Surabaya (beritajatim.com) – Lahir di Senegal 10 Maret 1948, Jean-Pierre Adams meninggal 8 September 2021 lalu. Adams merupakan mantan pemain sepakbola yang pernah bermain selama 9 musim di divisi tertinggi liga Perancis. Semasa kecilnya, Adams hijrah ke Perancis bersama sang nenek dan didaftarkan pada sebuah sekolah.
Usai sang nenek meninggal, ia lalu diadopsi oleh sebuah keluarga dari Perancis yang begitu baik hati. Di dunia sepak bola, Adams mengawali karir bersama Entene BFN lalu berpindah ke Nimes di tahun 1970.
Tiga musim bersama Nimes, ia kemudian pindah ke Nice sampai musim 1997, klub terlama yang ia bela selama 4 tahun. Hingga tahun 1979 ia bermain untuk PSG. Total 41 penampilan berhasil dia catatkan, sebelum akhirnya memutuskan pindah ke Mulhouse dan gantung sepatu di FC Chalon pada usia 33 tahun akibat cedera lutut.
Di level tim nasional bersama Les Bleus, Adams telah bermain sebanyak 22 pertandingan. Posturnya yang tinggi dan besar, membuat ia jadi bek tangguh yang sulit dilewati oleh striker lawan. Aksi kompaknya bersama Marius Tresor dalam menjaga benteng pertahanan Perancis sangat terkenal saat itu, hingga mereka dijuluki “La Garde Noire” atau ‘Black Guard’.
Pada 17 Maret 1982, dia berangkat ke Dijon selama tiga ha untuk belajar sebagai pelatih. Setelahnya, ia pergi ke Rumah Sakit Lyon untuk mengecek cedera yang pernah dialaminya. Namun, dokter menyarankan Adams untuk operasi agar menyembuhkan cedera tersebut. Setelah tanggal operasi disepakati, Adams datang kembali ke rumah sakit tersebut.
Petaka menghampiri hidup Adams hari itu, bersama dengan aksi mogok oleh dokter dan perawat. Karena kurangnya tenaga medis, ahli anestesi yang mengurusi Adams juga harus mengawasi 7 pasien lain.
Kejadian malpraktik itulah yang jadi awal mula bagi hidup Adams. Dokter ahli anestesi itu memberi dosis yang salah pada Adams. Obat bius yang diberikan kepada Adams justru membuat dirinya mengalami kerusakan otak karena kekurangan oksigen.
Setelah kecelakaan pembiusan itu, sang istri yaitu Bernadette segera dipanggil lewat telepon. Bernadette yang berduka tetap di samping tempat tidur Adams hingga lima hari dan lima malam sembari berharap ada perubahan kondisi.
Sayang harapan itu tak kunjung data hingga diputuskan bahwa Adams akan dirawat dirumah bersama Istri setia tersebut. Selama pengobatan saat koma, Adams dibantu beberapa klub yang pernah dibela, mulai dari Nimes hingga Paris Saint-Germain.
Sebagaimana dilansir dari (www.theguardian.com), kedua klub tersebut menawarkan 15 ribu franc (38 juta rupiah), sementara federasi sepak bola Perancis memberi 6 ribu franc (15 juta rupiah) setiap minggu sejak Desember 1982.
Dari kejadian naas tersebut, Adams menghabiskan lebih dari setengah hidup dalam keadaan koma. Selama itu pula ia selalu ditemani oleh istrinya yang begitu setia, Bernadette Adams .
Kendati banyak orang-orang yang menyarankan agar Jean Pierre Adams disuntik mati, akan tetapi hal itu ditolak mentah-mentah oleh istrinya. Hingga pada Senin, 6 September 2021 lalu, Adams telah menghembuskan nafas terakhir saat menginjak usia ke-79 tahun. (dan/tur)






