Surabaya (beritajatim.com) – Pertandingan semifinal Piala Dunia 2014 yang mempertemukan tuan rumah Brasil berhadapan dengan Jerman masih jadi ingatan hingga sekarang. Saat itu, prediksi pertandingan memang berpihak pada die mannschaft, julukan timnas Jerman, tapi tidak ada yang menyangka jika skor besar akan terjadi.
Kemenangan Jerman ini juga menjadi sejarah buruk tersendiri untuk sepakbola Brasil. Beberapa media internasional mengenal tragedi ini sebagai ‘Mineirazo’. Sebutan tersebut mengambil tempat terjadinya tragedi ini di Mineirão kota Belo Horizonte, Brasil, tepat 8 Juli tahun 2014. Lalu apa yang salah dari timnas Samba hingga tertunduk malu pada Jerman? Dan apa formula sukses Timnas Jerman bisa menang dengan skor telak?
Petaka itu dimulai dari lini pertahanan Brasil yang kacau balau. Absennya bek andalan sekaligus kapten timnas Seleção, Thiago Silva jadi pengaruh besar pada jantung belakang tuan rumah. Ketidakhadiran sang kapten membuat Brasil kehilang jiwa pemimpin ulang di lini belakang.
Kuartet bek yang diisi Maicon, David Luiz, Dante, dan Marcelo tidak mampu berkoordinasi dengan baik. Hal ini dapat terlihat dari prosesi gol kedua Jerman, David Luiz dan Dante tidak yang miss komunikasi ditambah mereka tidak siap, sehingga bola dengan gampang dapat melewati keduanya. Begitu juga dengan Marcelo yang mudah terkecoh oleh pergerakan apik Thomas Muller sehingga membuka ruang untuk Miroslav Klose menjebloskan bola ke gawang.
Pada pertandingan ini Brasil juga kehilangan bintang muda di lini serang. Neymar yang sejak melawan Bolivia di perempat final sudah absen, kembali tidak memperkuat karena cederanya belum pulih. Di lain sisi, Tim Panzer tampil dengan sepakbola yang efektif dan kolektif, simple namun mematikan. Jerman memang tampil gacor kala membabat habis Brazil di rumah mereka sendiri.
Tidak mengandalkan skill dribbling untuk melewati lawan atau beradu kecepatan untuk memenangi duel. Permainan kolektif antar satu tim yang dilakukan Jerman seolah mereka sedang mengajari Brazil cara bermain sepakbola modern. Ini bisa terlihat dari begitu simple dan efektifnya permainan kolektif Jerman pada gol yang dihasilkan oleh Klose, Kroos, maupun Khedira. Jerman yang sadar jika timnya tidak dipenuhi pemain dengan skill individu tinggi. Mereka pun mengandalkan kerja sama dan kolektivitas antar pemain.
Di lini tengah, sebagai pengatur tempo permainan, Jerman kala itu diperkuat pemain kelas dunia. Mesut Ozil, Sami Khedira, dan Bastian Schweinsteiger, dan Toni Kroos mampu menampilkan performa apik untuk tim Panzer. Ini juga jadi salah satu kunci kemenangan besar atas Brazil. Dari segi statistik pertandingan, Tim Samba memang punya persentase penguasaan bola yang lebih unggul ketimbang Jerman. Namun duet pivot yang diisi Fernandinho dan Luiz Gustavo gagal menjalankan tugas untuk menghalau laju serangan pada area yang dikomandoi oleh Toni Kroos dan kawan kawan.
Pada laga ini, Jerman juga unggul dari segi kerjasama antar pemain. Chemistry memang jadi hal yang penting dalam sepak bola. Jerman kala itu seolah mengajarkan penggemar sepakbola pentingnya hal itu. Sekuat apapun tim yang dimiliki dengan kualitas individu pemainnya maka hal sia-sia belaka jika tidak berimbang dengan kesatuan dan pemahaman antar rekan satu tim.
Jika menilik Starting eleven Jerman saat menghadapi Brasil, seluruh pemain kecuali Howedes dan Hummels sudah bermain bersama sejak Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Maka tak heran bila Jerman tampil solid karena mereka punya kesebelasan yang sudah mengenal satu sama lainnya dengan waktu yang lama.
Hal terakhir yang jadi masalah adalah mentalitas tim. Sebagai tuan rumah tentu tim Samba punya ekspektasi yang besar untuk mengamankan gelar piala dunia ke-6 di rumah sendiri. Namun, sayang ekspektasi ini bertuah menjadi bencana. Tuntutan tinggi dari para fans berpengaruh pada mental pemain sebelum pertandingan dimulai. Hal ini semakin kian parah sebab Jerman mampu cetak lima gol pada babak pertama dalam waktu relatif singkat. Itulah sekelumit cerita Piala Dunia 2014, yang akan terus diingat penggemar sepak bola di seluruh dunia. (dan/tur)






