Surabaya (beritajatim.com) – Cesc Fabregas adalah pemain yang sangat diandalkan Arsenal untuk jadi komando sisi tengah pada era kepemimpinan Arsene Wenger. Delapan musim berseragam The Gunners, pemain yang saat ini membela As Monaco itu telah mencatatkan 304 caps dengan torehan 57 gol dan 93 assist.
Lebih dari itu, Fabregas pun dipercaya mengemban ban kapten dalam usia yang notabene masih sangat muda, yaitu 21 tahun. Namun, Fabregas pergi dari Arsenal dengan sederet kekecewaan. Lalu apa saja yang mendasari kepergian Fabregas dari Arsenal di masa itu?
Alasan yang paling terlihat dari hengkangnya Fabregas yaitu faktor tekanan tinggi dari klub maupun penggemar. Sejak mengemban ban kapten tekanan demi tekanan terus diarahkan pada dirinya. Dapat dibayangkan, ketika Fabregas yang baru berusia 21 tahun, harus memimpin klub sebesar Arsenal.
Fabregas dipercaya sebagai kapten usai menggantikan posisi William Gallas pada November 2008. Namun itu hanya bertahan tiga tahun, sebab pada 2011 Fabregas akhirnya memilih hengkang ke klub masa kecilnya, Barcelona.
Di samping itu ada juga pengakuan miris dari Fabregas, saat dirinya merasa begitu kesepian. Terlebih saat The Gunners kalah, pemain lain justru terlihat biasa-biasa saja, bahkan tertawa. Padahal, pemain asal Spanyol tersebut merasa hancur hatinya, sedangkan yang lain justru berpikir akan pergi ke klub mana setelah berada di Arsenal. Mungkin saja, jika bukan karena sikap rekan-rekan yang begitu, bisa saja Fabregas masih bertahan.
Beruntung, masih ada segelintir rekan yang paham dengan kondisi juga merasakan hal yang sama, yaitu Samir Nasri dan Robin van Persie. Baginya, tanpa bermaksud menyombongkan diri, hanya 2 pemain tersebut yang memiliki mental dan teknik yang menyamainya. Itu terjadi dalam 2 atau 3 musim sebelum kepindahan Fabregas ke Barcelona. Ia mengaku bahwa fisik dan mental-nya begitu terkuras. Tidak lama setelah Fabregas pindah, kedua pemain yang jadi rekan terbaiknya turut pindah.
Alasan terakhir dan mungkin jadi yang paling kuat yaitu masalah gelar. Selama bersama Meriam London, Fabregas masuk pada masa skuad Arsenal yang cukup kuat. Terbukti mereka mampu bersaing di zona 4 besar Liga Inggris, bahkan sempat merasakan final Liga Champions Eropa musim 2005/06.
Namun, bagi Fabregas itu belum cukup. Sebab dirinya belum pernah sekalipun merasakan gelar Liga Inggris maupun UCL. Fabregas pun memutuskan hengkang ke Barca, dilanjutkan ke Chelsea. Hingga akhirnya ia mampu mewujudkan gelar Liga Inggris pertamanya musim 2014/15, dan terulang pada musim 2016/17. Meski tidak pernah merasakan gelar juara Liga Champions Eropa hingga saat ini. (dan/tur)






