Jember (beritajatim.com) – Kesadaran masyarakat di kawasan Tapal Kuda, Jawa Timur, untuk melakukan vaksinasi masih rendah. Bahkan ada semacam kekhawatiran terhadap vaksin.
“Vaksinasi di daerah Tapal Kuda alih-alih dianggap upaya pencegahan, malah ada beberapa orang berpendapat kenapa bayi sehat kok malah dibikin sakit,” kata Muhammad Atoillah Isfandiari, Wakil Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, saat ditemui di Kabupaten Jember, Senin (1/11/2021).
[berita-terkait number=”5″ tag=”vaksin”]
Pandangan itu muncul karena pasca vaksinasi ada gejala ikutan seperti demam. “Yang sebenarnya justru kalau demam menunjukkan bahwa itu benar-benar vaksin, tubuh kita bereaksi. Sama seperti penyakit itu kalau masuk kan demam, setelah itu kebal. Vaksin ini untuk mengenalkan tubuh anak pada satu penyakit. Kalau vaksin bagus, tubuh bagus, tubuh akan merespons berupa demam. Tentunya demam ini akan berbeda bahayanya, jika yang masuk penyakit sesungguhnya,” kata Atoillah.
Namun, lanjut Atoillah, ada juga vaksin yang didesain tidak menimbulkan demam setelah disuntikkan. “Vaksin ada beberapa komponen. Seperti vaksin DPT, kalau premium ada komponen yang menyebabkan demam yang dihilangkan. Tapi ongkos produksinya mahal, sehingga kelasnya lebih mahal. Tapi ada yang tidak demam, kita patut waspada, jangan-jangan respons tubuh si anak juga tidak bagus,” katanya.
Atoillah mencontohkan vaksin Sinovac yang tidak menimbulkan demam. “Tapi antibodi tetap muncul,” katanya. [wir/kun]






