Ringkasan Berita:
- Guru madrasah didorong memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan kualitas pembelajaran tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam dan pembentukan akhlak.
- Dosen Universitas At Taqwa Bondowoso, Dr. Bachtiar Rifa’i, mengingatkan guru agar tidak menjadikan AI sebagai satu-satunya sumber belajar.
- Guru perlu memverifikasi dalil Al-Qur’an, hadis, terjemahan, serta sumber rujukan sebelum menggunakannya dalam pembelajaran agama.
- Anggota Komisi VIII DPR RI Ina Ammania menegaskan AI tidak dapat menggantikan keteladanan, kepedulian, dan peran guru dalam membentuk karakter siswa.
Bondowoso (beritajatim.com) – Guru madrasah didorong mampu memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk meningkatkan kualitas pembelajaran tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam, integritas keilmuan, dan pembentukan akhlak peserta didik. Pemanfaatan teknologi perlu diimbangi kemampuan memverifikasi informasi serta peran guru dalam membimbing siswa memahami ilmu secara bertanggung jawab.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Ngobrol Pendidikan Agama Islam (NGOPI) yang diselenggarakan Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah (GTK) di Ballroom Hotel Ijen View, Bondowoso, Senin (26/10/2026).
Kegiatan bertema “Guru Madrasah di Era AI: Mengintegrasikan Kecerdasan Teknologi, Kearifan Pedagogis dan Nilai-nilai Islam” tersebut menghadirkan Dosen Universitas At Taqwa Bondowoso, Dr. Bachtiar Rifa’i, sebagai narasumber.
Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Ina Ammania, turut menyoroti pentingnya peran guru dalam membimbing penggunaan teknologi secara bijak. Menurutnya, kemajuan teknologi perlu dimanfaatkan untuk mendukung pembelajaran, tetapi tidak boleh menggeser tanggung jawab guru dalam membentuk karakter peserta didik.
Rifa’i mengingatkan agar guru tidak menjadikan AI sebagai satu-satunya sumber belajar. Teknologi tersebut dapat mempercepat pencarian pengetahuan, tetapi informasi yang dihasilkan tetap harus diverifikasi sebelum disampaikan kepada peserta didik.
“Teknologi informatika itu dijadikan sebagai salah satu saja, sebagai salah satu sumber belajar, tapi bukan satu-satunya,” kata Rifa’i.
Menurut dia, guru madrasah perlu memiliki kompetensi pedagogik dan kepribadian yang kuat dalam menghadapi perkembangan teknologi. Penguasaan materi pelajaran harus berjalan beriringan dengan integritas moral dan intelektual agar informasi yang diterima siswa tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga mendukung pembentukan karakter.
Guru juga memiliki tanggung jawab menjadi teladan bagi peserta didik, keluarga, dan masyarakat. Karena itu, pemanfaatan AI tidak boleh mengesampingkan moralitas dalam proses pendidikan.
“Artinya, guru benar-benar cerdas menguasai segala materi, segala pengetahuan. Dan moralitas itu harus dijadikan sebagai dasar utama, karena nanti menjadi teladan bagi anak-anak,” ujarnya.
Rifa’i menekankan, penggunaan AI dalam pembelajaran agama Islam membutuhkan kehati-hatian. Guru tidak cukup hanya menerima jawaban yang dihasilkan teknologi, tetapi harus memastikan ketepatan informasi beserta sumber rujukannya.
Ketika AI memberikan penjelasan mengenai hadis, misalnya, guru perlu menelusuri sanad dan memeriksa status hadis tersebut, termasuk memastikan apakah hadis itu sahih atau tidak. Langkah ini diperlukan agar materi keagamaan yang disampaikan kepada siswa memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Hal serupa berlaku ketika AI menyajikan dalil Al-Qur’an. Guru harus memastikan nama surah, nomor ayat, dan kesesuaian terjemahannya. Penjelasan tersebut juga perlu dikaji melalui kitab-kitab tafsir agar pemahaman terhadap ayat tidak berhenti pada hasil pencarian teknologi.
“Kalau kita minta ke AI terkait dengan dalil-dalil Al-Qur’an, maka kita harus cross-check ke Al-Qur’annya. Ini surah apa, ayat berapa, dan terjemahannya apa. Nah, itu harus dikaji juga tafsir-tafsir ayat itu,” jelasnya.
Menurut Rifa’i, langkah verifikasi penting karena informasi yang dihasilkan AI tidak selalu benar. Guru harus menggunakan pengetahuan dan pertimbangan ilmiahnya untuk menilai ketepatan informasi sebelum menjadikannya bahan pembelajaran.
Meski demikian, ia tidak memandang AI sebagai teknologi yang harus ditolak. AI tetap dapat dimanfaatkan sebagai media untuk mempercepat proses pencarian dan perolehan pengetahuan selama penggunaannya disertai sikap kritis.
“Iya, tidak bisa kita menyalahkan AI juga, tapi kita menjadikan AI itu sebagai salah satu media untuk mempercepat pengetahuan, memperoleh pengetahuan,” katanya.
Sementara itu, Ina Ammania menilai perkembangan AI tidak harus menjadi ancaman bagi guru madrasah. Teknologi tersebut justru dapat menjadi alat bantu untuk meningkatkan kualitas pembelajaran selama penggunaannya dilakukan secara bijak dan tetap berada dalam bimbingan guru.
Menurut Ina, perkembangan internet, telepon pintar, dan AI telah mengubah cara anak-anak memperoleh informasi. Siswa kini dapat mencari informasi, menerjemahkan bahasa, membuat rangkuman, hingga memperoleh jawaban atas pertanyaan pelajaran dalam hitungan detik.
Namun, kemudahan tersebut tidak menghilangkan peran guru sebagai pendidik. Tugas guru bukan sekadar menyampaikan ilmu pengetahuan, melainkan juga membentuk karakter dan membimbing peserta didik menjadi pribadi yang berakhlak baik.
“Guru tidak hanya membantu siswa menjadi pintar, tetapi juga membimbing mereka menjadi pribadi yang jujur, disiplin, bertanggung jawab, berakhlak mulia dan peduli terhadap sesama,” demikian poin yang ditekankan Ina dalam sambutannya.
Ia menjelaskan, AI memang dapat memberikan penjelasan mengenai nilai moral, tetapi tidak dapat menggantikan keteladanan nyata yang diberikan guru melalui sikap, ucapan, dan tindakan sehari-hari.
Karena itu, guru madrasah perlu membimbing siswa menggunakan teknologi berdasarkan nilai kejujuran, tanggung jawab, kesopanan, serta penghormatan terhadap orang lain. Pendampingan ini juga penting untuk mencegah penyebaran informasi keliru dan perundungan melalui media digital.
Ina turut menekankan pentingnya kearifan pedagogis, yakni kemampuan guru memahami kebutuhan siswa dan menentukan metode pembelajaran yang tepat. Menurutnya, teknologi dapat membantu menyediakan materi dan latihan, tetapi guru tetap perlu memahami latar belakang kesulitan yang dialami setiap peserta didik.
Ia mencontohkan siswa yang memperoleh nilai rendah dalam pelajaran Matematika. AI mungkin dapat memberikan soal latihan tambahan, tetapi guru perlu mencari tahu penyebab kesulitan siswa, mulai dari belum memahami materi, kurang percaya diri, hingga menghadapi persoalan di rumah.
Menurut Ina, guru tidak cukup hanya melihat angka dan hasil ujian. Guru perlu memahami kondisi peserta didik agar dapat memberikan pendampingan sesuai kebutuhan.
Ia mengingatkan agar penggunaan teknologi tidak menghilangkan interaksi, kepedulian, dan keteladanan dalam proses pendidikan. Madrasah harus tetap menjadi tempat yang aman dan menyenangkan bagi siswa untuk bertanya, berdiskusi, melakukan kesalahan, serta belajar memperbaiki diri.
Dalam sambutannya, Ina juga merujuk Surah Al-Hujurat ayat 6 yang mengajarkan pentingnya memeriksa kebenaran berita sebelum mengambil tindakan. Prinsip tersebut dinilai relevan di era AI, ketika informasi yang keliru dapat tersebar dengan cepat dan memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan.
Selain kemampuan akademik, kreativitas, komunikasi, kerja sama, pemecahan masalah, dan literasi digital, siswa juga perlu dibekali keimanan, akhlak mulia, serta kepedulian sosial.
“Guru yang hebat bukan hanya guru yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, melainkan guru yang mampu menggunakan ilmu dan teknologi dengan bijaksana dalam membentuk manusia yang cerdas, berkarakter dan berakhlak mulia,” tegasnya.
Melalui kegiatan NGOPI tersebut, pemanfaatan AI dalam pendidikan madrasah menjadi perhatian bersama, terutama dalam menyeimbangkan kecakapan teknologi, ketepatan pengetahuan, kearifan pedagogis, dan nilai-nilai Islam.
Teknologi dapat membantu proses pembelajaran, tetapi guru tetap memegang peran penting dalam membimbing siswa memahami ilmu sekaligus membangun karakter dan akhlak. Verifikasi informasi, keteladanan, serta pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik menjadi bagian penting dalam menjaga agar kemajuan teknologi tetap mendukung tujuan pendidikan madrasah. [awi/beq]






