Jember (beritajatim.com) – Ketua Forum Masyarakat Silo (Formasi) Hasan Basri menegaskan, bahwa masyarakat di Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, Jawa Timur, memahami betul bahaya tambang emas. Oleh sebab itu, warga menentang setiap upaya penambangan secara legal maupun ilegal.
\\\”Sejak dulu kami sudah mengerti dampak dan bahaya tambang. Masyarakat Silo sendiri adalah petani dan pekebun,\\\” kata Hasan. Tambang emas jelas berdampak terhadap pertanian dan perkebunan.
Oleh sebab itu, warga melakukan razia secara mandiri terhadap penambangan ilegal. \\\”Kami bertentangan dengan mereka. Dulu bahkan terjadi konflik antara kami dengan penambang ilegal. Di sini lebih banyak masyarakat yang menolak, dan kami selalu melakukan sweeping bersama pemerintah desa,\\\” kata Hasan.
Razia ini membuat Silo tak didatangi penambang emas ilegal lagi. \\\”Kami selalu berkoordinasi dengan Perhutani. Dulu kami pernah menangkap penambang ilegal dari Kabupaten Banyuwangi dan Majalengka. Mereka yang menambang bukan orang Silo, tapi sembunyi-sembunyi. Kalau ketahuan akan langsung kami amankan,\\\” kata Hasan.
Bahkan, masyarakat pernah marah dan salah paham saat ada peneliti salah satu perguruan tinggi datang. \\\”Mobilnya dikasih cletong (kotoran sapi). Kalau kemarin (perwakilan investor dari China dan staf Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Jatim yang datang dan dihadang warga Silo) untung tidak diapa-apakan,\\\” kata Hasan. [wir/kun]





