Ringkasan Berita:
- Warga empat desa di Kecamatan Selorejo, Kabupaten Blitar, menolak rencana penutupan akses Bendungan Lahor bagi mobil dan truk.
- Penutupan dinilai akan memperpanjang akses menuju Malang dan mengancam mata pencaharian sekitar 100 pedagang.
- Aspirasi penolakan telah disampaikan kepada Perum Jasa Tirta I dalam sosialisasi yang digelar pada 24 Juli 2026.
- Perum Jasa Tirta I masih menampung masukan warga sebelum menyampaikannya kepada jajaran manajemen.
Blitar (beritajatim.com) – Rencana penutupan akses Bendungan Lahor yang menghubungkan Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang bagi kendaraan roda empat mulai 1 Agustus 2026 mendapat penolakan dari warga empat desa di Kecamatan Selorejo, Kabupaten Blitar. Masyarakat meminta kebijakan tersebut ditinjau ulang karena dinilai akan berdampak besar terhadap mobilitas warga dan perekonomian di kawasan sekitar bendungan.
Penolakan disampaikan oleh warga Desa Ngreco, Desa Boro, Desa Olak Alen, dan Desa Selorejo. Keempat desa itu sepakat meminta agar rencana penutupan akses Bendungan Lahor tidak diberlakukan sesuai jadwal, atau setidaknya ditunda hingga ada solusi yang tidak merugikan masyarakat.
Camat Selorejo, Agung Nugroho Sutamat, membenarkan adanya penolakan tersebut setelah warga menyampaikan aspirasi dalam kegiatan sosialisasi yang digelar Perum Jasa Tirta I.
“Iya kemarin yang menolak itu ada dari 4 desa, intinya warga menolak dan meminta kebijakan itu ditinjau ulang,” ungkap Camat Selorejo, Kabupaten Blitar, Agung Nugroho Sutamat, Sabtu (25/7/2026).
Menurut Agung, masyarakat menilai penutupan akses Bendungan Lahor akan menyulitkan aktivitas sehari-hari karena jalur tersebut selama ini menjadi akses tercepat dari Blitar menuju Malang. Jika ditutup, warga harus memutar melalui jalur alternatif yang lebih jauh.
Selain persoalan akses, warga juga mengkhawatirkan dampak ekonomi yang akan timbul. Sedikitnya 100 pedagang yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas kendaraan di sekitar Bendungan Lahor diperkirakan akan kehilangan pelanggan apabila akses bagi mobil dan truk benar-benar ditutup.
“Kami sebagai masyarakat hanya berharap kebijakan itu ditinjau ulang, andaikan benar ditutup pun kami minta agar tidak besok Agustus ini,” tegasnya.
Pada Jumat (24/7/2026), Perum Jasa Tirta I menggelar sosialisasi kepada warga dari empat desa terkait rencana penutupan akses Bendungan Lahor. Dalam pertemuan tersebut, masyarakat menyampaikan berbagai keberatan sekaligus meminta agar kebijakan tersebut dikaji kembali.
Namun hingga kini, harapan warga agar akses Bendungan Lahor tetap dibuka bagi kendaraan roda empat belum dapat dipenuhi. Perwakilan Perum Jasa Tirta I yang hadir dalam sosialisasi hanya menerima seluruh aspirasi masyarakat untuk diteruskan kepada manajemen dan pimpinan perusahaan.
“Sementara Perum Jasa Tirta hanya menampung aspirasi masyarakat untuk di sampaikan ke manajemen dan pimpinan,” tandasnya.
Sesuai rencana, akses di atas Bendungan Lahor akan ditutup bagi kendaraan roda empat mulai 1 Agustus 2026. Meski bukan merupakan jalan umum, jalur tersebut selama ini menjadi salah satu akses vital yang menghubungkan Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang.
Berdasarkan data yang ada, sekitar 6.700 kendaraan melintasi Bendungan Lahor setiap hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 2.800 unit merupakan mobil. Tingginya volume lalu lintas menunjukkan jalur tersebut telah menjadi pilihan utama masyarakat karena mampu memangkas waktu tempuh dibandingkan jalur alternatif. [owi/beq]






