Bojonegoro (beritajatim.com) – Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Bojonegoro mengidentifikasi jumlah titik perahu penyeberangan tradisional yang ada di sepanjang Sungai Bengawan Solo wilayah setempat. Jumlah penyeberangan itu ada 46 titik. Jumlah tersebut sudah mengalami penyusutan dari sebelumnya sebanyak 86 titik penyeberangan.
“Banyaknya perahu penyeberangan yang sudah tidak aktif ini karena ada intervensi dari pemerintah adanya pembangunan jembatan penyeberangan yang melintas di atas Sungai Bengawan Solo,” ujar Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Bojonegoro, Andik Sudjarwo, Sabtu (6/11/2021).
[berita-terkait number=”5″ tag=”perahu-tenggelam”]
Sementara untuk kegiatan dan pembinaan promo kesehatan bagi penambang perahu penyeberangan tradisional, lanjut Andik, terus dilakukan. Itu karena ada program pembinaan operator. Selain itu secara reguler juga ada pembagian life jacket, ring buoy, dan papan peringatan imbauan.
“SOP keamanan standar penumpang sudah ada di setiap titik penyeberangan. Jumlah penumpang harus sesuai dengan kondisi arus sungai,” terangnya.
Sementara, diduga tenggelamnya perahu penyeberangan itu terjadi saat menerjang arus yang ada di bawah pembangunan jembatan penghubung Kanor-Rengel (KaRe). Karena sisi kanan dan kiri sungai dibendung untuk pembangunan tiang jembatan sehingga arus semakin besar.
Pembangunan jembatan Kanor-Rengel (KaRe) ditarget rampung akhir Desember 2021. Progres pembangunan jembatan kini dalam pembangunan tiang. “Karena terhempas arus, perahu oleng dan hanyut,” ungkap Kepala Desa Semambung Kecamatan Kanor Neni Rahmawati, kemarin.
Selain pembangunan jembatan KaRe, pembangunan jembatan yang membentang di atas Sungai Bengawan Solo yang sudah selesai seperti di Trucuk, Malo, Padangan, Ngraho, dan Kota Bojonegoro. [lus/suf]






