Magetan (beritajatim.com) – Pembuangan limbah rumah tangga di kawasan Telaga Sarangan jadi pekerjaan rumah yang menahun bagi Dinas Lingkungan Hidup Magetan. Pembinaan dan edukasi bagi masyarakat belum mengena pada hati nurani masyarakat sekitar. Baik pengunjung ataupun warga setempat yang memanfaatkan telaga Sarangan.
Plt Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH Magetan Ririn Rahmawati mengungkapkan kalau pihaknya sudah melakukan sosialisasi pada warga sekitar. Dan bukan hanya terjadwal tiap tahunnya, tapi juga disampaikan saat mereka bertandang ke telaga Sarangan jika masuk jadwal untuk pemeriksaan rutin kualitas air.
Dia menganggap kalau untuk menyadarkan masyarakat bukan hanya peran dari DLH saja, tapi termasuk lintas sektor lain yang turut bersinggungan langsung pada pelaku wisata ataupun pengunjung yang ada di Telaga Sarangan.
‘’Dan kebetulan untuk pemantauan kualitas air sudah bisa kami cek setiap hari. Ada alat dari Kementerian Lingkungan Hidup untuk memantau kualitas air. Dan hasil pemeriksaan bisa dipantau menggunakan aplikasi yang bisa diunduh siapa saja,’’ kata Ririn.
Dari hasil pemeriksaan dari pantauan daring tersebut menunjukkan tingkatan kualitas air mulai baik, cemar ringan, cemar sedang, hingga cemar berat. Berikut ada juga indator yang menunjukkan kandungan bahan kimia yang terkandung dalam air.
[berita-terkait number=”4″ tag=”telaga-sarangan”]
Pantauan terakhir yang tercatat yakni tanggal 13 Oktober 2021 terlihat bahwa kualitas air di Sarangan terpantau baik. Dengan kadar total zat padat (TDS) yakni 246,48 mg/L, BOD 2,27 mg/L, COD 9,44 mg/L, dan DO 4,84 mg/L.
DO (Dissolved Oxygen / Oxygen Demand) adalah kandungan oksigen yang terlarut didalam air sebagai parameter untuk mengukur kualitas air. BOD (Biological Oxygen Demand) adalah jumlah oksigen terlarut yang diperlukan oleh mikroorganisme untuk mengurai bahan organik didalam air. COD (Chemical Oxygen Demand) merupakan jumlah kebutuhan senyawa kimia terhadap oksigen untuk mengurai bahan organik.
Ketiga indikator tersebut masih dibawah kadar standar yang mengindikasikan bahwa Sarangan tercemar. Namun, begitu Ririn menyayangkan masih adanya warga yang membuang limbah rumah tangga ke Sarangan. Terlebih, tanpa ada treatment atau penyaringan dan pemisahan terlebih dulu.
‘’Dan menurut pantauan kami bukan hanya limbah rumah tangga saja, tapi termasuk dengan aktivitas dari pelaku wisata khususnya pedagang kaki lima ataupun penyedia jasa kuda,’’ katanya. (fiq/ted)








