Surabaya (beritajatim.com) – Dosen Program Magister Industri Kreatif Fakultas Vokasi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Inty Nahari, mengolah limbah daun nanas menjadi material tekstil ramah lingkungan.
Riset ini bermula dari tumpukan daun nanas di sentra pertanian yang selalu dibuang usai panen. Material tersebut ternyata menyimpan potensi besar bagi pengembangan industri kreatif.
Inty menamai karya tekstil berbasis serat alam tersebut dengan sebutan Barik. Bahan dasarnya diambil langsung dari serat daun nanas jenis madu asal lereng Gunung Kelud.
“Serat daun nanas Kelud ini sangat lokal, tetapi mampu menjawab isu lingkungan berkelanjutan dan persoalan limbah pertanian,” kata Inty, dikutip Minggu (26/7/2026).
Nama Barik diadaptasi dari bahasa Jawa yang bermakna garis. Istilah ini mewakili karakter visual karya yang tersusun dari bentangan garis serat alami daun nanas.
“Ketidakteraturan serat ini bukan kekurangan, melainkan rekaman alami dari lingkungan tempat tanaman itu tumbuh,” ujarnya.
Proses produksinya sengaja mempertahankan beragam tekstur dan ketebalan asli serat. Bahan mentah itu kemudian ditenun menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) dengan teknik kluwung.
“Pertemuan antara pola tenun teratur dan karakter alami serat ini menghasilkan permukaan tekstil unik yang sulit ditiru,” paparnya.
Hasil penelitian tekstil ini telah dipamerkan dalam ajang seni di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Bali. Karya tersebut bersanding dengan puluhan praktisi mancanegara.
Pengembangan serat alam ini membuka peluang kolaborasi dengan para perajin dan pemerintah daerah. Harapannya, inovasi ini berlanjut pada produksi barang mode hingga elemen interior. [ipl/aje]






