Kesan murung langsung muncul ketika memasuki ruang pameran komunitas Balai Reriungan Sidoarjo. Lesu, kumal, usang, dan jauh dari hal ihwal kerapian. Waktu seperti macet di ruangan ini.
Ruangan yang menolak hasrat, mematikan gairah. Mungkin sebuah kematian. Atau setidaknya stagnasi alias kemandegan. Segala sesuatu seperti terasing dari kesehariannya. Tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Kode estetik yang digelar oleh komunitas Balai Reriungan sangat menuntun pada situasi murung. Mesin bordir tertutupi kelambu kusam, lembaran-lembaran sisa kain, palu dan tang bertumpukan seakan telah lama menganggur. Juga bekas tinta, lem, gulungan tembaga. Ruangan pertama ini memerlihatkan tempat produksi kerajinan yang lama tak beroperasi.
Pada pameran perdana komunitas Balai Reriungan, di Dekesda Art Center, 9 – 12 Desember 2021; ruangan sepertinya sengaja dipecah dalam tiga kategori. Pembagian yang terlihat dari keseragaman fungsional kode estetik.
Ruang pertama kategori produksi. Ruang kedua kategori manajerial. Meja dengan serakan buku dan katalog, lemari arsip yang menyembulkan kertas dan map, lalu merek-merek produk menempel di lembaran plastik yang tergantung di dinding. Sama seperti kategori ruang pertama, kesan murung terasa di ruangan kategori kedua.
Ruang kategori ketiga tampak sedikit optimis. Lampu di ruangan ini memang dibikin lebih terang dibanding dua ruang sebelumnya. Optimisme itu terwakili oleh kehadiran kode estetik berupa tas raksasa. Tinggi sekitar 2 meter, lebar kisaran 1 meter, panjang lebih dari 3 meter.
Dalam keseluruhan ruangan, tas raksasa itu adalah satu-satunya benda yang tampak segar, baru, dan memiliki nilai guna. Sehingga justru kemunculannya serasa terasing. Satu optimistime di tengah perayaan kemurungan. Apalagi tas diapit oleh 2 instalasi kumuh. Di kiri ada 3 koper tua yang lusuh. Di kanan ada display tas wanita, lagi-lagi hadir dalam kelusuhan.
Konsep keindahan atau estetika dengan wujud “bersih, rapi, dan megah” sepertinya tidak diamini oleh pameran bertajuk “Lakon: Luka-Laku-Loka – Tambal Sulam” ini. Keindahan justru dihadirkan dalam wujud lusuh, lesu, dan kekacauan penataan (baca: tidak rapi). Ruangan galeri dieksplorasi untuk mengejawantahkan stagnasi waktu. Waktu yang murung. Kumuh dan macet.
Dalam sejarah seni rupa modern Indonesia yang tergesa-gesa, pameran dengan mengeksplorasi ruangan mengingatkan pada Pasar Raya Dunia Fantasi, 34 tahun lalu, yakni 15 – 30 Juni 1987 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pameran para perupa muda seperti Harsono, Jim Supangkat, Siti Adiyati, Gendut Riyanto, Haris Purnomo, Priyanto, Wienardi, dan beberapa seniman non seni rupa.
Mereka menganggap seni rupa di Indonesia mengalami kebangkrutan akibat pemahaman yang sempit, yakni menganggap seni rupa hanya terfokus pada lukis, patung, dan grafis. Sebagai reaksi, mereka membuat pameran dengan eksplorasi ruang seperti keadaan pasar swalayan. Sebuah pameran yang didahului dengan riset dan pengumpulan data, serta inventarisasi karya seni yang dijajakan di jalanan. Hasil temuan benda yang bisa diidentifikasi sebagai budaya urban diduplikasi dalam ukuran besar.
Cara kerja pameran Pasar Raya Dunia Fantasi ternyata sangat mirip dengan yang dilakukan Balai Reriungan. Sebuah komunitas seni yang dimotori oleh para perupa dan seniman non seni rupa berusia muda dari Sidoarjo. Terdiri dari (1) Zalfa Robby, lulusan Seni Murni Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) dan lulusan Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, (2) Anggono Tengik, lulusan Seni Murni STKW Surabaya, dan (3) Ndimas Narko Utomo, lulusan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) jurusan musik. Jika merujuk pada latar belakang pendidikannya, para motor Balai Reriungan ini adalah orang-orang tidak mudah gegabah dengan teori dan aliran-aliran seni.
Dalam batasan tertentu, bisa jadi, keresahan dan pandangan-pandangan kritis orang-orang Pasar Raya Dunia Fantasi mengalir deras pada para penggerak komunitas Balai Reriungan. Sehingga memotivasi pergelaran pameran Lakon: Luka-Laku-Loka – Tambal Sulam. Pameran yang mengeksplorasi ruangan.
Dalam presentasi saat pembukaan pameran, Balai Reriungan mengaku melakukan riset selama 3 sampai 4 bulan ke beberapa tempat terkait koperasi Intako (Industri Tas dan Koper) Tanggulangin Sidoarjo. Mereka melakukan wawancara pada para perajin, masyarakat sekitar, dan tokoh masyarakat. Selain mencari data perihal transaksi, mereka masuk lebih ke dalam. Bahwa di kelindan pasar industri tas dan koper juga ada persaingan, intrik, juga premanisme.
Benda-benda yang dibawa ke ruang pameran Balai Reriungan merupakan hasil peminjaman milik para perajin di Intako. Benda-benda yang dirakit ulang menjadi karya seni bernuansa murung.
Meski secara metode proses kretif cenderung sama, Balai Reriungan memiliki kajian objek yang lebih nyata. Pasar Raya Dunia Fantasi menembak gaya hidup urban melalui reproduksi iklan di ruang publik. Balai Reriungan menukik langsung pada realitas keseharian kelompok masyarakat. Daya juang para perajin dan pedagang Intako untuk bertahan hidup.
Watak perwujudan karyanya juga berbeda. Pasar Raya Dunia Fantasi membangun sebuah dunia gemerlap. Fantasi. Sedangkan Balai Reriungan seakan memindahkan kemurungan nasib para perajin dan pedagang di Intako ke dalam galeri. Tidak ada reproduksi benda-banda. Yang ada semacam intalasi ulang sehingga tercipta miniatur Intako yang murung.
Tentu saja bukan sekadar miniatur. Ketika sudah memasuk ruang galeri, benda-benda dari Intako telah menjelma kode bahasa estetik. Ia berposisi sebagai lambang dan tanda. Ia membuka ruang tafsir. Terikat kepada realitas di Intako sekaligus lepas menyeruak ke realitas lain yang lebih luas dan sublim.
Mengapa harus Intako? Mungkin sebatas kebetulan, mungkin juga kesengajaan. Tetapi yang pasti, Intako di kawasan Tanggulangin merupakan salah satu ikon industri Sidoarjo. Saat masih jaya, Intako kerap disambangi wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Produk Intako memenuhi kebutuhan pasar Sidoarjo, Jawa Timur, nasional, juga diekspor ke negara lain.
Perihal urusan perdagangan, Sidoarjo memang memiliki riwayat yang sangat tua. Jauh sebelum kerajaan Singasari dan Majapahit, mobilitas perdagangan di Sidoarjo telah terbangun. Prasasti Kuti (840 Masehi) yang ditemukan di Joho, Kecamatan Gedangan, Sidoarjo, mencatat daerah asal pedagang-pedagang asing. Ada dari Kamboja, India, China, Vietnam. Mobilitas perdagangan ini terkait dengan latar geografis Sidoarjo yang dilintasi sungai Brantas.
Ketika Airlangga berkuasa di kerajaan Kahuripan, mobilitas perdagangan di Sidoarjo kian meningkat. Prasasti Kamalagyan (1037 M) di Klagen, Kecamatan Krian, Sidoarjo, memerlihatkan pengaturan Airlangga dalam sektor perdagangan. Airlangga juga mengatur jumlah pajak yang dikenakan kepada pedagang lokal dan pedagang asing.
Sektor perdagangan, yang di situ uang berputar, kerap kali diwarnai kehidupan yang keras. Demi menjamin kelancaran dan keamanan aktivitas perdagangan, Airlangga sampai memberi hak khusus terhadap tokoh masyarakat atau preman. Prasasti Kakurugan (1023 M) menandai pemberian wewenang Raja Airlangga kepada seseorang bernama Dyah Kakingadulengen. Dia diberi hak untuk memotong kaki orang, menagih utang, memelihara budak. Saking istimewanya, Airlangga membolehkan Dyah Kakingadulengen mengambil gadis yang sudah diikat lamaran atau wanita yang sudah bersuami.
Jejak-jejak perdagangan masa Jawa Kuno itu mungkin masih bisa ditemui di Sidoarjo. Mungkin juga turut diwarisi oleh para perajin Intako. Bahkan, mungkin, ia turut memberi makna terhadap benda-benda industrial dari pameran Balai Reriungan. Tang dan palu bertumpukan.
[berita-terkait number=”5″ tag=”ribut-wijoto”]
Di luar konteks sejarah, dalam rentang waktu yang lebih dekat, aktual, nasib para perajin di Intako sedang dirundung situasi tiarap. Semuanya akibat sergapan pandemi Covid-19. Aktivitas perdagangan terhenti. Tidak ada lagi orang datang untuk membeli produk tas dan koper. Maka, toko pun tutup. Juragan tak lagi meraup gemerincing uang. Karyawan diliburkan. Para perajin mengistirahatkan alat-alat produksi. Waktu seakan turut istirahat. Entah sampai kapan. Tidak ada yang tahu. Sedangkan tagihan listrik tetap harus dibayar, perut tetap menuntut dijejali makanan, tagihan bank harus dilunasi. Waktu bukan lagi sebatas istirahat, tetapi macet, berkarat, kusam, dan murung.
Balai Reriungan tampaknya tidak rela bila nasib murung para perajin Intako ditampilkan dalam pameran seni dengan nuansa megah, rapi, gemerlap. Dan mungkin di kemurungan itu terwujud makna keindahan. Estetika. Keindahan yang hadir dalam kejujuran, kebenaran, juga empati.
Benda-benda murung dari Intako yang diinstall ulang dalam pameran Balai Reriungan, bisa jadi, tidak sekadar membicarakan Intako sendiri. Tidak terbatas Sidoarjo. Lebih luas lagi, ia mungkin sedang berbicara tentang nasib industri di Indonesia. Industri Indonesia yang murung. Mirip tas raksasa, agak mewah, yang hadir dikelilingi tas-tas kusam, benda-benda kusam. [but]






