Surabaya (beritajatim.com) – Parma baru saja menang melawan Benevento di Giornata ke dua Serie B Italia. Skornya tipis saja, 1-0 lewat gol Valentin Mihaila di menit 90+7. Tiga tahun berlaga di Serie A Parma musim ini kembali degradasi ke Serie B. Mereka juga kembali diperkuat salah satu pemain legenda mereka Gianluigi Buffon.
Perjalanan Parma di dunia sepak bola memang unik. Pernah menjadi salah satu tim papan atas sejak pertama kali promosi ke Serie A tahun 1990, Parma pernah tiga kali menjuarai Coppa Italia di edisi 1991-92, 1998-99, dan 2001-02. Di tahun 1999 mereka bahkan menjuarai Supercoppa Italia.
Di kancah eropa mereka pun tak minim prestasi dengan dua kali menjuarai UEFA Cup yang saat ini berganti nama jadi UEFA Europa League, kompetisi kasta kedua eropa edisi tahun 1994-95 dan 1998-99.
Di masa keemasannya yang berlangsung sejak 1990-2002, Parma juga dihuni oleh banyak pemain-pemain bintang. Ada nama-nama seperti Hernan Crespo yang memperkuat Parma di musim 1996-97 sampai 2000-01. Empat tahun di Parma, Crespo menjadi striker yang produktif dan membawa gelar Piala Coppa Italia, Piala UEFA dan Piala Super Eropa.
Crespo kemudian mengelana ke klub-klub besar seperti Lazio, Chelsea, Inter Milan, dan AC Milan. Di tahun 2010 Crespo kemudian kembali ke Parma sampai pensiun di musim 2012-13 dan menjadi salah satu staff di Parma.
Ada juga Buffon legenda hidup berusia 43 tahun, yang sejak musim 2021-22 ini kembali membela Parma, klub yang membesarkannya dan merupakan klub pertamanya sebelum pindah ke Juventus.
Legenda lain yang pernah berseragam Parma adalah Enrico Chiesa, ayah dari Frederico Chiesa pemain timnas Italia dan Juventus saat ini. Sebelum bermain di Parma, Enrico Chiesa bermain di klub-klub kecil. Ia berhasil mencapai permainan terbaik bersama Parma yang kemudian membawanya ke Fiorentina di musim 1999-20.
Nama-nama lain seperti Lillian Thuram, Dino Baggio, Alberto Gilardino, Fabio Cannavaro, Fernando Couto, serta Gianfranco Zola juga pernah membela Parma di masa-masa emas itu. Parma pun termasuk satu dari tujuh klub paling sukses di Italia dari banyaknya trofi yang ia miliki. One of The Seven Sisters.
Sayang semua prestasi itu terputus akibat krisis keuangan. Bahkan, Parma suda dua kali mengalami kebangkrutan. Setelah mengalami mada jaya selama dua belas tahun di Serie A, Parma mengalami masalah finansial tahun 2003 dan berada di bawah kepemimpinan managemen sementara. Ini berlangsung sampai 2007 dan tahun 2008 mereka degradasi ke Serie B untuk pertama kali.
Setahun di Serie B, Parma kembali promosi ke Serie A sebelum kemudian dinyatakan bangkrut untuk kedua kalinya tahun 2015. Bahkan, Parma sempat dibubarkan. Setahun kemudian, Parma dibentuk kembali dengan nama SSD Parma Calcio 1913 dan berlaga di Serie D.
Perjalanan mereka dari Serie D pun menakjubkan karena berhasil tiga tahun beruntun promosi ke Serie C, Serie B, dan kembali ke liga tertinggi Serie A tahun 2018.(tur/bjo)






