Malang (beritajatim.com) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dipercaya menjadi tuan rumah Forum Penguatan Humas Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di lingkungan LLDIKTI Wilayah VII.
Agenda ini mengusung tema “Strategi Kehumasan untuk Mewujudkan Diktisaintek Berdampak” ini digelar di Ruang Sidang Senat (RSS) Kampus Putih UMM pada Rabu (22/7/2026).
Kepala LLDIKTI Wilayah VII, Prof. Dr. Dyah Sawitri, S.E., M.M., memberikan apresiasi tinggi terhadap ekosistem akademik UMM yang dinilai sangat mendukung terwujudnya ruang kolaborasi antarkampus tersebut. Menurutnya, peran humas sangat vital sebagai motor pemasaran institusi yang wajib ditopang oleh keahlian public relations mumpuni.
”Seluruh PTS di lingkungan LLDIKTI Wilayah VII harus senantiasa solid dan tangguh. Jadikan setiap dinamika perubahan zaman sebagai kekuatan untuk membentuk tata kelola kehumasan yang produktif, sehingga mampu menjadi agen perubahan yang memberikan nilai tambah nyata bagi masyarakat luas,” ujar Prof Dyah.
Sementara itu, Kepala Bagian Hubungan Masyarakat dan Protokol Kemdiktisaintek, Doddy Zulkifli Indra Atmaja, S.I.Kom., M.Si., menyoroti pentingnya pergeseran paradigma komunikasi publik perguruan tinggi. Ia menekankan agar institusi pendidikan mulai meninggalkan pola publikasi yang sekadar menampilkan kegiatan seremonial.
Doddy menyebutkan, fokus utama humas saat ini adalah menghadirkan narasi berbasis penceritaan (storytelling) yang menonjolkan manfaat nyata suatu program bagi khalayak melalui komunikasi dua arah yang interaktif.
”Humas di era modern tidak lagi dituntut sekadar menghasilkan tumpukan rilis publikasi sebanyak-banyaknya. Hal paling mendasar adalah memastikan pesan tersebut dapat dipahami, mampu mengubah persepsi, serta benar-benar melahirkan kepercayaan publik yang berdampak,” jelas Doddy.
Kepala Humas UMM Periode 2022–2025, Dr. M. Isnaini, M.Pd. Ia menegaskan bahwa kunci keberhasilan komunikasi eksternal berawal dari iklim kerja internal yang sehat. Pimpinan humas dituntut mahir merangkul tim lintas generasi demi menyerap ide-ide kreatif media sosial sekaligus tanggap dalam manajemen krisis.
”Humas Kampus Putih merupakan benteng sekaligus garda terdepan institusi. Karena itu, hadirkanlah suasana kerja yang suportif dan humanis agar pesan yang tersiar ke ruang publik tetap menyejukkan, terkendali, serta relevan dengan perkembangan zaman,” terangnya.
Pada kesempatan yang sama, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., menyampaikan refleksi mendalam mengenai hakikat komunikasi publik perguruan tinggi.
Ia menilai, ketidakselarasan frekuensi komunikasi sering kali menjadi akar munculnya kesalahpahaman informasi di tengah masyarakat. Oleh sebab itu, penguatan etika kehumasan menjadi modal utama kampus untuk menyampaikan keunggulannya secara elegan.
Sinergi yang terbangun dalam forum ini diharapkan tidak berhenti pada tataran diskusi seremonial, melainkan terwujud dalam budaya kerja harian para praktisi humas dalam merawat reputasi serta memberikan kontribusi nyata bagi dunia pendidikan nasional.
”Menyampaikan sebuah kebenaran maupun keunggulan perguruan tinggi wajib disertai dengan strategi komunikasi dan etika yang tepat. Dengan begitu, pesan kebaikan tersebut tidak terasa pahit dan dapat diterima secara utuh oleh masyarakat,” pungkas Prof Nazaruddin. (dan/ted)






