Jude Bellingham mendadak menampar bagian belakang kepala pemain pengganti Argentina, Valentin Barco, dan keributan kecil pun pecah. Tidak jelas mengapa Bellingham mendadak naik darah. Kemungkinan karena aksi Barco yang merayakan gol penyeimbang Enzo Fernandez pada menit ke-85 di hadapan para pemain Inggris.
Emosi Bellingham merefleksikan tingginya tensi pertandingan semifinal Piala Dunia antara Inggris dan Argentina, di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta, Amerika Serikat, 16 Juli 2026 dini hari WIB. Statistik mencatat 26 kali pelanggaran yang memaksa wasit mengeluarkan satu kartu kuning untuk Inggris dan tiga lainnya untuk Argentina.
Sejumlah keputusan Ismail Elfath, wasit asal Amerika Serikat keturunan Maroko, meningkatkan suhu pertandingan. Tidak adanya kartu kuning untuk gelandang Argentina Enzo Fernandez yang menekel keras Elliot Anderson dan dibiarkannya pelanggaran oleh Lionel Messi terhadap Djed Spence dalam proses serangan yang berujung gol sundulan Lautaro Martinez, membuat perdebatan meletup usai pertandingan.
Fans Inggris ramai-ramai menuduh wasit condong kepada Argentina, terlebih sejak awal turnamen gejala favoritisme Presiden FIFA Gianni Infantino kepada Messi dan Argentina terlihat terang-benderang. Ditambah pernyataan jurnalis Prancis Romain Molina yang mengklaim FIFA menginginkan Argentina masuk final.
Piers Morgan, jurnalis Inggris, menuduh wasit terlalu lunak terhadap pelanggaran yang dilakukan pemain Argentina. Sebaliknya pelatih Argentina Lionel Scaloni memprotes pelanggaran keras kepada Messi yang dibiarkan tanpa hukuman.
Pertandingan berakhir 2-1 untuk kemenangan Argentina yang dirayakan Lionel Messi dan kawan-kawan dengan mengibarkan spanduk putih bertuliskan: Las Malvinas son Argentinas’. Malvinas milik Argentina. Sesuatu yang mengingatkan orang pada perseteruan kedua negara memperebutkan Pulau Malvinas atau Falkland.
***
Prasangka dan teori konspirasi senantiasa melekat dalam relasi sepak bola bangsa Inggris dan Argentina, tumpang tindih dengan rasa hormat dan apresiasi. Sepak bola hidup berdampingan dengan realitas sosial politik dan menghadirkan rivalitas kedua bangsa.
Namun sesungguhnya bangsa Inggrislah yang mengajarkan sepak bola kepada orang-orang Argentina. Diawali para pelaut Inggris yang beradu tendang bola di kawasan pelabuhan Buenos Aires pada 1840, sepak bola tumbuh bersama perkembangan sektor perbankan, pembangunan jalur kereta api, serta perdagangan kulit, wol, dan daging.
Awalnya, sepak bola hanya dimainkan komunitas Inggris, terutama di sekolah-sekolah, untuk membentuk disiplin, kekuatan fisik, dan daya tahan. English High School yang didirikan Alexander Watson Hutton pada 1884 menjadikan sepak bola kurikulum utama, dan dimainkan anak-anak elite Argentina yang bersekolah di sana.
Kedatangan pekerja kereta api dari Inggris memperluas penyebaran sepak bola di Amerika Selatan. Ulang tahun Ratu Victoria pada 1888 dirayakan dengan menggelar pertandingan antara komunitas Inggris di Buenos Aires dan Montevideo Uruguay.
Liga sepak bola pertama di Argentina bernama Argentine Association Football League digelar pada 1891, diikuti lima klub bentukan ekspatriat Inggris, dan menjadi cikal bakal kompetisi sepak bola Argentina. Salah satu klub bernama Club Atlético English High School yang kemudian berganti nama menjadi Alumni didirikan Hutton dan didukung oleh warga Argentina.
Dominasi Inggris dalam sepak bola Argentina mulai berkurang seiring dengan gelombang imigrasi dari Italia, Spanyol, Polandia, Rusia, Jerman, Britania, dan Timur Tengah. Pertumbuhan kota-kota di Argentina mendorong berkembangnya ratusan klub sepak bola yang mewakili lingkungan atau barrios.
Gimnasia y Esgrima. River Plate. Boca Juniors. Racing Club. Independiente. San Lorenzo. Klub-klub ini lahir terutama karena klub milik komunitas Inggris tidak menerima penduduk lokal sebagai anggota. Namun sebagian klub yang didirikan warga Argentina itu memilih tetap menggunakan bahasa Inggris sebagai bentuk penghormatan kepada mereka yang datang dari negeri seberang lautan untuk memperkenalkan sepak bola.
Sebut saja Rosario Central yang didirikan para pekerja kereta api, atau Independiente yang didirikan oleh para buruh yang ingin memiliki klub sendiri terpisah dari manajemen Inggris. Boca Juniors mengenakan kostum biru-kuning, sesuai warna bendera kapal pertama asal Swedia yang berlabuh di pelabuhan Buenos Aires.
Meningkatnya jumlah klub ini diikuti penambahan jumlah pertandingan dan penonton setiap musim. Ini membuat klub-klub sepak bola dari Inggris tertarik datang. Southampton menjadi tim Inggris pertama yang datang pada 1904 dan memenangi seluruh pertandingan persahabatan. Nottingham Forest menyusul setahun kemudian dan menjadi inspirasi jersey warna merah klub Independiente.
Kunjungan klub-klub Inggris melahirkan istilah ‘masters and pupils’. Inggris dianggap guru yang mengajarkan sepak bola kepada murid-muridnya di Argentina. Namun bibit-bibit perselisihan antara Inggris dan Argentina mulai muncul, seiring dengan lawatan klub-klub Inggris.
Pemain Argentina, sebagaimana umumnya pemain Amerika Selatan, memiliki karakter yang berbeda dengan pemain Inggris. Mereka suka menggiring bola dan memainkan umpan-umpan pendek di atas lapangan yang keras, serta memiliki sejumlah trik dan teknik lihai untuk mengelabui pemain lawan.
Sementara pemain Inggris lebih suka mengandalkan kekuatan fisik dengan memainkan operan-operan lambung langsung menuju ke arah gawang lawan. Sesuatu yang tidak disukai penonton Argentina, terutama saat pemain Inggris melakukan kontak fisik dengan menggunakan bahu terhadap pemain Argentina.
Klub-klub Inggris mengakhiri kebiasaan menggelar tur ke Argentina setelah kerusuhan terjadi
saat Chelsea bertanding melawan tim Buenos Aires pada 1929. Marah terhadap keputusan wasit, pendukung Argentina merusak kendaraan tim Chelsea.
***
Buruknya perlakuan suporter Argentina terhadap sejumlah klub Inggris saat tur ke Amerika Selatan, tidak lantas membuat La Albiceleste mengalami hal serupa saat melawat ke Inggris pada 1951.
Tim Argentina dijamu dengan baik dan mendapat kesempatan mengunjungi Buckingham Palace. Presiden Juan Perón dan Eva Perón menekankan bahwa persahabatan antara rakyat Inggris dan Argentina lebih penting daripada hasil pertandingan.
Tim nasional Argentina menjadi tim asal Amerika Selatan pertama yang tampil di Stadion Wembley. Media-media di Argentina menyebutnya ‘Pertandingan Abad Ini’, karena selama puluhan tahun mereka menunggu kesempatan menghadapi bangsa yang memperkenalkan sepak bola.
Optimisme melambung. Publik Argentina yakin timnas mereka bisa menandingi Inggris. Berbeda dengan Inggris yang mengandalkan pergerakan bola, disiplin menjaga lawan, dan tekel yang kuat, tim Argentina lebih bertumpu pada keterampilan individu dan penguasaan bola.
Sayang Alfredo Di Stéfano, yang kelak menjadi bintang Real Madrid, tidak bisa diturunkan karena bermain di liga Kolombia yang berada di luar yurisdiksi FIFA.
Namun tak bisa diingkari, performa tim Argentina telah memesona publik Inggris. Agenda latihan mereka di markas Arsenal pun menarik perhatian media massa yang terkesan dengan gaya bermain umpan-umpan pendek dan dribel pemain Argentina yang jauh berbeda dengan Inggris.
Dalam pertandingan yang berlangsung pada 9 Mei 1951, Inggris menang tipis 2-1. Setelah pertandingan, kedua tim menghadiri jamuan resmi dan kedua federasi dan sepakat mengadakan pertandingan balasan di Buenos Aires pada 1953.
Dua tahun kemudian, giliran ribuan orang di Buenos Aires menyambut kedatangan tim Inggris yang menamakan diri Football Association XI. Media massa di Argentina memperlakukan Three Lions penuh kekaguman, dengan menggunakan narasi ‘guru dan murid’ dalam pemberitaan dan menyajikan informasi rinci mengenai tinggi badan, berat badan, hingga perjalanan karier para pemain Inggris.
Hari itu seluruh persoalan politik, termasuk urusan perebutan Pulau Malvinas, dikesampingkan. Pemain-pemain Inggris diperlakukan bak raja: dipersilakan menghadiri pertunjukan teater, balap kuda, dan menjadi tamu kehormatan Presiden Peron di Istana Pemerintahan. Mereka meletakkan karangan bunga di makam Eva Peron dan setiap pemain menerima buku autobiografi The Reason For My Life.
Tim Argentina yang dinamakan Buenos Aires XI mengalahkan Inggris 3-1 dalam pertandingan yang digelar di Monumental Stadium, 14 Mei 1953, itu. Kemenangan bersejarah itu kemudian diabadikan Presiden Peron dengan menetapkan 14 Mei sebagai Hari Pesepakbola.
Tiga hari kemudian pertandingan kembali digelar di tempat yang sama. Namun pertandingan terpaksa dihentikan pada menit ke-22 karena hujan lebat. Federasi Sepak Bola Argentina menawarkan penjadwalan ulang. Namun Inggris menolak karena khawatir mengganggu persiapan menghadapi laga berikutnya.
Relasi kedua tim memanas pada Piala Dunia 1966. Awalnya semua berjalan normal. Delegasi Argentina bahkan sempat menyerahkan kue marzipan berbentuk lapangan sepak bola kepada anak-anak penyandang disabilitas di sebuah rumah sakit di Wolverhampton sebagai simbol misi persahabatan. Mereka juga mendapat tempat berlatih di Markas Kepolisian Birmingham.
Namun situasi di lapangan hijau berbeda. Argentina merasa diperlakukan tidak adil setelah Rafael Albrecht dikeluarkan dari lapangan karena melakukan pelanggaran saat melawan Jerman Barat dalam fase grup, sementara pelanggaran serupa yang menimpanya justru diabaikan wasit.
Syak wasangka dan kasak-kusuk mulai terbit saat FIFA menegur cara main Argentina yang dianggap tidak sportif. Pelatih Juan Carlos Lorenzo mempertanyakan alasan Argentina terus dijadikan sasaran kritik, kendati statistik menunjukkan jumlah pelanggaran Argentina saat pertandingan fase grup lebih sedikit dibandingkan Inggris.
Menjelang pertandingan perempat final melawan Inggris, mereka dilarang berlatih di Stadion Wembley dengan alasan bakal mengganggu jadwal balap anjing. Para pemain Argentina pun semakin yakin bahwa sedang diperlakukan tidak adil dan menjadi sasaran prasangka.
Kecurigaan itu semakin besar setelah FIFA menunjuk wasit Jerman Rudolf Kreitlein untuk memimpin pertandingan perempat final melawan Inggris, sementara pertandingan Jerman Barat melawan Uruguay dipimpin wasit asal Inggris. Stanley Rous, Presiden FIFA asal Inggris saat itu, dianggap sedang memuluskan upaya negerinya menjadi juara dunia untuk kali pertama.
Dalam situasi tersebut, Presiden Asosiasi Sepak Bola Argentina Valentín Suárez meminta para pemain tetap tenang dan menerima hasil apapun dengan bermartabat. Dia memberi tahu Rattin bahwa sebagai kapten berhak meminta penerjemah bila mengalami kesulitan berkomunikasi dengan wasit.
Pertandingan berjalan keras dan tensi tinggi. Sejumlah pemain Inggris mengaku diludahi, ditendang, dan jadi sasaran provokasi lain yang tidak terlihat wasit. Sementara pemain Argentina menuduh wasit berpihak kepada Inggris.
Kecurigaan Argentina tentang adanya skenario pemenangan Inggris ini diperkuat dengan diusirnya Antonio Rattin pada menit 35, setelah mendatangi wasit sambil menunjuk ban kaptennya. Jonathan Wilson dalam buku Angels with Dirty Faces menyebut alasan pengusiran itu tidak pernah benar-benar jelas.
Belakangan terungkap, bahwa Rattin hanya berusaha meminta penerjemah agar dapat berbicara dengan wasit. Sementara Kreitlein justru menganggap sikap itu sebagai bentuk protes sehingga memerintahkannya meninggalkan lapangan.
Merasa tidak bersalah, Rattin menolak keluar lapangan. Para pemain Argentina mengerumuni wasit. Pelatih dan ofisial memasuki lapangan. Polisi ikut turun tangan. Pertandingan terhenti selama kurang lebih sebelas menit. Setelah berdiskusi dengan pelatih dan ofisial selama beberapa menit, Rattin akhirnya meninggalkan lapangan.
Namun entah mengapa mendadak Rattin memutar bendera di sudut lapangan dan duduk di karpet merah di depan tribun kehormatan sebelum pergi. Suporter Inggris pun melemparinya dengan buah dan cokelat saat sedang berjalan menuju ruang ganti.
FIFA kemudian menjatuhkan hukuman berat kepada Argentina. Rattin diskors empat pertandingan, Ferreiro diskorsing tiga pertandingan, Onega disanksi tiga pertandingan karena meludahi seorang ofisial FIFA. Federasi Sepak Bola Argentina AFA didenda, dan Argentina terancam tidak diizinkan mengikuti Piala Dunia 1970 apabila tidak menjamin perilaku para pemain dan ofisialnya.
Federasi-federasi sepak bola Amerika Selatan kompak menolak keputusan tersebut, dan menggelar pertemuan khusus untuk membahas sejumlah masalah yang mereka alami selama Piala Dunia.
Namun relasi Inggris dan Argentina ambrol sebenarnya bukan karena hasil pertandingan yang dimenangi tuan rumah melalui gol tunggal Geoff Hurst, melainkan Alf Ramsey. Dia memantik api konflik dengan melarang pemain Inggris bertukar kaus dengan pemain Argentina, dan menyebut lawannya bermain seperti “binatang” dalam wawancara dengan stasiun televisi.
‘Animals’ menjadi judul utama surat kabar Inggris yang mengecam permainan Argentina. Sementara media massa di Argentina menyebut kemenangan Inggris tidak adil, dan menuduh adanya konspirasi FIFA dan dominasi wasit Eropa yang sengaja menguntungkan Inggris serta Jerman Barat.
Rattin meyakini bahwa Piala Dunia 1966 telah diatur agar menguntungkan tuan rumah. Menurutnya, pada masa sebelum hak siar televisi menjadi sumber utama pendapatan, keberhasilan negara penyelenggara sangat penting untuk memastikan stadion tetap penuh dan turnamen menghasilkan keuntungan.
Jonathan Wilson menyebut ucapan Ramsey telah memperburuk hubungan kedua negara dan menjadi sumber permusuhan yang bertahan lama. Ramsey sendiri akhirnya meminta maaf setelah FIFA memerintahkan. Namun ucapannya dianggap tidak sepenuhnya mencerminkan penyesalan.
Minggu, 12 Juni 1977, lawatan timnas Inggris ke Argentina untuk beruji coba di Stadion La Bombonera, Buenos Aires, disambut dengan spanduk bertuliskan “You Animals” dan “Go Home English”. Tidak ada lagi penghormatan untuk sang guru.
Suasana permusuhan di mana-mana. Penjaga gawang Ray Clemence ingat betul bagaimana pertandingan dijaga tentara bersenjata lengkap dan anjing pelacak. Sesuatu yang membuat pertandingan itu lebih menyerupai operasi militer.
Sorakan dan siulan penonton menenggelamkan pembacaan nama-nama pemain Inggris dan lagu God Save The Queen. Mereka juga meneriakkan “Animales” dan “Piratas”, serta membentangkan spanduk bertuliskan “Las Malvinas Son Argentinas”, yang merujuk pada Kepulauan Malvinas atau Falkland.
Menjelang akhir pertandingan, pemain Argentina Daniel Bertoni mengirimkan bogem ke wajah Trevor Cherry yang menekelnya dari belakang. Dua gigi bek yang memperkuat Leeds United itu pun rontok. Wasit asal Uruguay mengusir keduanya dari lapangan dan pertandingan berlanjut hingga selesai dengan skor 1-1.
Setahun kemudian Argentina menjadi juara dunia di kandang sendiri untuk kali pertama. Sementara Inggris absen karena disisihkan Italia dalam babak kualifikasi grup Zona Eropa.
Dan bertahun-tahun kemudian Daniel Bertoni mengungkapkan penyesalannya telah memukul Cherry. Dia sudah mendapatkan sanksi tambahan larangan bermain dalam empat pertandingan. Namun api rivalitas antara Argentina dan Inggris tak akan pernah padam. [wir/ian]






