Bernardo Tavares agaknya sudah punya firasat. Sehari sebelum Persebaya menjamu Madura United di Gelora Bung Tomo, Senin (26/10/2026), dia mempertanyakan hal ihwal Gali Freitas, pemain sayap Persebaya asal Timor Lester yang berstatus pemain pinjaman di Madura United, bisa diturunkan melawan tim asalnya.
Memang tidak ada aturan standar soal pemakaian pemain pinjaman melawan klub asal. Liga Primer Inggris mutlak melarangnya, kecuali ada kesepakatan tertulis di antara kedua klub yang diketahui Premier League sebelum laga dimulai. Namun secara umum, tidak ada klub Liga Inggris yang ‘cukup gila’ membiarkan pemain yang dipinjamkannya mencetak gol ke gawang mereka sendiri.
Sementara di Liga Italia Serie A, La Liga Spanyol, dan Bundesliga Jerman, pemain pinjaman diperbolehkan bermain melawan klub asalnya, kecuali ada kesepakatan di antara klub yang meminjamkan dan klub yang meminjam untuk tidak memainkannya yang disebut sebagau ‘fear clause’ (klausul ketakutan). Dalam ‘fear clause’ biasanya dicantumkan semacam kompensasi dengan nominal besar untuk klub asal, jika pemain pinjaman hendak dimainkan.
Entah apa alasannya, agaknya tidak ada ‘fear clause’ dalam perjanjian antara Persebaya dan Madura United soal peminjaman Gali Freitas. Mungkin saat itu manajemen Persebaya menganggap Freitas tidak cukup menkutkan untuk dibuatkan klausul khusus. Sesuatu yang kemudian terbukti keliru pada Senin malam itu.
Di hadapan 10.364 orang penonton, firasat Tavares nyaris tewujud, setelah Gali Freitas mencatatkan gol penyama kedudukan pada menit 69 melalui tembakan bebas langsung. Dan dari selebrasi Freitas, kita bisa menggali makna gol tersebut bagi dirinya: sebuah pembuktian.
Freitas ingin menunjukkan di hadapan Bernardo Tavares bahwa keputusan untuk membuangnya dari skuad Persebaya adalah sebuah kesalahan. Dan gol indahnya adalah klimaks dari performanya malam itu. Sepanjang pertandingan sebelum digantikan Balotelli pada menit 81, Freitas bermain ‘ngosek’, ngeyel, dan penuh determinasi.
Tak hanya menyerang zona pertahanan Persebaya dari sisi sayap, Freitas juga bekerja keras memangkas alur serangan lawan. Posisinya berhadapan dengan Pereira. Keduanya sama-sama lincah berlari dengan bola, dan malam itu, Pereira juga mencetak gol indah.
Usai pertandingan, Freitas disambut hangat para pemain Persebaya. Namun tidak demikian halnya dengan Bonek. Media sosial dibombardir dengan kecaman terhadap Freitas. Bukan gol yang dipersoalkan, namun cara Freitas merayakannya.
Ada semacam aturan tidak tertulis di dunia sepak bola, bahwa pemain akan menghormati mantan klubnya. Mereka tetap akan mencetak gol untuk klub baru saatr berhadapan dengan klub lama, karena memang digaji untuk memenangi pertandingan. Namun gol itu dirayakan nyaris tanpa selebrasi, karena tak ingin melukai perasaan suporter.
Usai menjaringkan tiga gol ke gawang AS Roma dalam pertandingan semifinal Liga Champions 2018, Mohammad Salah hanya mengangkat kedua tangannya. Tidak ada kepalan tangan dan teriakan penuh kelegaan, sebagaimana saat menghadapi Manchester City. Dia tahu AS Roma adalah bagian dari karirnya dan dia tak ingin merusak hubungan dengan suporter.
Memang ada pemain yang tidak peduli dengan aturan tak tertulis itu. Luis Suarze salah satunya, saat mencetak gol untuk Barcelona ke gawang Liverpool dalam pertandingan kandang di Nou Camp pada 2019. Dia menjadi sasaran teror psikis suporter Liverpool pada saat bertandang ke Anfield, dan benar saja, Suarez tak berkutik. Barcelona kalah 0-4.
Cara Freitas merayakan golnya ke gawang Persebaya memang terlihat emosional. Dia bahkan mencium badge Madura United di dadanya: yang dalam dunia sepak bola merupakan pertanda kecintaan mendalam terhadap sebuah klub. Selebrasi itu seperti menunjukkan bahwa tidak ada lagi Persebaya di hati Freitas. Sesuatu yang kemungkinan membangkitkan kegusaran Bonek.
Beruntung Freitas tidak benar-benar menjadi mimpi buruk Persebaya. Green Force tetap meraih tiga poin, setelah keunggulan melalui gol Miguel Pereira pada menit 22, diperbesar dengan gol Yuran Fernandes melalui titik putih penalti pada menit 90+1 dan gol cantik Yann Mabella pada menit 90+6.
Ini kemenangan pertama Persebaya musim 2026-27 dengan selisih dua gol. Kemenangan 3-1 di pekan ketujuh ini menempatkan tim tersebut di posisi ketujuh klasemen sementara dengan raihan 12 poin, yang berjarak enam poin dengan Persija di posisi puncak.
Permainan Persebaya mulai membaik, kendati tidak sepenuhnya stabil. Setelah Freitas menyamakan kedudukan, penampilan Francisco Rivera dan kawan-kawan cenderung menurun. Operan-operan pendek kombinasi operan panjang yang ditunjukkan pada babak pertama, mendadak hilang.
Persebaya tertolong oleh kesalahan fatal yang dilakukan pemain Madura United Paulo Sitanggang yang menekel keras Catur Pamungkas. Kartu merah yang diberikan wasit Eko Saputra, tiga menit setelah Paulo masuk ke lapangan menggantikan Ilhamsyah mengubah jalannya pertandingan. Persebaya mendominasi lapangan dengan 62 persen penguasaan bola dan menghantamkan 20 tembakan ke gawang Madura United yang dijaga Angga Saputro (empat di antaranya tepat sasaran).
Pertandingan melawan Madura United jelas tak mudah. Sebelunnya mereka mengalahkan juara bertahan Persib Bandung 1-0 di kandang sendiri. Jadi kemenangan Persebaya ini sepatutnya menjadi awal untuk tampil lebih baik dalam 27 pertandingan yang tersisa. Dan untuk itu, Tavares tak membutuhkan firasat, namun racikan taktik yang tepat. [wir/ian]






