Lamongan (beritajatim.com) – Tak bisa dipungkiri, pandemi Covid-19 yang mewabah di Indonesia sejak tahun lalu berdampak pada hampir semua sektor kehidupan di tanah air. Selain menimbulkan masalah kesehatan, pandemi Covid-19 juga memiliki dampak yang nyata pada sektor usaha hingga perekonomian nasional.
Mulai dari pengusaha, pekerja hingga buruh pabrik, mau tidak mau harus dipaksa untuk mengalami jatuh bangun demi bertahan di kondisi sulit seperti ini. Kendati demikian, lain halnya dengan yang dialami oleh seorang petani asal Lamongan, H Sholahuddin, warga Desa Banyubang Kecamatan Solokuro Kabupaten Lamongan tersebut mampu bertahan dengan usaha pisang cavendishnya di tengah pandemi ini.
Pria yang akrab disapa Kaji Sholah ini memang sudah lama terjun ke dunia pertanian, mulai dari jagung, durian, alpukat hingga kurma. Namun, bergelut dengan tanaman pisang Cavendish ini, ia tekuni kurang lebih dua tahun terakhir. Luar biasanya, saat ini usaha pisangnya melesat dan berkembang pesat. Hingga memiliki produk pisang cavendish bernama ‘Yasmin’.
Bahkan, Kaji Sholah menuturkan, bahwa saat ini pihaknya mendapatkan permintaan atau pesanan pisang cavendish yang cukup tinggi di tengah usaha di bidang lain yang sedang mengalami penurunan permintaan. “Mulanya saya menanam pisang hanya dibuat untuk menaungi tanaman durian, tapi lambat laun, ternyata pisang memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi, pasarnya pun luas, akhirnya saya tekuni,” ujar Kaji Sholah, Sabtu (14/8/2021).
Berkat ketekunannya dalam mengelola pisang cavendish di tengah pandemi, akhirnya Kaji Sholah memperoleh hasil manis dari usahanya. Bahkan, ia juga mengajak para petani lain untuk bermitra dan bangkit bersama dalam memajukan pertanian meski pandemi.
“Kami saat ini lagi berjuang untuk jihad ekonomi, bagaimana menumbuhkan solusi ekonomi di tengah pandemi seperti ini. Alhamdulillah, apa yang kita gagas dalam waktu 10 bulan, mendapatkan hasil yang luar biasa,” sambungnya.
Dari informasi yang didapat, saat ini ada sebanyak 183 petani pisang cavendish yang bermitra dengan Kaji Sholah dan tergabung dalam PT Wangsa Putra Sejahtera (WPS). “Di belakang kita, banyak mitra-mitra kita yang sudah panen, hari ini yang sudah tertanam ada 192 hektar secara keseluruhan, meliputi kebun inti milik PT sebanyak 58 hektar, dan sisanya adalah plasma (mitra). Sehingga kita bisa bersama meningkatkan pemasukan ekonomi,” terangnya.
Lebih lanjut, Kaji Sholah memaparkan, bahwa saat ini ia mulai kebanjiran permintaan yang hampir tidak bisa terlayani. Meski pisang cavendish yang diproduksinya kian hari terus meningkat, tetapi justru permintaan pasar juga semakin meningkat, mulai dari pasar tradisional, pasar grosir, modern market, hingga pembeli yang datang langsung ke kebun miliknya.
“Hasil dari pisang yang kami panen masih diserap pasar lokal, jadi masih lingkup Jawa Timuran, sementara permintaan lain dari Jogja, Semarang dan Solo kita belum mampu mengcovernya. Permintaan saat ini berkisar antara 12 sampai 15 ton per hari. Sedangkan kapasitas produksi kita sementara baru sekitar 4 sampai 5 ton perhari. Setiap hari kita mampu kirim 2 sampai 3 mobil pick-up,” papar Kaji Sholah, di sela-sela aktifitasnya memanen pisang.
Selain itu, Kaji Sholah mengaku, pada tahun 2023 nanti, dirinya menargetkan untuk bisa mewujudkan pengelolaan lahan pisang hingga seluas 1000 hektar. Tentu target tersebut bukan tanpa alasan, menurutnya, hal itu dikarenakan antusias dari para petani untuk menanam pisang sangat tinggi, serta adanya peluang pasar yang masih sangat terbuka luas.
“Insya Allah, target tersebut akan segera tercapai, karena begitu antusiasnya saudara-saudara petani kita melihat bagaimana pertumbuhan pisangnya yang sangat bagus, serta dibarengi dengan jaminan pasar. Bagaimanapun, pisang cavendish ini jika ditanam secara massif tanpa ada jaminan pasar dari perusahan maka akan sangat sulit. Jadi, itulah pentingnya ada jaminan pasar,” jelasnya.
Sehubungan dengan hal tersebut, Kaji Sholah menambahkan, guna mengetahui dan menjaga ketepatan tanam, perawatan, kualitas pisang, dan penjualan cavendish saat panen, pihaknya telah melakukan pembinaan melalui pendampingan PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) PT WPS. Serta para petani tersebut didampingi oleh tim, mulai dari hulu sampai hilir. “Saat waktunya panen, kita proses dari industri kita, lalu kita pasarkan sendiri,” imbuhnya.
Sementara itu, terkait harga pembelian saat panen, Kaji Sholah menjelaskan, bahwa dari satu batang pohon pisang cavendish, rata-rata bisa diperoleh buah pisang seberat 25 sampai 30 kilogram per tandannya. Tetapi jika pemupukannya bagus dan perawatannya ekstra, satu tandannya bisa menghasilkan sekitar 40 kilogram. Untuk harga sebenarnya bervariasi, tergantung kriteria, grade dan kualitasnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”tokoh”]
Kemudian terkait analisa usaha produksi sampai panennya, dalam satu hektare lahan pisang cavendish rata-rata membutuhkan biaya Rp 80 sampai Rp 90 juta. Dengan harga jual buah pisang rata-rata sekitar Rp 100-112 ribu per tandan, di mana satu hektare bisa menghasilkan Rp 250 juta, dengan populasi 2200 batang pohon.
“Kadang ada yang dijual langsung dengan sistem root atau langsung borongan tandan, ada juga yang masuk dalam kemasan box dengan berat bersih 13 kg di tiap boxnya. Harganya pun variatif, tergantung grade dan kualitasnya, ada A, B, dan C,” katanya.
Terakhir, Kaji Sholah berharap, bahwa nantinya pisang cavendishnya juga mampu melayani permintaan dari modern market dan bahkan luar negeri. “Kita belum masuk ke pabrikan, kita baru masuk ke pasar tradisional, karena permintaan dari modern market sangat tinggi, minimal 5 ton sehari. Kita juga ada permintaan dari Malaysia 100 ton per bulan, ini saja kita tidak bisa melayani. Jadi masih bicara pasar lokal, pengembangan ke depan kita harapkan nanti bisa ekspor ke pasar negara tetangga,” harapnya. [riq/but]







