Surabaya (beritajatim.com) – Jumlah masyarakat Jawa Timur yang terkonfirmasi positif Covid-19 terus bertambah. Pada Jumat (2/7/2021), ada tambahan kasus terkonfirmasi positif di Jatim sebanyak 1.388 orang.
Untuk itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus berupaya untuk menambah bed sebagai layanan pasien covid-19. Hari ini, Pemprov Jatim mengirimkan bantuan berupa 30 bed ke RS Khusus Infeksi (RSKI) Universitas Airlangga Surabaya sebagai tambahan layanan perawatan kuratif bagi pasien Covid-19.
Sebanyak 30 bed bantuan dari Pemprov Jatim tersebut diterima langsung oleh Dokter Cahyo yang bertugas mewakili Direktur RS Universitas Airlangga Surabaya Prof Nasronuddin, semalam.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Satgas Covid-19 Jatim terus berkoordinasi terkait upaya penyediaan bed di rumah sakit-rumah sakit rujukan Covid-19.
Pihaknya berupaya agar setiap rumah sakit bisa tetap memiliki ketersediaan bed untuk melayani pasien Covid-19, utamanya dengan gejala sedang hingga berat.
Sebab untuk pasien Covid-19 dengan tanpa gejala dan dengan gejala ringan diupayakan untuk mendapatkan layanan di pusat-pusat karantina dan juga pusat isolasi yang disediakan pemerintah. Baik Pemprov, maupun oleh pemkab dan pemkot.
“Kami terus berupaya menambah bed di rumah sakit-rumah sakit yang memang tingkat keterisiannya sudah tinggi. Seperti beberapa waktu yang lalu kami membantu penambahan bed di RS Bangkalan sebanyak 30 bed, kemudian di RS Lapangan Indrapura kami menambahkan sebanyak 50 bed, dan malam ini kita membantu tambahan 30 bed di RS Khusus Infeksi Unair,” kata Khofifah, yang kini masih menjalani isolasi mandiri.
Pengiriman bantuan 30 bed ke RS Khusus Infeksi Universitas Airlangga juga berdasarkan surat pengajuan dari rumah sakit tersebut yang dikirimkan pada tanggal 1 Juli 2021. Pasalnya, di hari tersebut Rumah Sakit Khusus Infeksi Universitas Airlangga sempat mengalami lonjakan pasien Covid-19.
Lebih lanjut, Gubernur Khofifah menyampaikan bahwa tingkat keterisian tempat tidur di RS rujukan Covid-19 menjadi perhatian utama Pemprov Jatim. Ia berulangkali melakukan koordinasi secara virtual dengan bupati/walikota untuk memastikan agar penambahan bed segera dilakukan bagi RS yang BOR-nya sudah di atas 60 persen.
Bahkan, ada beberapa daerah yang BOR-nya sudah di atas 90 persen. Mereka harus segera menambah bed agar tidak sampai ada antrean panjang pasien Covid-19 untuk bisa mendapatkan perawatan.
“Kami secara internal sudah memiliki sistem navigasi, yaitu yang status BOR-nya di bawah 60 persen, kemudian yang BOR-nya antara 60-80 persen, dan yang BOR-nya di atas 80 persen. Kalau sudah di atas 80 persen BOR-nya, maka sudah masuk status merah. Mereka mau tidak mau harus melakukan penambahan bed untuk menurunkan BOR,” tegas Khofifah.
Total ada 13 daerah di Jatim yang BOR ruang isolasi dan BOR ruang ICU-nya yang sudah di atas 80 persen. Secara khusus Khofifah meminta agar 13 daerah tersebut bergandengan tangan untuk bersama-sama menambah bed perawatan Covid-19 dan menurunkan BOR.
[berita-terkait number=”4″ tag=”covid-jatim”]
Di sisi lain, dengan berlakunya PPKM Darurat yang akan dimulai 3 Juli 2021 hingga 20 Juli 2021 mendatang, Gubernur Khofifah kembali mengingatkan ke seluruh warga Jatim bersama-sama menaati aturan yang ada.
“Mulai 3 Juli akan dilakukan PPKM Darurat di Jawa dan Bali. Kami mohon masyarakat untuk ikut bekerja sama menyukseskan upaya ini. Dengan harapan tambahan kasus bisa kita tekan, dan kita bisa segera keluar dari kondisi pandemi Covid-19,” pungkas Khofifah. [tok/but]







