Sidoarjo (beritajatim.com) – Keberadaan kandang ayam petelur milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sarirogo, Kecamatan Sidoarjo, yang bersebelahan persis dengan bangunan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sarirogo, dikeluhkan warga.
Ada bau tak sedap setiap hari tercium hingga ke area sekolah dan dinilai mengganggu aktivitas belajar mengajar. Bau tersebut diduga kuat berasal dari kotoran ayam yang berada di sekitar kandang. Kondisi ini bahkan disebut membuat nafsu makan sejumlah siswa berkurang.
“Kandang ayam petelur itu sangat bau. Anak-anak sampai tidak berselera makan program Makan Bergizi Gratis (MBG) karena bau kotoran yang begitu menyengat,” ujar salah seorang wali murid sekolah setempat, Kamis (23/7/2026).
Tak hanya menimbulkan aroma tak sedap, keberadaan kandang tersebut juga dinilai memperparah krisis jumlah murid di SDN Sarirogo. Selain minimnya sarana dan prasarana (sarpras), seperti tidak adanya ruang guru, persoalan polusi udara tersebut disebut membuat sebagian orang tua enggan menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut dan memilih beralih ke sekolah swasta.
“Aroma baunya bisa tercium dari jarak 30 meter. Kalau tertiup angin, baunya makin menyebar ke mana-mana. Setiap tahun sekolah selalu kekurangan murid karena terganggu bau kotoran ayam,” ungkapnya.
Berdasarkan keterangan pengelola, peternakan tersebut mulai beroperasi sejak Januari 2026 dengan populasi sekitar 420 ekor ayam. Dari jumlah tersebut, produksi telur rata-rata mencapai 350 butir per hari.
Kepala Desa Sarirogo, Yunan Faruk Effendi, menjelaskan bahwa penetapan lokasi kandang dilakukan saat desa dipimpin oleh Penjabat (Pj) Kepala Desa dari pihak Kecamatan Sidoarjo.
Yunan menyebut, saat penetapan lokasi, Pj Kades, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), pengurus BUMDes, hingga Kepala SDN Sarirogo turut melakukan survei dan menyetujui lokasi kandang yang berada di dekat sekolah.
“Saat itu ada dua pilihan lokasi, dan yang disetujui bersama justru yang dekat sekolah. Memang diakui keberadaan kandang ini sangat mengganggu proses belajar mengajar,” aku Yunan.
Yunan menambahkan, kesepakatan tersebut dipicu adanya janji pembinaan dari pihak Telkom. Pihak pembina mengarahkan pembelian alat khusus pengolah ternak yang diklaim mampu meredam bau kotoran ayam. Namun, karena harga alat tersebut sangat mahal dan melampaui anggaran desa, program tersebut akhirnya macet.
Pihak BUMDes sempat diarahkan mengajukan proposal bantuan kepada dinas terkait. Namun, hingga kini bantuan tersebut belum terealisasi.
Menurut Yunan, usaha peternakan tersebut juga belum memberikan keuntungan bagi warga. Proyek peternakan BUMDes itu justru dinilai membebani keuangan Desa Sarirogo karena tingginya biaya operasional tidak sebanding dengan harga jual telur di pasaran.
“Satu sak pakan 50 kilogram habis dalam sehari dengan biaya sekitar Rp500 ribu. Sementara harga telur sempat anjlok ke Rp20 ribu per kilogram dan kini hanya Rp24 ribu per kilogram. Hasil penjualan tidak mampu menutup biaya produksi, bahkan pengelola BUMDes saat ini bekerja tanpa gaji,” ungkap Yunan.
Atas kondisi yang dinilai merugikan, baik dari sisi lingkungan sekolah maupun finansial desa, warga mendesak agar kandang ayam tersebut segera direlokasi ke lokasi yang jauh dari permukiman dan fasilitas pendidikan. (isa/but)






