Magetan (beritajatim.com) – Pelayanan RSUD dr. Sayidiman Magetan mengecewakan. Kali ini salah seorang wali pasien mengaku kecewa dengan pelayanan salah seorang dokter anak yang melakukan penanganan untuk pasien anak, NR (5) warga Kecamatan/Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Rekam medis untuk pasien tertukar dengan pasien anak yang lain, dan sang wali pasien yakni R (33) merasa tidak terima karena seolah dokter menggampangkan hal tersebut.
R mengungkapkan kalau pasien masuk perawatan pada Selasa (13/12/2021) dengan gejala demam dan dirawat di ruang VIP di Paviliun Wijaya Kusuma usai mendapat penanganan di instalasi gawat darurat. Saat itu langsung dilakukan pengecekan laboratorium dan terlihat bahwa trombosit berjumlah 141, kemudian di hari kedua, 134, dan di hari ketiga tertukar dengan pasien lain. NR seharusnya memiliki kadar trombosit 132, namun dalam rekam medis yang diterima sang dokter anak yakni sejumlah 59.
“Saya sempat shock, dengan jumlah segitu seharusnya anak saya kritis. Tapi, dia baik-baik saja dan hanya demam saja. Dokter Siti Ariffatus menjelaskan kalau kondisi seperti itu bisa saja terjadi dan beliau menyebut kalau pasien bisa saja terlihat sehat dengan kadar trombosit yang turun. Dan beliau bilang kalau pihaknya punya ruang intensive care unit (ICU). Saya semakin down karena sang dokter seolah mengamini kalau anak saya sudah dalam kondisi kritis dan kapan saja bisa masuk ICU,” katanya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”RSUD-Magetan”]
R sempat menyangsikan hasil cek laboratorium tersebut. Lantaran, kondisi anaknya tak menunjukkan kondisi yang memburuk. Anaknya terlihat sehat dengan suhu yang tinggi saja. Dia sempat bertanya pada sang dokter terkait hasil rekam medis tersebut apakah sudah sesuai. Namun, sang dokter menjawab kalau dirinya tak hanya berpedoman pada uji klinis, tapi juga melihat langsung kondisi pasien. R makin ragu, meski berpedoman juga pada kondisi pasien secara langsung mengapa sang dokter tak membawa stetoskop ataupun senter untuk sekedar mengecek kondisi fisik anaknya secara langsung saat visitasi. Dia mencoba pasrah karena sang dokter bersikukuh kalau anaknya dalam kondisi kritis.
Beberapa saat setelah mendapat diagnosis dokter terkait rekam medis tersebut, sang kepala Paviliun Wijaya Kusuma Annastasya Eko menghampirinya dan meminta maaf. Bahwa laporan rekam medis NR tertukar dengan pasien anak lain yang namanya hampir sama dengan NR. Kemudian Annas menjelaskan bahwa dari hasil rekam medis yang benar- benar milik NR menjelaskan bahwa trombosit NR yakni 132. Sehingga, kondisi NR memang dinyatakan baik sesuai hasil cek lab.
Saat itulah R mulai lega dan merasa tidak terima. Dia merasa bahwa dokter yang menangani anaknya terkesan sembrono dan menyepelekan nyawa pasien. Pada R, sang dokter mengakui kalau tak membaca langsung hasil lengkap rekam medis NR. Sang dokter hanya mendapat laporan rekam medis via telepon. Alasannya, supaya informasi bisa lebih cepat diterima. Namun, jawaban tersebut justru membuat R makin kecewa.
“Ini membuktikan kalau dokter yang menangani perlu dipertanyakan kualifikasi dokternya. Hasil rekam medis yang tertukar ini bagaimana. Kalau tindakannya keliru bisa berpengaruh pada kondisi pasien. Saya langsung meminta nomor kontak dokter yang menangani dan saya minta beliau untuk menemui saya dan menjelaskan langsung kondisi pasien saya. Dan bahkan saya meminta untuk membandingkan hasil lab dari RSUD dengan laboratorium lain,” kata R.
Setelah mendapatkan hasil lab dari laboratorium lain, R mulai benar-benar lega. Trombosit anaknya berada di angka 137. Pun, hasil cek lab di RSUD menunjukkan trombosit anaknya 146. Dari situlah sang dokter baru melakukan pemeriksaan ulang dengan membawa stetoskop dan senter. Setelah itu, putrinya diperbolehkan pulang pada Jumat (17/12/2021).
“Di akhir dinyatakan kalau anak saya hanya mengalami hipertermi atau suhu badan yang terlalu tinggi. Dan di akhir pertemuan kami dengan dokter tak ada permintaan maaf secara langsung. Hanya kepala paviliun yang terus menerus meminta maaf kepada saya, bahkan turut menerangkan hasil rekam medis di akhir anak saya hendak pulang dari RS. Semua memang ada itikad baik dari RSUD untuk meminta maaf dan memberikan klarifikasi,” kata R.
Sayangnya, dia terlanjur kecewa. Jika pelayanan seperti itu tetap dilanjutkan, maka dia yakin kalau tak akan ada masyarakat Magetan yang percaya dengan pelayanan di RSUD dr Sayidiman. Dia ingin pelayanan yang baik tetap dikedepankan. Terlebih bagi dokter, perawat, dan pegawai yang bersinggungan langsung dengan pasien maupun warga dengan berbagai keperluan di RSUD dr Sayidiman.
“Tidak bisa jika tenaga kesehatan terus-terusan minta maaf ataupun melakukan kesalahan. Terlebih bagi mereka yang langsung menangani pasien. Mereka harus menghargai nyawa pasien. Kami paham beban kerja mereka mungkin berat, tapi apakah harus kami yang jadi pelampiasan?” keluhnya.
Terpisah, Direktur RSUD dr Sayidiman drg. Ratnawati membenarkan terkait kejadian yang dialami R. Pun, dia mengklaim kalau permasalahan tersebut sudah diselesaikan oleh dokter yang menangani dan pihak keluarga pasien. ”Ya. Menurut penelusuran kami, kemarin sudah diselesaikan dokter anak dan dengan bagian laboratorium sekaligus dengan pihak keluarga,” katanya.
Saat ditanya terkait langkah RSUD dr Sayidiman Magetan untuk mencegah hal tersebut kembali terjadi, Ratna menjawab kalau pihaknya sedang menindak lanjuti dan mengumpulkan akar permasalahan dahulu. Dan saat ini sedang dalam proses.
Tak hanya R, banyak sekali yang mengeluhkan pelayanan RSUD dr Sayidiman Magetan dalam 176 ulasan atau review di google. Mayoritas mengeluhkan pelayanan fasilitas kesehatan Pemkab Magetan itu. Mulai dari pelayanan nakes, apoteker. Mulai dari salah diagnosa hingga salah obat. Meski ada beberapa reviu yang mengungkapkan kepuasan terhadap pelayanan.
“Periksa ke dr spesialis dalam..dokternya aslinya g ada yg meriksa perawat…ke bagian farmasi..setelah saya cek trnyata obat tertukar dengan pasien lain dan saat komplain malah cekikikan..membahayakan dan mengecewakan..hati hati berobat di rs ini,” tulis akun Ebbay dalam review google pada enam bulan yang lalu. (fiq/kun)






