SIANG itu, sekitar tiga pekan lalu, saya bertemu seorang ibu. Ia menceritakan betapa jenuh anaknya. Sejak diterapkan belajar daring di sekolahnya. Di masa pandemi Covid-19, yang sudah lewat 1,5 tahun lebih.
“Anak saya sudah jenuh. Tidak betah. Pengin masuk sekolah. Belajar tatap muka, ketemu guru dan kangen ketemu teman-temannya. Anak saya kangen sekolah,” kata ibu tiga putera itu.
“Sebagai orangtua, saya setuju sekolah dibuka lagi. Belajar tatap muka. Anak gak bisa menyerap pelajaran maksimal dengan sistem daring,” katanya.
Pemerintah mengijinkan dimulainya pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas. Untuk daerah yang sudah masuk level 3-2-1 PPKM Darurat. Tentunya dengan assesment Satgas Covid-19. Dengan protokol kesehatan ketat. Daerah yang level 4, belum diijinkan menggelar belajar tatap muka.
Di Kota Surabaya, yang sudah level 3 PPKM Darurat, belajar tatap muka pun segera dimulai. Sekolah SD dan SMP yang memenuhi syarat, akan menggelar belajar tatap muka.
Meski demikian, tidak semua orangtua merespon gembira. Dalam berita lokal, Dinas Pendidikan Kota Surabaya menyebut, orangtua yang mengijinkan anaknya mengikuti belajar tatap muka di SMP baru 6,4 persen. Itu dari pengembalian formulir persetujuan orangtua. Yang jenjang SD di kisaran 9,2 persen.
Artinya, masih kecil data orangtua yang setuju anak-anaknya belajar tatap muka di sekolah.
Bagi Wali Kota Eri Cahyadi, Dinas Pendidikan, dan kalangan DPRD Kota Surabaya, menegaskan, belajar tatap muka hanya bisa diikuti dengan persetujuan orangtua. Itu syarat prinsipil.
Yang tidak setuju? Pemerintah Kota dan sekolah harus menghormati sikap itu. Tidak boleh ada paksaan. Sekolah pun harus menyediakan fasilitas bagi anak-anak didik untuk mengikuti belajar secara daring.
Sehingga, belajar tatap muka nanti akan berlangsung hybrid. Ada yang mengikuti tatap muka di sekolah. Ada yang mengikuti daring dari rumah. “Orangtua diberi kebebasan untuk memilih,” kata Eri Cahyadi.
Orangtua lain, yang bertemu saya, seorang bapak, tidak setuju anak-anaknya ikut belajar tatap muka di sekolah. Selama masih pandemi Covid-19. “Bagaimana kalau anak-anak tertular Covid-19 di sekolah? Ini menyangkut keselamatan. Siapa yang menjamin? Saya tidak setuju,” kata ayah 2 putera itu.
Dimulainya belajar tatap muka disambut dengan sikap yang terbelah. Banyak orangtua yang senang dan setuju. Murid juga sudah lama rindu sekolah. Sebaliknya, banyak juga orangtua yang tidak merespon, diwarnai rasa khawatir dan sikap tidak setuju.
Bagi orangtua yang setuju, pendidikan daring dipandang banyak lemahnya, setelah terjalani selama ini. Transformasi ilmu pengetahuan tidak tuntas di kalangan anak-anaknya.
Belum lagi faktor biaya paketan internet, yang membuat pengeluaran rumah tangga membengkak. Dan, kecepatan akses internet yang tiap wilayah berbeda, juga menjadi masalah.
Dan, orangtua tidak bisa menggantikan peran guru di rumah. Mengajarkan setiap mata pelajaran secara baik dan benar pada anak-anaknya. Orangtua tidak mampu. Dan, orangtua stres. Karena kepikiran perkembangan belajar anak-anaknya.
Dengan sistem daring, para guru pun tidak bisa memantau anak-anak didiknya. Sekalipun wajah mereka muncul di kamera. Tidak semua guru juga kreatif membuat alat peraga di tayangan slide atau video, ketika mengajar. Sehingga pengajaran pun tidak bisa tuntas.
Sementara yang tidak setuju belajar tatap muka, lebih mengedepankan keselamatan anak. Sebagian orangtua takut anak-anaknya beresiko terpapar Covid-19, ketika berada di sekolah. Berita media-media massa menyajikan kekhawatiran para orangtua itu.
Apalagi ketika di sekolah bertemu teman. Saling bercanda. Bertemu orang lain. Maka, terjadi kontak fisik. Dan, ketika ada anak yang terpapar, terjadilah penularan pada anak-anak lain yang sehat.
Anak yang tertular, pulang ke rumah bawa penyakit. Lantas, menular pada orangtua, kakak, adik, asisten rumah tangga, dan lainnya. Terjadilah kluster-kluster rumah tangga.
Keluarga bakal lebih repot ketika anak-anaknya terkena Covid-19. Karena itu, banyak orangtua yang berhati teguh: tidak mengijinkan anaknya ikut belajar tatap muka. Sejauh masih wabah Covid-19. Biarlah belajar mengajar diikuti dengan daring.
Terhadap pro-kontra itu, ada sejumlah usulan saya. Pertama, harus ada evaluasi yang ketat pelaksanaan belajar tatap muka. Bukan saja menyangkut mutu mengajar guru dan belajar anak. Tapi, yang penting, evaluasi dari aspek kesehatan.
Harus ada SOP yang jelas, bagaimana jika ada guru, tenaga pendidikan, anak-anak didik, ada yang terinfeksi Covid-19? Tindakan pencegahan penularan harus dilakukan. Agar tidak muncul kluster sekolah.
Kedua, hendaknya tidak diberlakukan jam belajar normal. Tidak ada pula jam istirahat. Anak masuk kelas. Diberikan pelajaran, dalam beberapa jam. Setelah itu dipulangkan. Ini mengurangi potensi interaksi fisik. Karena bercanda dengan teman-teman pelajar, biasa terjadi saat jam istirahat.
Ketiga, vaksinasi pelajar harus digenjot. Pemerintah harus memprioritaskan vaksin pelajar. Kalau ada stok vaksin datang, didahulukan para pelajar. Vaksin untuk membentengi diri sendiri, keluarga dan lingkungan.
Keempat, penerapan protokol kesehatan yang ketat. Memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak dan menghindari kerumunan. Jangan lengah. Karena disiplin prokes adalah cara ampuh untuk preventif. Begitu juga vaksin.
[berita-terkait number=”4″ tag=”Adi-Sutarwijono”]
Maka, perlu dibentuk Satgas Covid-19 di sekolah-sekolah, yang menerapkan belajar tatap muka. Unit Kesehatan Sekolah (UKS) direvitalisasi. Bagian dari Satgas Covid-19 di sekolah.
Kelima, anak-anak perlu diajarkan sejak dini: apa itu pandemi Covid-19? Bagaimana bahaya virus Corona? Bagaiman mencuci tangan dengan benar? Kenapa harus memakai masker, menjaga jarak dan menghindari kerumunan di masa pandemi?
Anak-anak diajarkan itu melalui pelajaran di sekolah, atau ekstra kurikuler. Sehingga mereka tumbuh menjadi generasi yang sadar akan pentingnya kesehatan. Mereka terampil dan terbiasa dalam penerapan protokol kesehatan.
Termasuk anak-anak pelajar diajarkan untuk menjaga kesehatan tubuh, asupan nutrisi yang bergizi, beristirahat dengan cukup, dan berjemur matahari saat pagi hari untuk mendapatkan vitamin D. Itu sangat bermanfaat untuk menjaga stamina tubuh anak-anak.
Pandemi Covid-19 terus melandai. Pemerintah bersama masyarakat telah bekerja keras untuk mengatasi. Dimulainya belajar tatap muka, layak disambut gembira sekaligus waspada. Jangan sampai ada kluster-kluster di ruang-ruang belajar sekolah. [but]
*) Adi Sutarwijono, Ketua DPRD Surabaya






