Surabaya (beritajatim.com) – Mengangkat sebotol cat, Lisa (6) menciumnya dengan gerakan perlahan. Gadis kecil tuna netra berkebutuhan husus ini mencoba mengenali warna dengan indra penciumannya. Usai sesuai dengan warna yang dikehendaki, Lisa pun mencelupkan jarinya ke botol terebut.
Layaknya orang meraba mencari huruf braile, Lina mencoba meratakan cat kuning beraroma pisang ini. Bercampur cat merah beraroma stroberi dan ungu dengan aroma anggur, ia padukan jarinya membentuk lukisan abstrak di atas kain kanvas bulat.
Meski baru pertama ini diajari mengenal warna melalui Aroma buah, Lisa dan kawannya mengaku senang karena akhirnya ia tahu melukis dan kata melukis tak hanya menjadi ‘lukisan telinga’ saja.
Mereka mendapatkan fasilitas khusus melukis dengan semua fasilitas disediakan oleh Himpunan Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Airlangga. Mengambil tema ‘This Is Ability, Not Disability’, 13 anak tuna netra Sekolah SLB YPAB diajak belajar melukis di Plaza Mall Surabaya, Minggu (20/6/2021). “Baru sekali ini jadi gak hafal lima warna yang dikenalkan kakaknya. Hany tahu kalau hijau itu bau buah melon dan kuning itu bau pisang,” jelasnya kepada beritajatim.com.
Tak terbayangkan bagaimana bentuk, imajinasinya mencoba berlari dan menari namun tak tahu apa yang akan dilukis. Begitulah Lisa mencoba jujur atas kegugupannya melukis pertama kali. Namun, dengan kegigihan Farah Diba, pendamping Lisa, ia mencoba memancing imajinasi seperti apa itu lingkaran. Botol cat seperti tabung pun Farah Diba ambil untuk menunjukkan bentuk lingkaran di telapak kiri Lisa.
Farah memancing imajinasi Lisa untuk menangkap bentuk lingkaran. Selanjutnya jari telunjuk Lisa yang sudah berlumur cat pun menggambarkan lingkaran. Tak mencari seberapa besar, presisi atau indahnya lengkungan, karena seni abstrak dan tak bisa dinilai secara matematis. Usai Lisa mampu membuat beberapa lingkaran dan bertumpuk, Farah pun memberikan tepuk tangan untuk terus menyemangati anak didiknya.
Kepada beritajatim.com, Farah Diba juga mengaku baru pertama ini mengajari anak berkebutuhan khusus. Namun, sebelum program acara diselenggarakan, Magister Manajemen Fakultas Ekonomi melakukan kegiatan tantangan. Seluruh mahasiswa dan mahasiswi menutup mata. Seakan merasakan hidup sejenak tanpa mata normal yang menyaksikan terang dan indahnya warna.
“Awalnya kita harus melakukan tantangan itu. Supaya kita bisa merasakan bagaimana menjadi mereka (anak tunanetra, red). Susah dan membutuhkan cara khusus mengajari mereka. Tapi saya senang bisa berbagi pengalaman dengan anak-anak yang penuh semangat ini,” ucapnya.
Banyak kegiatan untuk memberdayakan semangat juang anak disabilitas. Hal itu yang membuat kawan MM Unair untuk merangkul Sekolah Luar Biasa Yayasan Pendidikan Anak Buta di Tegalsari ini. Para mahasiswa S2 ini bersama duduk untuk mencari ide apa yang belum pernah dilakukan anak-anak di YPAB. Setelah dipertanyakan ternyata melukis belum pernah dilakukan lantaran kesulitan bagaimana membedakan warna dan bagaimana memberi tahu sebuah warna.
Akhirnya dengan mengambil contoh lima buah paling banyak dimakan anak-anak mereka menemukan pembeda warna. Sesuai warna untuk orang normal, kuning dipilih aroma pisang, merah pakai aroma stroberi, hijau dengan buah melon, ungu untuk aroma anggur dan orange aroma buah pepaya.
“Begitulah cerita bagaimana kita dapat contoh lima warna. Selanjutnya kita mencari botol kecil seukuran jari, pewarna dan dicampur penguat aroma buah. Kita bikin cukup banyak. Karena kita harapkan usai acara ini nanti bisa dipakai anak-anak saat di sekolahan,” papar Denny Adi Nugroho yang turut hadir membuat solusi warna dengan aroma buah ini.
Sebagai kepala sekolah di SLB YPAB Tegalsari, ia membenarkan jika pelajaran kesenian melukis ini belum pernah diajarkan. Bahkan tak ada kurikulum khusus dan pelajaran membedakan warna untuk tuna netra. Meski bisa melalui hurf braile tak ada cat lukis dengan metode ini. Sehingg ia berharap kelak akan ada kurikulum khusus buat anak kebutuhan khusus ini agar bisa melukis.
“Betul memang baru pertama ini. Karena tidak ada kurikulumnya. Bahkan pelajaran mengenal warna juga belum ada. Sehingga rekan MM S2 Fakultas Ekonomi Unair ini sangat membantu. Bahkan jika berkenan kita juga dibantu saat memberikan pelajaran di sekolahan. Karena sangat membantu anak-anak,” ujarnya. (man/kun)






