil studi ini juga menampilkan bahwa terdapat potensi rawan longsor di beberapa titik. Salah satunya adalah lereng panderman yang terletak diatas Hotel Amarta.
Data ini semakin menguatkan keinginan masyarakat Ngaglik untuk dilakukannya konservasi di sekitar Gunung Panderman. Bentuk konservasi yang dimaksud adalah penanaman pohon yang spesifik sebagai penguat resapan air hujan yang masuk kedalam tanah.
“Setelah ini, selain melakukan sosialisasi ke masyarakat Ngaglik terkait hasil studi Air khususnya masyarakat sekitaran Belik, kami juga akan melakukan langkah konservasi berupa penanaman pohon yang memiliki fungsi mengikat air di beberapa titik rawan. Langkah itu kami lakukan sebagai antisipasi adanya luapan air yang berlebih dari atas gunung serta menjaga kelestariannya untuk masa mendatang,” tegasnya.
Di lain sisi, salah satu tim peneliti, Mukhlis Said, ketika ditanya bagaimana hasil studi di Kelurahan Ngaglik, ada sekian informasi penting yang masyarakat perlu tahu. Untuk Kali Kebo ia mengatakan bahwa indikator yang menunjukkan air telah tercemar adalah keberadaan beberapa jenis plankton.
“Ada dua spesies bernama Phacus sp. Dan Trachelomonas sp, yang merupakan bioindikator lingkungan telah tercemar oleh kotoran hewan atau manusia. Artinya, memang benar apabila masyarakat meresahkan pembuangan limbah ternak dan IPAL yang kurang terstandar,” kata mantan Presbem ITS Surabaya ini.
[berita-terkait number=”4″ tag=”kota-batu”]
Pemuda yang juga berdomisili di Kota Batu ini menambahkan bahwa hasil studi hanyalah awalan untuk melakukan langkah-langkah konstruktif berikutnya. Sehingga segala makhluk hidup mulai dari manusia, tumbuhan dan hewan dapat kembali hidup secara nyaman berdampingan dengan aliran sungai.
Selain itu, ia menambahkan dalam studi kali ini terdapat beberapa jenis peta yang masyarakat Ngaglik perlu memahami. Diantaranya adalah peta geologi dan akuisisi geolistrik, peta curah hujan tahunan, peta hidrogeologi, peta muka air tanah, peta kawasan rawan bahaya longsor, peta kerentanan air tanah.
“Ragam jenis peta ini perlu disosialisasikan secara meluas dan berkala, mengingat pemberitahuan informasi semacam ini jarang dilakukan. Agar kita mengetahui bagaimana merawat alam, agar kelak alam merawat kita semua,” tandasnya. [asg/but]






