Bojonegoro (beritajatim.com) – KH Muhammad Kholil lahir di Desa Sukorejo, Kabupaten Bojonegoro pada tahun 1906. Anak dari pasangan Abdul Mutholib dan Fatimah yang masih keturunan dari Eyang Singojoyo dan Singonoyo. Sekarang Eyang Singonoyo merupakan tokoh sesepuh desa Sukorejo.
KH Muhammad Kholil lahir dengan nama Sahlan. Dia merupakan salah satu penyebar agama islam di Bojonegoro, khususnya di wilayah selatan. Menurut salah seorang yang masih keturun Muhammad Kholil, Su\\\’udin Aziz, sejak remaja Muhammad Kholil sudah haus ilmu agama.
Keinginannya yang besar untuk belajar itu beberapa kali dia belajar di pondok pesantren. Mulai dari Pondok Maskumambang Sedayu, Gresik. Di pondok pesantren itu dia belajar ilmu fikih dan nahwu, serta menghafal Al-Quran hingga juz 21. Dia juga mengaji di Pesantren Krapyak, Yogyakarta.
\\\”Beliau juga terkenal cerdas, terbukti ketika menghafal 1002 Nadzam Alfiah Ibnu Malik beliau hanya butuh Watu satu bulan,\\\” ujarnya, Selasa (18/12/2018).
Sementara, 9 juz hafalan Al-Quran itu diselesaikan di Makkah saat melanjutkan studi dibawah asuhan AS Sayyid \\\’Alwi ibn Abbas Al-Maliki Al-Hasani selama kurang lebih empat tahun. Di Makkah itu juga dia kemudian menikah dengan Zaenab. Putri dari Pamannya, Haji Ridlwan.
\\\”Sekitar tahun 40an beliau balik ke Bojonegoro. Namun rumah tangga beliau dengan Zaenab berpisah, kemudian menikah lagi tetapi juga sama. Akhirnya dia mengajar ngaji,\\\” terangnya.
Dari pengampu masjid di Desa Ngraseh, Kecamatan Dander itu dia menjadi salah satu tokoh penyebar agama islam selain Mbah Abu Dzarrin. Mbah Kholil juga yang mengawali pengajian ibu-ibu di Desa Karangsono, Ngraseh, Sumberagung, Sumodikaran dan Sukorejo.
Selain mengajar ilmu agama, Mbah Kholil juga menulis ringkasan kitab tajwid dan kitab natijatu-t ta’lim, keduanya adalah kitab dengan bahasa Jawa yang dinukil dan ringkas dari beberpa kitab klasik karya para ulama terdahulu. \\\”Sampai saat ini kedua kitab tersebut menjadi kitab pokok yang diajarkan di TPQ dan Madin At-Thoyyibah,\\\” kata Su\\\’udin Aziz sesuai yang di tulisnya.
Mbah Kholil wafat ba’da maghrib pada hari Ahad Wage, tanggal 4 Rabiul Awal ± 1381H bertepatan dengan tahun 1959M. di tahun 1959. Beberapa hari sebelum wafat Mbah Kholil menjadi sosok yang amat sabar. Kini setiap tahun, Haul KH Muhammad Kholil selalu di peringati oleh masyarakat dan jamaah GoBook Taqrib di Dukuh Balong, Desa Sendangrejo, Kecamatan Dander, Bojonegoro. [lus/but]





