Di kampus kami, Stikosa-AWS, terasa mudah untuk menemukan kawan dan guru. Maklum, kampus kecil. Kampus yang waktu itu tumbuh dan berkembang di situasi yang sedikit lebih mudah, karena sebagai kampus komunikasi, lebih spesifik kampus jurnalistik, pesaingnya masih sedikit.
Kami bertemu banyak senior hebat yang sudah bekerja di media besar. Di Harian Sore Surabaya Post, Majalah TEMPO, Tabloid Detik, TVRI, Jawa Pos, dan masih banyak lagi.
Pertemuan itu jadi lebih mudah, karena kami sering menggelar diskusi dan pelatihan jurnalistik mahasiswa, khususnya di lingkungan pers kampus, Acta Surya. Kami sering mengundang nara sumber hebat yang rata-rata dikenal sebagai praktisi media yang mumpuni di bidangnya. Salah satu nara sumber itu, Zed Abidien.
Bagi jurnalis Surabaya, nama Zed dikenal sangat akrab. Sosok bersahaja yang selalu ramah, bahkan pada junior yang mungkin tak ia kenal, namun begitu bersemangat saat diajak bicara tentang isu sosial, politik, hingga budaya.
Ia yang selalu rendah hati terkesan enggan mengajari. Namun setiap kata dan sikapnya, selalu memberi inspirasi. Pelajaran mendasar berjurnalistik ditunjukkan lewat sikap dan cara kerjanya.
Saya pernah bertemu pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya ini saat sama-sama meliput di House of Sampoerna pada tahun 2003. Sepanjang press conference, ia memilih duduk di belakang dekat meja kopi dan makanan, nyaris tak mengikuti paparan nara sumber. Sesekali tangannya mengambil kue dan menikmati kopi, sesekali melirik stage nara sumber.
Ketika sesi conference berakhir, ia langsung bergerak mendekati nara sumber. Dan seperti kata seorang jurnalis Surabaya, siapapun yang dipepet Zed pasti mau bicara panjang. Bukan semata label media tempat ia bekerja, tapi juga cara pendekatannya.
Beberapa hari kemudian, saya baca beritanya. Saya langsung mengumpat, Zed menyuguhkan cerita yang sama sekali berbeda. Bukan data yang mengada-ada, tapi ia menemukan banyak celah yang tak muncul di press conference.
“Press conference isinya itu-itu saja. Kalau saya nulis yang disampaikan nara sumber di situ, tulisanku sama dengan tulisanmu, tulisan yang lain,” katanya sambil tersenyum, jauh dari kesan mengguri.
[berita-terkait number=”3″ tag=”meninggal”]
Komitmen dan cara kerja Zed Abidien memang dipuji banyak orang. Ia setia memposisikan tiap liputan sebagai sebuah proses investigasi. Karenanya, ia tak pernah tertarik menulis pernyataan resmi. Ia lebih suka memilih jalan berputar, mendekati nara sumber atau orang-orang di sekitarnya, bertanya tentang banyak hal yang bisa jadi tak muncul di permukaan.
Semangat itu melekat di sepanjang kariernya, baik saat bekerja di Harian Surabaya Post, TEMPO, Media Indonesia Minggu, hingga Detektif dan Romantika. Sebagai penulis lepas di beberapa media ibu kota, ia juga menyuguhkan hasil dari proses kerja jurnalistik yang sama.
“Jurnalisme itu dunia saya, dunia yang saya percaya bisa menghidupi dan bermanfaat bagi banyak orang,” katanya, saat kembali bertemu pada tahun 2018. Kami bertemu di rumahnya, tak jauh dari Terminal Mojokerto, Jawa Timur. Saat itu kondisinya sudah sakit.
Ia menderita stroke sejak 2009. “Saya ngertinya pas di warnet,” kenangnya. Lalu seperti biasa, ceritanya, ia memilah naskah dari wartawan daerah, cek data, hingga menyiapkan artikel siap tayang untuk TEMPO. Di tengah proses editing naskah, tiba-tiba Zed merasa pusing. Keringat dingin pun mulai mengalir di beberapa bagian tubuh. Tak berpikir panjang, ia langsung menghubungi anaknya agar segera mengirim air dan obat sakit kepala.
Bukannya membaik, apa yang dirasakan Zed kemudian makin buruk. Puncaknya saat ia kesulitan menggerakkan tangan. Ia langsung menghubungi istrinya lalu dibawa ke rumah sakit. Tugas-tugasnya kemudian diteruskan salah satu kawan, Toto Sonata.
Di rumah sakit Zed menjalani beberapa tahap pemeriksaan. Sampai akhirnya mendengar pernyataan dokter, ia memang menderita stroke. Separuh tubuhnya kemudian lumpuh dan tak bisa digerakkan. Zed gelisah bukan kepalang. Bukan berpikir tentang kondisi tubuhnya, ia malah berpikir tentang karir jurnalistiknya yang sudah berada di ujung tanduk. “Saya hanya membayangkan. Jika saya tidak bisa menjadi jurnalis, saya mau apa?” kata Zed.
[berita-terkait number=”5″ tag=”wartawan”]
Seiring waktu, apa yang ia khawatirkan ternyata tak terbukti. Sejak sakit, ia terus berkarya. “Saya beli komputer di rumah. Nulis apa saja,” katanya sambil tertawa.
Bahkan suatu saat ia pernah menghubungi saya untuk dibantu membuat blog personal. “Saya pingin ngeblog. Banyak yang pingin saya tulis,” katanya. Usai diskusi yang sesungguhnya tidak terlalu panjang, ia merilis blog personal di zedabidien.wordpress.com. Di blog yang menggunakan tagline ‘tugas wartawan adalah penyampai kabar, bukan pengadil’ ini, ia menceritakan banyak hal. Mulai dari dokumen tulisan di berbagai media massa, cerita di balik penulisan berita, perjalanan karir dan masih banyak lagi.
Ia juga aktif menulis di media sosial. Saking aktifnya, saat ia tak menulis status baru awal Juli lalu, ada kawan, Dody Pribadi, bertanya di time line facebooknya, “Kok Ndak ada statusnya? Sakit ta?”
Ternyata ada info kalau ia ganti akun facebook. “Mulai Selasa (8/6) kemarin saya punya akun efbe baru. Namanya Abidin Zed, kebalikan nama saya sebelumnya : Zed Abidien. Saya membuat akun baru.karena akun saya yang lama tidak bisa saya buka. Saya lupa padwordnya. Itu terjadi saat saya memakai laptop Aya, putri saya,” terang Zed Abidien.
Spekulasi jika ia sedang sakit seketika meredup. Lalu Sabtu (17/7/2021) pagi ini, saya mendengar kabar duka. Zed Abidien meninggal di Rumah Sakit Sakinah Mojokerto. Beberapa kolega, baik sesama jurnalis, rekan satu almamater di Akademi Wartawan Surabaya, AJI, mengucap duka cita yang mendalam di laman sosial media mereka.
“Sedih sekali mengetahui Zed Abidien, wartawan Surabaya dan salah satu pendiri Aliansi Jurnalis Independen, meninggal dunia. Kami kenal sejak pembredelan 1994, sering kerja sama, dan 2019 sebetulnya janjian mau bertemu tapi tertunda karena wabah. Semoga isteri dan ketiga anaknya tabah,” tulis Andreas Harsono, jurnalis senior, salah satu pelopor jurnalisme sastrawi di Indonesia.
Selamat jalan Mas Zed Abidien. Terima kasih sudah mengajarkan banyak hal. Terima kasih sudah sabar menjadi teman diskusi kami. Setelah semangat dan karyamu bergulir menjaga kebaikan di negeri ini, kini, Tuhan akan menjagamu. Selamat jalan. [hdl/ted]






