Pacitan (beritajatim.com) – Gelar peralatan kebencanaan yang digelar BPBD Provinsi Jawa Timur di Pantai Pancer Door, Kabupaten Pacitan, diawali dengan aksi pelestarian lingkungan berupa pelepasan 500 ekor tukik (anak penyu) dan seekor penyu dewasa ke laut, Selasa (21/7/2026)
Pelepasan dilakukan bersama ratusan personel BPBD dari seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur serta jajaran pejabat kebencanaan. Mereka berbaris di sepanjang bibir pantai untuk bersama-sama melepas tukik menuju laut.
Pengelola Komunitas Sahabat Penyu Pacitan, Cuboh Hambers, mengatakan 500 tukik yang dilepas merupakan anak penyu hasil penetasan yang telah siap kembali ke habitatnya. Selain itu, satu ekor penyu dewasa yang sebelumnya menjalani proses perawatan juga dilepas karena kondisinya telah pulih.
“Hari ini kami bersama BPBD Jawa Timur melepaskan sekitar 500 ekor tukik. Kami juga melepas satu indukan penyu yang sebelumnya kami rawat dan sudah sembuh, sehingga sudah siap kembali ke laut,” ujar Cuboh Hambers.
Cuboh menjelaskan, pelepasan tukik sengaja dilakukan dari atas pasir, bukan langsung ke air. Cara tersebut merupakan bagian dari proses alami yang penting bagi kelangsungan hidup penyu.
Menurutnya, perjalanan tukik di atas pasir membantu membentuk memori magnetik bumi yang diyakini akan menjadi penanda bagi penyu untuk kembali bertelur di lokasi yang sama ketika dewasa. Selain itu, merayap di pasir juga berfungsi melatih kekuatan sirip sebelum menghadapi arus laut.
“Secara alami tukik memang harus berjalan di pasir sebelum masuk ke laut. Selain untuk merekam magnet bumi agar suatu saat bisa kembali ke pantai ini, perjalanan itu juga melatih siripnya agar lebih kuat mengarungi samudera,” jelasnya.
Cuboh menilai kegiatan tersebut sangat relevan dengan upaya mitigasi bencana di wilayah pesisir seperti Pacitan. Menurutnya, bencana tidak hanya berupa banjir, longsor, gempa bumi, atau tsunami, tetapi juga mencakup bencana ekologis.
“Kalau kita bicara kebencanaan, bukan hanya banjir, gempa atau tsunami. Punahnya penyu juga merupakan bencana ekologis karena menunjukkan adanya kerusakan ekosistem. Jadi menjaga kelestarian penyu sama pentingnya dengan upaya mitigasi bencana lainnya,” katanya.
Kabupaten Pacitan dikenal sebagai daerah yang memiliki potensi bencana cukup beragam, mulai dari banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan, gempa bumi, hingga tsunami. Karena itu, upaya menjaga keseimbangan ekosistem pesisir dinilai menjadi bagian penting dalam pengurangan risiko bencana secara berkelanjutan. (tri/aje)






